Esensi Perayaan Pergantian Tahun Baru

Published on
By

Kala itu aku berfikir sejenak, hinggap berbagai pertanyaan. Sebenarnya apa yang dirayakan? Apa karena jatah umur yang semakin berkurang dan mendekati jelang kematian? Apa karena adanya kesempatan telah melewati kehidupan setahun terakhir? Ataukah alasan kegembiraan karena kesuksesan yang diraih sampai detik akhir tahun?

Seketika itu, muncul beberapa wajah teman yang sebelumnya atau beberapa hari terakhir terkena musibah bencana. Sobat kampus, kos, organisasi, dan lainnya (dari Ngawi, Ponorogo, Blitar, Jogja), tergelitik rasa ingin tahu tentang kabar mereka�. Apa mereka sekarang baik-baik saja�, tanyaku. Tersigap dalam realita, suara iring-iringan motor semakin terdengar keras di telingaku. Serentetan bunyi terompet pun seakan berlalu-lalang di sampingku.

Teman, apa sebenarnya yang dirayakan?. Sementara saudara kita di sana masih banyak yang mengungsi, masih banyak yang menderita. Patutkah kita bersenang-senang?. Bukannya malam pergantian tahun, hendaknya kita manfaatkan sebagai sarana evaluasi diri?

Dari ‘sarapan’ berita pagi, liputan langsung sebuah TV swasta, dikatakan bahwa dunia memang merayakan pergantian tahun ini. Tak luput kota Jakarta, Surabaya bahkan Bandung walaupun saat itu terjadi hujan deras. Semua sama! Adanya hura-hura, mabuk-mabukan, petasan kembang api, suara terompet, kemacetan, dan arak-arak keliling kota.

Namun, aku salut dengan yang dilakukan salah satu pemerintah propinsi (pemprov)-terlepas dari strategi politiknya-dimana malam pergantian tahun justru diisi dengan doa, dzikir dan evaluasi. Setelah itu, petingginya mengunjungi rumah sakit untuk menjenguk korban bencana. Semoga follow up kemudian benar-benar dilakukan.

Awal tahun, selepas shubuh, aku pun segera melaju ke kota Pahlawan. Jalanan A Yani yang biasanya macet, sekarang amat legang. Terdengar pertanyaan seorang bocah kepada ayahnya, ketika berhenti di perempatan. "Mana polisinya". "Sekarang masih tidur habis begadang jaga tadi malam," jawab pengendara itu kepada anaknya.

Aku pun bertekad: tetap berjuang menjadi lebih baik! Membawa segenggam asa,
sejuta cita, setumpuk harapan. Tahun ini harus lebih baik dari tahun
kemarin!
***

*Penulis bernama Thina Ardliana. Saat ini tercatat sebagai Redaktur ITS Online. Segala kritik, saran dan tanggapan dapat dikirim di thina@matematika.its.ac.id.
"Hidup adalah Rintangan yang harus dihadapi, Perjuangan yang harus dimenangkan, Rahasia yang harus digali dan Anugrah yang harus dipergunakan," tekadnya.

×