Terbit pada
Jumat, 2 Oktober 2026

Kampus ITS, ITS News — Kolaborasi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Nanyang Technological University (NTU) Singapura melalui program Eco Unity menghasilkan sejumlah gagasan inovatif untuk menjawab persoalan lingkungan. Selama lima hari, puluhan mahasiswa dari kedua perguruan tinggi berdiskusi dan melakukan kunjungan lapangan untuk mengembangkan solusi berdasarkan permasalahan yang ditemukan.
Program yang berlangsung sejak Minggu (27/9) tersebut, mempertemukan mahasiswa NTU dengan mahasiswa Departemen Teknik Lingkungan ITS. Para peserta dibagi menjadi lima kelompok dan mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari pembekalan, kunjungan urban farming, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Ngagel, fasilitas pengolahan sampah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF) di Gresik, hingga perusahaan daur ulang plastik Veolia di Pasuruan dan Kebun Raya Purwodadi.
Rangkaian kunjungan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengamati persoalan lingkungan secara langsung sekaligus bertukar perspektif. Hasil pengamatan kemudian menjadi dasar bagi masing-masing kelompok untuk melakukan brainstorming dan merancang inovasi yang dipresentasikan di Departemen Teknik Lingkungan ITS, Jumat (2/10).

Salah satu gagasan datang dari Tim 3 yang mengusulkan produksi bahan bakar dari sampah melalui metode pengeringan biologis di dalam rumah kaca. Salah satu anggota Tim 3 Ratna Aida Husnul Khotimah menjelaskan bahwa sampah anorganik dan residu yang tidak dapat dikomposkan maupun didaur ulang masih dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar padat. “Nantinya, sampah yang basah akan dikeringkan tanpa proses pembakaran dan tanpa menggunakan listrik untuk menghasilkan bahan bakar alternatif dari sampah,” papar Ratna.
Sementara itu, Tim 5 mengangkat persoalan keselamatan dan kenyamanan pekerja di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Ngipik, Gresik, melalui inovasi Safety Comfortable Personal Protective Equipment (PPE). Salah satu mahasiswa NTU, Harvey, memaparkan rancangan alat pelindung diri yang terdiri atas pakaian dengan material berlapis untuk menciptakan area ventilasi, serta masker dengan penyaring gas dan partikel yang tetap mengutamakan kenyamanan pengguna.

Berbeda dengan dua kelompok tersebut, Tim 4 memanfaatkan limbah hasil pengolahan air sebagai material konstruksi. Gagasan ini muncul setelah peserta mengunjungi PDAM dan mengetahui banyaknya lumpur yang dihasilkan dari proses penyaringan air sungai menjadi air bersih.
Salah satu anggota tim dari NTU, Benedict, memaparkan inovasi di hadapan dewan juri. “Lumpur tersebut nantinya akan diolah menjadi paving block berkekuatan tinggi,” tuturnya. Inovasi Tim 4 akhirnya dinobatkan sebagai Best Group dalam program Eco Unity ini karena menawarkan pemanfaatan limbah pengolahan air menjadi material yang memiliki nilai guna.
Kolaborasi kedua institusi tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) pada poin ke-6, 9, 12, dan 17. Terutama melalui kolaborasi riset untuk pemanfaatan limbah pengolahan air dan sampah menjadi produk bernilai guna serta pengembangan inovasi yang lebih berkelanjutan. (*)
Reporter: Restu Aisyah Rizki Permatasari