Sebagai strategi untuk menarik minat mahasiswa baru ITS, UPT Perpustakaanpun menyiapkan beberapa program acara dalam kegiatan kali ini. Salah satunya kegiatan makan dan minum gratis di kafetaria perpustakaan ITS. kegiatan tersebut berlangsung hingga Jumat (11/9) mendatang. Tak tanggung-tanggung, program ini pun diberikan kepada 70 pengunjung open house pertama yang datang.
Selain itu, unit pengelola gedung bertingkat 6 di ITS ini juga memiliki program lain yakni Aku Mau Satu. Program ini berupa layanan berbagi buku gratis bagi pemustaka. Dikatakan Drs Surono SIP, jika ada pengunjung yang memiliki buku bacaan yang sudah tidak digunakan, buku tersebut dapat ditukarkan di sini. ”Nantinya mereka bisa ambil satu atau lebih koleksi buku yang tersedia. Bagi pengunjung yang tidak berniat menukar, mereka hanya boleh mengambil satu,” terang ketua panitia ini.
Selain dua program diatas, UPT Perpustakaan ITS juga menyediakan pemutaran film layar lebar bagi pengunjung. Tak ketinggalan, kegiatan berupa sosialisasi keanggotaan perpustakaan, fasilitas perpustakaan, dan layanan E-Journal juga dikenalkan kepada maba.
Lebih lanjut, Surono menjelaskan acara open house kali ini dilakukan sebagai strategi UPT Perpustakaan dalam mengenalkan keberadaan perpustakaan sedini mungkin. Sebab menurut pria penyuka olahraga badminton ini, urgensi sebuah perpustakaan tak bisa disepelekan. Baginya, ada banyak kumpulan artikel hasil riset para akademisi kampus dan riset internasional tersimpan di sana. ”Sehingga tak heran banyak orang yang sering menyebutk perpustakaan sebagai ‘jantung’ perguruan tinggi,” imbuhnya.
Lebih dari itu, pola pikir dan cara belajar maba saat ini juga berada dalam masa transisi. Proses belajar-mengajar di perguruan tinggi dengan di tingkat SMA tentu berbeda sehingga memerlukan dukungan dalam strategi penyesuaian pola belajar bagi mereka.
Menurutnya, berbeda dengan perguruan tinggi, pada saat SMA keberadaan perpustakaan dirasa kurang termanfaatkan. Siswa juga diyakininya memiliki sedikit waktu kosong dan pada jam kosong saat istirahat, kebanyakan dari mereka memilih untuk pergi ke kantin.
Sedangkan di perguruan tinggi, lanjutnya, mahasiswa memiliki banyak waktu luang di siang hari. Selain itu, sistem perkuliahan yang berbasis Student Learning Center (SLC) juga menuntut mahasiswa agar dapat belajar secara mandiri di luar jam kuliah. ”Sehingga kami berharap waktu-waktu kosong itu mereka manfaatkan untuk berkunjung ke perpustakaan,” tutup Surono. (ao/man)
Perpustakaan bukan hanya sekedar tempat penghimpun buku atau ribuan koleksi artikel-artikel ilmiah. Lebih dari itu, perpustakaan adalah pusat belajar dan sumber informasi yang tak bisa dipisahkan bagi pemakainya. Pakem itulah yang ingin ditanamkan UPT Perpustakaan ITS kepada para mahasiswa baru (maba). Melalui Open House Perpustakaan ITS yang diadakan sejak Senin (7/9) lalu, unit ini ingin mengenalkan lembaganya secara lebih dekat.
Sebagai strategi untuk menarik minat mahasiswa baru ITS, UPT Perpustakaanpun menyiapkan beberapa program acara dalam kegiatan kali ini. Salah satunya kegiatan makan dan minum gratis di kafetaria perpustakaan ITS. kegiatan tersebut berlangsung hingga Jumat (11/9) mendatang. Tak tanggung-tanggung, program ini pun diberikan kepada 70 pengunjung open house pertama yang datang.
Selain itu, unit pengelola gedung bertingkat 6 di ITS ini juga memiliki program lain yakni Aku Mau Satu. Program ini berupa layanan berbagi buku gratis bagi pemustaka. Dikatakan Drs Surono SIP, jika ada pengunjung yang memiliki buku bacaan yang sudah tidak digunakan, buku tersebut dapat ditukarkan di sini. “Nantinya mereka bisa ambil satu atau lebih koleksi buku yang tersedia. Bagi pengunjung yang tidak berniat menukar, mereka hanya boleh mengambil satu,” terang ketua panitia ini.
Selain dua program diatas, UPT Perpustakaan ITS juga menyediakan pemutaran film layar lebar bagi pengunjung. Tak ketinggalan, kegiatan berupa sosialisasi keanggotaan perpustakaan, fasilitas perpustakaan, dan layanan E-Journal juga dikenalkan kepada maba.
Lebih lanjut, Surono menjelaskan acara open house kali ini dilakukan sebagai strategi UPT Perpustakaan dalam mengenalkan keberadaan perpustakaan sedini mungkin. Sebab menurut pria penyuka olahraga badminton ini, urgensi sebuah perpustakaan tak bisa disepelekan. Baginya, ada banyak kumpulan artikel hasil riset para akademisi kampus dan riset internasional tersimpan di sana. ”Sehingga tak heran banyak orang yang sering menyebutk perpustakaan sebagai ‘jantung’ perguruan tinggi,” imbuhnya.
Lebih dari itu, pola pikir dan cara belajar maba saat ini juga berada dalam masa transisi. Proses belajar-mengajar di perguruan tinggi dengan di tingkat SMA tentu berbeda sehingga memerlukan dukungan dalam strategi penyesuaian pola belajar bagi mereka.
Menurutnya, berbeda dengan perguruan tinggi, pada saat SMA keberadaan perpustakaan dirasa kurang termanfaatkan. Siswa juga diyakininya memiliki sedikit waktu kosong dan pada jam kosong saat istirahat, kebanyakan dari mereka memilih untuk pergi ke kantin.
Sedangkan di perguruan tinggi, lanjutnya, mahasiswa memiliki banyak waktu luang di siang hari. Selain itu, sistem perkuliahan yang berbasis Student Learning Center (SLC) juga menuntut mahasiswa agar dapat belajar secara mandiri di luar jam kuliah. ”Sehingga kami berharap waktu-waktu kosong itu mereka manfaatkan untuk berkunjung ke perpustakaan,” tutup Surono. (ao/man)