Untuk mengatasi hal tersebut, Munasir melakukan riset dengan efisiensi biaya, pemanfaatan potensi sumber mineral alam yang berlimpah, serta memperhitungkan waktu pengerjaan. Dimulai dari tahapan awal yakni sintesis SiO2 (silikat) dengan metode kontinu (hidrotermal-kopresipitasi). "Tahapan awal adalah ekstraksi pasir kuarsa menjadi pertikel berukuran nano dengan mengikat senyawa alkali," ujarnya.
Selanjutnya, partikel nano tersebut dimanfaatkan untuk komposit alumunium dengan menggunakan perbandingan pada medium pencampuran. Untuk membuat partikel nano, proses metalurgi serbuk pun dilakukan. "Porositas dari serbuk alumunium dalam bentuk pelet ini memiliki ukuran yang pas dengan nano. Sehingga, dengan memasukkan partikel SiO2, kita tidak lagi melakukan over-aging," papar pria yang telah memiliki empat putra ini.
Tahap yang terakhir adalah pengujian sampel komposit dengan menggunakan pendekatan polarisasi linier. Dalam tahapan terakhir tersebut, dilakukan analisis performa korosi.Hal tersebut dilihat dari perilaku hingga ketahanannya dalam medium geotermal. ”Tentunya ditemukan perubahan dari sebelum diekspose dan setelah diekspose," tambahnya.
Berbagai tahap dilakukan, mulai dari pencampuran hingga kalsinasi. Alhasil, saat proses paduan pembentukan komposit Alumunium terjadi peningkatan sifat mekanik dan korosi. "Hasilnya ternyata permanfaatan partikel SiO2 untuk memperkuat komposit Alumunium mampu meningkatkan sifat mekanik dan korosi," pungkasnya. (riz/sha)