Memalukan? Ya, bahkan sangat memalukan bagi saya. Mereka begitu tekun bergelut
dengan bidang mereka, belajar setiap hari, bahkan tak tanggung-tanggung ada yang
jadi ‘penjaga lab’. Ketekunan inilah yang menampar muka, meninju perut, hingga babak
belur dan malu luar biasa.
Motivasi berwujud malu ini kemudian menggiring saya untuk menjadi seorang ‘nerd’,
dan study oriented. Menjauh dari segala kegiatan yang berpotensi merusak IPK, atau
mengancam kelulusan. Apalagi saya belajar di fakultas yang tidak mudah dan dikenal
‘kering’, FMIPA. Semua serba dasar, dan perlu penguasaan teori yang lebih.
Sayangnya, justru setelah semua kegiatan itu ditinggalkan, saya baru menyadari kesalahan saya yang ternyata fatal. Kesuksesan tidak selalu datang dari ilmu yang
dipelajari di kelas, dari kredit mata kuliah yang dikejar selama empat tahun.
Adalah pemenang Yahoo Open Hack Day, Kristiono Setyadi. Di ajang paling bergengsi di kalangan hacker ini, ia memenangkan dua kategori sekaligus: Best Hacker Choice dan Best Overall Hack. Pria berkacamata ini membuat aplikasi yang dinamakan Chat Plus, fitur instant messaging layaknya Yahoo Messenger.
Peta, gambar dan penjelasan tentang apa yang dibicarakan dalam satu aplikasi sehingga tak perlu berpindah ke aplikasi lainnya. Ia juga dikenal sebagai \’dedengkot\’ Bancakan 2.0. Bancakan 2.0 adalah komunitas startup dan developer IT di Jogja. Dia menghimpun geek Jogja dan membuat ‘bancakan’ (semacam acara syukuran) dengan mengundang tokoh IT Indonesia seperti Adi Darwis dari Kaskus dan Kristupa dari Fotografer.net.
Begitu lincahnya dia di dunia IT membuat saya sempat mengira dia pasti lulusan Teknik Komputer sebuah perguruan tinggi besar dengan IPK yang luar biasa. Apalagi saya mengenalnya dari WordCamp Indonesia, di mana web developer dan designer berbasis WordPress campur baur jadi satu di sana. Namun, dugaan saya meleset. Ternyata Kristiono Setyadi merupakan sarjana Matematika UGM. Ya, dia seorang penggiat dari MIPA. Ilmu matematikanya ia manfaatkan di dunia IT.
Selain Kristiono Setyadi, ada juga seorang entertainer yang pernah terdaftar sebagai
arek ITS. Mandala Abadi Shoji. Pria yang sedang promo single terbarunya ini memang
lebih dikenal sebagai presenter reality show, Termehek-Mehek. Namun, dasar yang ia
miliki sama sekali tak ada hubungannya dengan dunia hiburan. Ia pernah belajar tentang konstruksi bangunan di D3 Teknik Sipil ITS. Setelah pindah ke Jakarta, ia tetap mempelajari ilmu bangunan itu melalui jalur ekstensi Universitas Indonesia, tepatnya di bidang properti.
Tak puas dengan ilmu yang didapat, Mandala mempelajari Akuntansi di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Bahkan rencananya ia akan melanjutkan kuliah bisnis untuk mewujudkan cita-citanya. Ketika ditanya keputusannya \’nyebrang\’ jurusan, dia hanya tertawa kecil. "Aku tuh pengen jadi pengusaha. Karena basic aku teknik sipil, jadi aku usaha properti," katanya.
Saat ini Mandala memang tengah merintis usaha properti. Ia memiliki sebuah komplek hunian Mandala Residence di bilangan Jati Asih, Bekasi. Di situlah ia mengembangkan ilmu teknik sipil dan akuntansinya.
Masih banyak lagi orang-orang yang sukses karena berani ‘menyebrang’, mempelajari
bidang lain di luar ilmu yang ia geluti di balik dinding kampus. Masih dari ITS bahkan angkatan 1965. Dia satu-satunya orang Indonesia yang dicantumkan The Chartered Institute of Marketing di Inggris dalam 50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing. Ia juga pendiri konsultan bisnis dan marketing nomer wahid di Indonesia. Dialah Hermawan Kertajaya.
Di luar sana masih ada Ada Tung Dasem Waringin, sarjana hukum yang bekerja di BCA dan kini dikenal sebagai motivator. Atau Kurnia Effendi, ‘montir’ yang sukses jadi penulis cerpen dan novel. Ada juga dokter yang sering ‘masuk tivi’ seperti Lula
Kamal, Tompi, Nicta Gina ‘Jeng Kelin’, juga Taufik Ismail.
Dari mereka lah kemudian saya berpikir, ilmu yang kita pelajari di kampus adalah
ibarat sebilah pisau dapur. Tanpa sayur, atau buah-buahan, dia bukan apa-apa dan
tidak berguna. Menekuni ilmu di kampus itu perlu, namun bukan berarti dunia luar tak
menggiurkan untuk dipelajari. Seperti kata Barbara Tuchman yang dikutip Isa Alamsyah
di bukunya No Excuse! , “Learning from experience is a faculty almost never
practiced,â€. Belajar dari pengalaman adalah fakultas yang banyak diabaikan. Jadi,
jangan pernah ragu menjajaki setiap peluang di luar dinding kampus dan tetap belajar
dari mana pun datangnya ilmu itu.
Tika Widyaningtyas
Mahasiswi Jurusan Statistika, FMIPA.
http://tikawe.wordpress.com