Audiensi TEP 24 ITS 2026 dengan Wakil Bupati Belu, NTT
Belu, ITS News — Indonesia masih memiliki banyak PR dalam penyelesaian masalah di daerah transmigrasi. Ketimpangan akses yang terjadi perlu diselesaikan secara kolaboratif dan berkelanjutan. Terutama dalam mengembangkan kawasan transmigrasi di perbatasan, sehingga dapat memaksimalkan potensi daerah secara tepat.
Sebagai komitmen pemerataan wilayah, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) buka audiensi dengan Wakil Bupati Belu Vicente Hornai Gonsalves ST. Ketua tim Prof IDAA Warmadewanthi ST MT PhD memimpin diskusi yang juga melibatkan Kepala Dinas Koperasi, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Belu.
Warma menjelaskan bahwa melalui pertemuan ini, tim berupaya memperkuat koordinasi sekaligus menyamakan arah program. Hal tersebut dilakukan demi mendukung pembangunan dan pengembangan daerah sekaligus masyarakat.
Kerja sama yang berlangsung juga diperkuat dengan melibatkan tenaga ahli dari berbagai bidang keilmuan yang ITS miliki. Mulai dari ahli dari Teknik Sipil, Geologi dan Geomatika, Perencanaan Wilayah dan Kota, hingga Kimia. “Keterlibatan ini menjadi bagian dari pendekatan tim kami dalam memetakan potensi dan tantangan wilayah transmigrasi secara menyeluruh,” ungkap Warma.
Pendekatan multidisiplin TEP ITS menjadi upaya untuk memberikan gambaran kawasan secara lebih komprehensif. Keberagaman keahlian dalam tim memungkinkan berbagai aspek pembangunan dikaji secara terintegrasi. “Sebab, penting bagi kami untuk memahami kondisi dan kebutuhan kawasan sebelum nantinya dilakukan kajian lebih lanjut di lapangan” jelas Warma.
Masukan dari pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ekspedisi. Informasi mengenai kondisi wilayah, masyarakat, infrastruktur, hingga potensi lokal dapat membantu TEP ITS menentukan pendekatan kajian yang lebih sesuai dengan karakteristik kawasan dan kebutuhan masyarakat.
Penyerahan Plakat ITS oleh Prof Warma ke Wabup
Menurut Vicente, keterlibatan perguruan tinggi dalam proses pembangunan dapat memberikan tambahan perspektif melalui kajian dan pendekatan berbasis keilmuan. Karena, rekomendasi yang ahli berikan dapat mendukung arah pengembangan kawasan transmigrasi di Kabupaten Belu. “Kolaborasi yang terjalin harus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan dan pengembangan kawasan transmigrasi,” tekan Vicente.
Kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Belu juga menjadi bagian penting dalam memastikan kegiatan TEP ITS dapat berjalan dengan baik. Dukungan pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat koordinasi antara tim, perangkat daerah, pemerintah desa, serta masyarakat.
Selain mengidentifikasi berbagai persoalan, TEP ITS juga berupaya melihat potensi yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan kawasan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian permasalahan. Tim ingin mendorong pengembangan kawasan transmigrasi yang produktif dan memiliki keberlanjutan jangka panjang.
Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Selain itu, turut terwujudnya SDGs poin ke-11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (*)