Prof Daniel M Rosyid PhD MRINA, salah satu pembicara mengatakan, pemerintah tampaknya sedang kekurangan imajinasi. Persoalannya, rakyat Indonesia suda terlanjur hidup dengan kebiasaan konsumtif. "Pemerintah tidak pernah mengajarkan masyarakat untuk belajar produktif," ujarnya.
Daniel menilai, hal ini terjadi karena pendidikan di Indonesia lebih mengutamakan kebenaran, bukan kejujuran. "Ini sudah tertanam sejak kita masih berada di bangku sekolah dasar. Dan ini juga akan berdampak pada pemanfaatan energi yang ada di negara ini," tambah Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan ini.
Dikatakan Daniel, energi yang seharusnya sebagai modal yang besar bagi negeri ini justru kenyataannya malah dihambur-hamburkan. Seharusnya, energi yang ada saat ini harus dihemat, serta diperbaharui tiap waktu, agar krisis energi juga tidak terlalu berpengaruh bagi kesejahteraan rakya. "Katanya bahan bakar minyak itu diberikan untuk rakyat, tapi rakyat yang mana?," tanya dosen Jurusan Teknik Kelautan ini.
Selain itu, penyebab krisis energi di Indonesia, masih menurut Daniel, juga tidak lepas dari budaya tidak sehat yang setiap hari dilaksanakan oleh seluruh warga negara Indonesia. Sebagai contoh, masyarakat saat ini sudah menggantungkan hidupnya pada sepeda motor. "Hampir semua orang tidak pernah berjalan jika mereka sudah punya sepeda motor," ujar Daniel.
Bahkan di kalangan mahasiswa, Daniel menilai bahwa mahasiswa lebih banyak mengeluarkan uangnya untuk beli bensin daripada membeli buku pelajaran. "Seharusnya mahasiswa yang memberi contoh. Harus bisa memanfaatkan energi dengan baik, bukan malah menghambur-hamburkannya. Kalian lebih baik jalan kaki ke kampus. Itu lebih sehat," jelasnya.
Sementara dari sisi sosial, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) 1.0 menghadirkan Teguh Rachmanto ST sebagai pembicara kedua. Ia mengatakan, ketidaksetujuan masyarakat dengan berbagai kebijakan pemerintah tak akan berpengaruh sedikitpun bagi pemerintah. "Sekarang masyarakat bisa apa jika kebijakan harga bensin naik tetap dijalankan?," tanyanya.
Ia menilai, masyarakat akan melakukan tiap kebijakan pemerintah dengan ikhlas asalkan pemerintah mau konsisten dengan kebijakan yang telah mereka tetapkan. Tapi kenyataannya, pemerintah seakan tidak mau bertanggungjawab dengan hal itu. "Semua seperti lempar batu sembunyi tangan, tidak ada yang mau tanggung jawab," jelas pria yang juga mantan aktivis mahasiswa ini.
Dikatakan Teguh, senua ini disebabkan karena sistem politik yang tidak rasional. Ideologi yang dilakukan di negeri ini seakan tidak konsisten lagi. Selain itu, korupsi yang masih merajalela juga menjadi penyebab utama krisis energi di negara ini.
Lain halnya dengan kedua pembicara sebelumnya, H Wasis Sisyonon SH, perwakilan Dewan Pertimbangan Daerah RI mengatakan, Indonesia sebenarnya merupakan negara yang memiliki sumber energi yang sangat besar. Namun miris jika denga energi sebesar itu Indonesia tidak bisa mengelola dengan baik.
Ia menambahkan, BBM yang digunakan saat ini adalah hasil impor dari negara lain. Pasalnya, banyak tambang-tambang minyak yang sudah dikelola oleh orang asing. Bahkan, Indonesia hanya diberi 10 persen dari hasil eksplorasi minyak tersebut. "Padahal di negara-negar lain itu mencapai 80 persen," tambahnya.
Namun Wasis berharap agar pemimpin-pemimmpin di negara ini akan lebih baik di tahun-tahun mendatang. Sehingga sumber daya alam yang memang disediakan untuk rakyat itu benar-benar bisa terealisasikan. "Ini adalah tugas kalian sebagai pemuda, karena kalian adalah generasi penerus bangsa," pungkasnya kepada mahasiswa. (guh/nir)