Hydro-Aluminium Baterai, Solusi Energi Ramah Lingkungan Karya Peneliti ITS

Baterai Hydro-Aluminium, Solusi Energi Ramah Lingkungan Karya Peneliti ITS

Published on
By
Potret uji coba menyalakan lampu dengan sumber energi dari hydro-aluminium baterai yang dikembangkan oleh Laboratorium Elektrokimia dan Korosi, Departemen Teknik Kimia ITS
Potret uji coba menyalakan lampu dengan sumber energi dari hydro-aluminium baterai yang dikembangkan oleh Laboratorium Elektrokimia dan Korosi, Departemen Teknik Kimia ITS

Kampus ITS, ITS News — Komitmen untuk terus menciptakan inovasi berkelanjutan kembali ditunjukkan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Tim peneliti dari Laboratorium Elektrokimia dan Korosi, Departemen Teknik Kimia ITS mengembangkan prototipe baterai isi ulang aluminium-udara berbasis air atau hydro-aluminium bernama AluBayu.

Baterai dengan sistem dual-hydrogel tersebut diproyeksikan sebagai solusi penyimpanan energi masa depan yang aman dan ramah lingkungan. Inovasi teknologi yang mendapatkan dukungan pendanaan oleh PT Pertamina Persero itu merupakan pengembangan strategis dalam mendukung kemandirian teknologi nasional.

Wakil Rektor IV Prof Agus Muhamad Hatta MSc PhD dorong hasil riset yang berdampak
Wakil Rektor IV Prof Agus Muhamad Hatta MSc PhD dorong hasil riset yang berdampak

Wakil Rektor IV bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS Prof Agus Muhamad Hatta ST MSc PhD menyoroti keunikan baterai aluminium-udara berbasis air laut dan aluminium lokal (dual-hydrogel). Menurut dosen yang biasa disapa Hatta ini, pengembangan tersebut sangat solutif dalam memenuhi kebutuhan energi di daerah pesisir, pinggiran, dan wilayah terluar. “Jadi pengembangan ini sejalan dengan semangat ITS untuk menjadi kampus yang berdampak kepada masyarakat,” tutur Guru Besar Teknik Fisika ITS ini.

Ketua Tim Peneliti Hydro-Aluminium Baterai Prof Dr Ir Heru Setyawan MEng
Ketua Tim Peneliti Hydro-Aluminium Baterai Prof Dr Ir Heru Setyawan MEng

Sementara itu, Prof Dr Ir Heru Setyawan MEng selaku ketua tim peneliti menuturkan bahwa komponen dalam teknologi yang dikembangkannya menyerap sumber daya biomassa lokal. Beberapa di antaranya adalah anoda dari aluminium, elektronik padat dari gel polymer electrolyte yang terbuat dari sabut kelapa, serta elektronik cair yang memanfaatkan NaCl dari air laut. Selain itu, terdapat juga komponen katoda yang bersumber dari nikel dan besi.

Melalui pemanfaatan komponen-komponen tersebut, AluBayu menawarkan keunggulan dalam penggunaan sistem elektrolit ganda berperekat padat. Sistem tersebut memisahkan jenis elektrolit antara kutub anoda yang merupakan kutub negatif dan katoda sebagai kutub positif. “Pemanfaatan dua jenis elektrolit yang berbeda itu berfungsi dalam mengoptimalkan reaksi kimia antara logam aluminium dan oksigen udara,” terang Guru Besar Teknik Kimia ITS tersebut.

Saat ini, satu modul prototipe AluBayu terdiri dari 20 sel berukuran kompak yakni 4×6 cm dengan bobot sekitar 20,2 gram. Modul tersebut dijelaskan mampu menghasilkan tegangan nominal sekitar 11,6 Volt dengan nilai arus dan daya eksisting sekitar 0,15 mA. Dengan spesifikasi tersebut, baterai ini dinilai memiliki prospek utilitas yang sangat tinggi untuk aplikasi spesifik.

Senior Specialist Technology Innovation Downstream dan New Energy PT Pertamina Persero Haryo Satriya
Senior Specialist Technology Innovation Downstream dan New Energy PT Pertamina Persero Haryo Satriya

Senior Specialist Technology Innovation Downstream dan New Energy PT Pertamina Persero Haryo Satriya pun menilai bahwa Pertamina melihat inovasi ini sebagai baterai masa depan. “Dengan keunggulannya yang ringan dan berbasis bahan baku ramah lingkungan, AluBayu sangat potensial untuk diaplikasikan pada perangkat penunjang darurat,” ungkap Haryo.

Untuk keberlanjutan, PT Pertamina sebagai mitra berkomitmen dalam mendukung pengembangan AluBayu hingga masuk ke tahap hilirisasi. Namun, Haryo memberikan beberapa catatan yang masih harus terus dikembangkan, salah satunya yakni daya tahan baterai yang masih lemah. “Prototipe yang ada akan kita bawa ke Jakarta untuk ditelaah dan dikaji lebih lanjut bersama arah kebijakan manajemen perusahaan,” tuturnya.

Pengembangan baterai isi ulang ramah lingkungan yang dikembangkan oleh para peneliti ITS ini menjadi bukti bagaimana ITS mendorong capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Terutama pada SDGs poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama yang dibangun dengan mitra industri seperti PT Pertamina Persero. (HUMAS ITS)

×