Enam puluh satu tahun silam, tepatnya tanggal 10 November 1945, Surabaya menjadi saksi perjuangan bela-pati arek-arek Suroboyo mempertahankan NKRI. Tak hanya melibatkan TKR dan pejuang dari Surabaya, pertempuran yang dikenal dengan Surabaya 45 itu juga diikuti oleh para pejuang dari bebeberapa daerah lain di Jawa Timur. Seperti dari Jombang, Lamongan, Pasuruan, dan kota-kota lainnya. Sungguh suatu pengorbanan yang luar biasa untuk mempertahankan nama besar bangsa ini di mata dunia.
Tak tanggung-tanggung, gempuran pasukan sekutu di Surabaya dilakukan dari berbagai arah, baik dari darat, laut, maupun udara. Bahkan pejuang-pejuang kita tak memiliki bekal yang memadai dalam berjuang. Tak terbayangkan, bagaimana perjuangan para pahlawan kita tercinta menghadapi serangan yang sedemikian hebat itu. Hanya teriakan "ALLAH AKBAR" yang dikumandangkan Bung Tomo yang menjadi bekal kokoh para pejuang kita menuju medan laga. Bekal semangat jihad seperti yang selalu dikumandangkan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib saat melaju ke medan laga. Sungguh suatu semangat yang luar biasa untuk mempertahankan harga diri dan kedaulatan bangsa Indonesia tercinta.
Waktu terus berlalu, zaman pun telah berubah. Mode-mode juga berubah, berbagai budaya dan gaya hidup kita saat ini juga telah banyak mengadopsi dari negara lain, terutama yang kita kenal sebagai negara-negara federal yang notabene pernah dicap sebagai negara penjajah. Menurut saya ini bukanlah sesuatu yang harus disesalkan, karena ini adalah bagian dari konsekuensi kemajuan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita dapat menyikapi setiap persoalan dengan arif sehingga dapat mengambil sisi positifnya. Dari diri sendiri, semoga kita dapat memberikan teladan dan manfaat bagi orang lain.
PEMERINTAH KURANG ARIF
Rencananya, tanggal 20 November mendatang Presiden Amerika Serikat, George W Bush, akan "mampir" di negeri tercinta ini. Orang yang mendapat predikat penjahat perang dari beberapa pihak ini rencananya akan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama 6 jam untuk membicarakan berbagai persoalan. Tak seperti penyambutan-penyambutan presiden negara lain, seakan-akan pemerintah Indonesia menundukkan kepala, minder bertemu dengan Bush. Berdalih meminta keamanan yang ketat, pemerintah meng-iya-kan berbagai permintaan Bush untuk "menyambut" kedatangan dirinya. Tak tanggung-tanggung, kemegahan istana negara juga harus tergoyahkan untuk menyambut kedatangan Bush. Istana negara sebagai salah satu simbol kemegahan negeri ini, harus dirombak untuk menyiapkan landasan khusus untuk Black Hawk.
Bahkan untuk kedatangan Presiden AS ini, pemerintah ini Indonesia harus merogoh kocek negara (yang notabene adalah uang rakyat) sebesar Rp 6 miliar (www.hidayatullah.com). Di tengah bingungnya rakyat mencari makan, serta pilu hati rakyat yang menderita karena tertimpa bencana, pemerintah dengan senang hati mengeluarkan Rp 6 miliar untuk menyambut tamu negara ini.
Saya sendiri tak tahu apa maksud dibalik semua ini. Apakah benar-benar sebagai prosesi penyambutan, ataukah ada maksud dibalik semua ini. Namun yang jelas dengan sikap pemerintah yang demikian, menunjukkan bahwa pemerintah kita kurang arif dalam menyikapi persoalan yang ada. Harga diri dan kebesaran bangsa yang diperjuangkan dengan darah dan air mata seakan kini lenyap. Kemerdekaan yang diharapkan dapat menjadikan penghidupan yang layak bagi rakyat Indonesia, ternyata belum terasa bagi sebagian rakyat Indonesia. Bahkan mungkin mereka merasa bagai tertindas di negeri sendiri yang merdeka.
Entah apa maksud pemerintah dibalik pengorbanan yang sangat besar ini. Apakah untuk memperkuat hubungan Indonesia sebagai mitra AS, ataukah ada maksud lain yang tersembunyi, kita semua juga tak tahu pasti. Tapi yang jelas pengorbanan pemerintah sangat besar untuk kebijakan yang satu ini. Uang rakyat, kesejahteraan PKL di sekitar istana, serta kemegahan istana negara sudah dikorbankan untuk sekedar menyambut tamu yang "mampir" di negeri tercinta ini. Semoga saja pertemuan tersebut bisa menunjukkan kebesaran dan kedaulatan negara ini. Dan yang terpenting, semoga saja pemerintah tidak terdikte oleh ucapan-ucapan Bush.Amin.
Kedaulatan dan harga diri bangsa ini telah diperjuangkan dengan darah dan air mata, suatu simbol pengorbanan yang benar-benar nyata dan ikhlas. Pengorbanan para pahwalan ini tak lain bertujuan agar kehidupan rakyat Indonesia dapat merdeka dan layak. Penjajahan secara fisik mungkin bagi negara kita sudah usai, namun ternyata penjajahan itu masih berlangsung. Semoga saja kita semua masih diberikan kesadaran oleh Allah SWT untuk selalu menjaga kedaulatan dan kebesaran bangsa ini. amin. MERDEKA!
Marji Wegoyono
Jurnalis ITS ONLINE
Mahasiswa D3 Teknik Elektro
Penulis juga merupakan Ketua Remaja Komplek Yon Infanteri 500 Raider Surabaya.