Pagi ini, saya baru saja membaca berita di Jawa Pos tentang diakuinya Jurusan Teknik Sipil ITS sebagai salah satu jurusan PT di Indonesia yang telah berstandar Internasional. Selain Teknik Sipil ITS, FK Unair pun mendapatkan pengakuan yang serupa.
Lantas kabar baik ini saya sampaikan ke sejumlah rekan-rekan. Saya katakan "Kalau ITS sudah bertaraf internasional, apa kira-kira dampaknya?" Seorang teman saya menjawab "Pasti makin mahal bro!" yang lain bilang "Bakal banyak mahasiswa asing lo". Adik kelas saya yang masih maba ikut urun rembug dengan mengatakan "Bagus itu, biar posisi tawar ITS makin kuat. Masak selama ini PTN yang dikenal kok seolah-olah UI, ITB, UGM sama IPB thok. Sudah saatnya ITS bicara".
Mendengar jawaban-jawaban itu, saya kemudian semakin paham, ternyata warga kampus ini menaruh begitu banyak harapan dan keinginan, meski pada satu sisi kerap kali masih timbul keraguan dan kegamangan. Itu wajar, karena kita masih dalam tahap merintis. Dan rintisan itu sudah mulai nampak hasilnya di Jurusan Teknik Sipil (Selamat buat teman-teman di Teknik Sipil !).
Memang menjadi sebuah perguruan tinggi yang diakui berstandar internasional bukanlah pekerjaan mudah. Diperlukan sebuah kerja keras, etos, semangat, kerja sama serta perencanaan yang matang. Saya teringat dengan usaha Pak Nuh, yang sejak awal menjadi Rektor berusaha membuka link dan jejaring sampai ke luar negeri. Salah satu tujuannya adalah mengenalkan potensi ITS di luar.
ITS juga melakukan kebijakan yang menurut saya terlalu berani, yakni mengganti logo. Padahal,jika menilik hasil jajak pendapat yang diselenggarakan oleh ITS Online, sebagaian besar civitas akademika ITS tetap lebih sreg dengan logo lama. Tetapi, keraguan atas pergantian logo tersebut sepertinya mulai luntur dengan sendirinya. Logo baru ITS dengan tambahan kata Institut Teknologi Sepuluh Nopember telah memunculkan sebuah citra baru. Jika dahulu masih banyak yang menganggap ITS sebagai Institut Teknologi Surabaya -yang dianalogikan dengan ITB -Institut Teknologi Bandung- maka mulai sekarang, pandangan-pandangan seperti itu dengan sendirinya akan hilang.
Kelihatannya remeh, tetapi dalam pergaulan internasional, soal nama menempati posisi yang sangat penting. Institusi boleh merugi, tetapi nama (brand) harus tetap eksis. Begitu kira-kira filosofi yang dianut. Maka, dalam sebuah marketing space kita bisa melihat bagaimana usaha yang dilakukan oleh berbagai institusi swasta maupun pemerintah yang rela membelanjakan milyaran rupiah untuk memperkuat posisi (brand)-nya. Coba Anda pikirkan, mengapa PT Djarum rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk membiayai Liga Djarum Indonesia periode kompetisi tahun lalu? Tentu jawabnya adalah penguatan merk. Pertamina, BUMN perminyakan yang biasa kita kenal dengan kuda laut juga telah berganti logo baru. Lagi-lagi jawabnya adalah soal (brand).
Tentu kita berharap, pergantian logo ITS menjadi sebuah batu loncatan untuk memperoleh tempat yang lebih baik dalam percaturan Internasional. ITS bisa menjadi salah satu rujukan dan pusat unggulan teknologi yang diakui kualitas dan kredibilitasnya.
Who’s care?
Kita boleh berbangga hati, karena mulai tahun ajaran ini, sudah ada beberapa mahasiswa luar negeri yang belajar di ITS. Kalau tidak salah, ada yang dari Papua New Gueini dan beberapa yang dari timur tengah. Meski tidak banyak, ini sudah menjadi bukti kalau kampus ini sudah mulai diperhitungkan.
Jika "prestasi" ini bisa dipertahankan, bukan tidak mungkin jumlah mahasiswa asing yang "ngangsu kaweruh" bisa bertambah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Jika selama ini jurusan yang dituju masih sangat terbatas, maka tahun mendatang harus mulai merambah ke jurusan lainnya. Pemerataan ini penting, supaya ITS tidak hanya identik dengan bidang studi tertentu saja. Tetapi sebagai pusat teknologi yang menyeluruh.
Saya tahu ini pekerjaan yang sangat berat. Kompetitor (baik PTN maupun PTS) kita sedang menyiapkan amunisi yang serupa. Jika kita lengah sedikit saja, maka boleh jadi pengakuan internasional yang kita idam-idamkan hanya menjadi angan-angan semata. Oleh karena itu, adalah tanggung jawab civitas akademika dan stake holder ITS untuk menggapai cita-cita ini bersama.
Selamat tahun baru 2006 !
Sby, 1 Januari 2006
Nurhadi
Mahasiswa Teknik Fisika ITS
email : hadynur@yahoo.com