Dengan tenang, Esti mempresentasikan hasil penelitiannya di depan promotor, penguji internal dan eksternal dan tim pertimbangan jurusan. Dalam paparannya, ia menerangkan bahwa penelitiannya yang menggunakan teknik polinomial lokal ini, diterapkan untuk menghitung tingkat kematian penduduk Indonesia.
”Sejak dulu Indonesia masih belum memiliki grafik kematian penduduk dengan data yang akurat,” terang dosen Sekolah Tinggi Ilmu Statistik ini. Selama ini, data yang digunakan di Indonesia mengadaptasi sampel dan teknik Negara barat. Alasan itulah yang mendorong Esti pun berinisiatif untuk mengolah data kematian rumah tangga penduduk Indonesia.
Menurutnya, hal tersebut penting karena dapat digunakan untuk updating table kematian (life table). Tabel kematian tersebut berguna untuk menjadi acuan perhitungan usia di perusahaan asuransi. Dengan begitu, perusahaan asuransi dapat memprediksi usia kematian masyarakat Indonesia dalam penentuan harga premi yang dikeluarkan.
Teknik polinomial lokal yang digunakan Esti ini berbeda dengan model Regresi Generallized Poisson (LGP). Menurutnya, metode Poisson menggunakan asumsi varian yang melebihi meannya. Hasilnya, data yang dihasilkan kurang akurat. ”Berbeda dengan metode polinomial lokal, data jumlah kematian rumah tangga yang saya peroleh langsung didapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS), sehingga grafik hasilnya lebih akurat,” tuturnya ketia ditemui usai sidang promosi .
Berdasarkan penelitian tersebut pun didapatkan perbandingan tingkat kematian antara laki-laki dan perempuan serta tingkat kematian di wilayah perkotaan dan pedesaan. Menurut hasil penelitian yang Esti sajikan saat presentasi, tingkat kematian laki-laki lebih tinggi daripada perempuan di semua tingkatan umur. Selain itu tingkat kematian di pedesaan pada usia 0 hingga 46 tahun lebih tinggi daripada wilayah perkotaan. ”Sedangkan hal sebaliknya, pada usia diatas 46 tahun tingkat kematian di perkotaan lebih tinggi daripada di wilayah pedesaan,” tutupnya.
Sementara itu, dalam sambutannya, Drs Kresnayana Yahya, MSc, Ketua Dewan Pertimbangan Jurusan memuji hasil penelitian yang dilakukan Esti. Menurutnya, penelitian tersebut sangat dipelukan bagi Indonesia. ”Selanjutnya, Saudara berkewajiban untuk menyebarkan hasil penelitian tersebut, minimal lewat media massa,” ujar Kresnayana. (sha/ran)