Berbagi Trik Beasiswa dan Survive Saat Kerja

Published on
By

Tony Dwi Susanto PhD, salah seorang pembicara, membocorkan berbagai macam trik yang bisa digunakan untuk mendapatkan beasiswa baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan gayanya yang kocak, ia memulai trik itu dari menentukan motivasi, update info dan berita tentang beasiswa, hingga mendaftar aplikasi beasiswa sebanyak mungkin. "Kita harus mau menjaring, bukan hanya memancing," ungkap pria yang sempat berprofesi menjadi penyiar radio ini.

Pendiri Motivasi Beasiswa ini juga menyatakan, ITS menawarkan banyak beasiswa. "Untuk dapat beasiswa kita harus mendapat acceptance letter dulu dari universitas. Untuk mendapatkannya, kita harus menemukan supervisor kita di universitas itu. Lha caranya dengan membuat topik riset yang menarik untuk diteliti," ungkap pria yang juga menjadi Dosen Jurusan Sistem Informasi ITS ini.
 
Selain itu, Tony juga mengungkapkan pentingnya kegigihan dalam mendapatkan beasiswa. Tony sendiri mengungkapkan dia baru berhasil mendapatkan beasiswa dalam percobaan ke-13.

Ia menyarankan agar mahasiswa juga memiliki sifat tahan banting. "Kalau ada yang mengejek mimpi anda. Maka jangan dekat-dekat dengan dia. Orang seperti itu yang tidak akan pergi kemana-mana," ujar pria yang juga berprofesi sebagai penulis ini.

Hal lain yang juga tak kalah penting menurut Tony adalah pentingnya memilih negara tujuan  kita saat mencari beasiswa. Tony sendiri bercerita, ia sempat stres selama belajar di Arab Saudi. Pasalnya ia menilai peraturan Arab Saudi kurang sesuai dengan karakternya yang cenderung family man atau orang yang tidak bisa jauh dari keluarga. Maka dari itu kita harus memilih negara mana yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kita.

Peluang Kerja Sistem Perkapalan
H Budi Prakoso ST, pembicara lain, mengungkapkan peluang lulusan Teknik Sistem Perkapalan di Indonesia dapat terjun ke berbagai bidang. Mulai dari pemerintahan atau departemen perhubungan, BUMN, hingga dunia kewirausahaan. Ia mengungkapkan, FTK ITS merupakan yang terbaik di Indonesia.

Namun, ia mengingatkan agar FTK tidak lengah karena mendapat predikat itu. Budi menyatakan, saingan FTK ITS semakin banyak. Di dalam negeri lulusan FTK khususnya sistem perkapalan ITS harus bersaing dengan perguruan tinggi lain. Namun rival yang harus diwaspadai seharusnya adalah insinyur dari luar negeri yang bekerja di Indonesia.

Pria asal Jakarta ini bercerita di Batam, para insinyur dari luar negeri menuntut gaji dalam kurs mata uang mereka masing-masing. Insinyur dari Singapura misalnya, mendapatkan gaji 5000 dolar Singapura. Apabila dikurskan ke dalam rupiah, jumlah itu akan mencapai Rp 45-50 juta per bulan, sepuluh kali lipat lebih besar dari insinyur dalam negeri.

Oleh sebab itu, ia menyarankan, mahasiswa FTK harus terus meningkatkan kualitas diri mereka. Strategi yang harus dijalankan mahasiswa antara lain dengan mendapatkan IPK yang tinggi, memiliki pengalaman organisasi atau managemen yang baik dan tentunya terus merajut koneksi yang baik dengan alumni. (gol/nir)

×