Menjawab Kebutuhan Energi di Manokwari Selatan dengan Kincir Angin dan Panel Surya - ITS News

Menjawab Kebutuhan Energi di Manokwari Selatan dengan Kincir Angin dan Panel Surya

Published on
By
Persiapan pengukuran kecepatan angin di Distrik Ransiki menggunakan anemometer digital

Manokwari Selatan, ITS News – Angin yang selama ini berembus bebas di pesisir Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, mulai dilirik sebagai sumber energi baru dan terbarukan (EBT) bagi masyarakat. Melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merintis Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) mikro yang dipadukan dengan panel surya sebagai solusi energi mandiri berbasis potensi lokal.

Pembangkit yang dirancang memiliki kapasitas total 2 kilowatt (kW) dari dua unit turbin angin masing-masing 1 kW, serta didukung panel surya berkapasitas 1 kilowatt peak (kWp). Rencananya, dua unit kincir angin tersebut akan dibangun untuk memenuhi kebutuhan listrik fasilitas umum dan sarana pariwisata di Pantai Bovo, Distrik Ransiki, dan Pantai Dembek, Distrik Momiwaren. Selain menjadi tujuan wisata masyarakat, kedua lokasi tersebut juga menjadi titik aktivitas nelayan untuk berlabuh.

Dengan skala mikro total daya 2000 watt (2 x 1000 watt), pembangkit ini memang tidak dirancang untuk menopang kebutuhan industri, melainkan sebagai pemantik dan model percontohan energi mandiri berbasis potensi lokal bagi kawasan transmigrasi pesisir yang selama ini bergantung pada genset atau belum teraliri listrik sama sekali.

Fasilitas umum yang disasar sebagai penerima manfaat meliputi penerangan jalan menuju wisata pantai, gazebo/honai tempat istirahat pengunjung dan titik-titik layanan publik lain di kawasan transmigrasi yang selama ini belum terjangkau jaringan listrik PLN secara memadai. Diharapkan dengan adanya listrik yang stabil di lokasi wisata dapat menumbuhkan usaha kecil warga lokal. Dan juga bisa menarik minat pemuda sekitar untuk mengelola potensi alam dengan kearifan lokal. 

Sebelum konstruksi dimulai, kajian kelayakan dan analisis data kecepatan angin di beberapa titik pesisir calon lokasi lebih dahulu dilakukan. Hasilnya menunjukkan potensi yang menjanjikan. Kecepatan angin di Kawasan Gunung Botak hingga Pantai Pintu Angin tercatat 6  hingga 12 m/s, Pantai Dembek  tercatat sekitar 8 m/s, dan Pantai Syari rata-rata sekitar 7,39 m/s. Hasil pengukuran sudah melampaui ambang minimum yang umum disyaratkan untuk turbin angin skala mikro maupun kecil.

Ketua Tim TEP 16, Prof Dr Agung Purniawan ST MEng (kiri) bersama pemangku adat dan perangkat desa saat akan menyelenggarakan focus group discussion (FGD)

Ketua Tim 16 TEP, Prof Dr Agung Purniawan ST MEng menjelaskan bahwa hasil pengukuran ini perlu diverifikasi lebih lanjut untuk memperoleh data yang akurat dan presisi. Dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS tersebut juga menekankan perlunya kajian lebih lanjut mengenai potensi pariwisata Teluk Cendrawasih yang terintegrasi dengan edukasi energi bersih dari PLTB. “Selain Teluk Cendrawasih, Teluk Mawi juga memiliki intensitas angin dan matahari yang cukup tinggi sehingga dapat dijadikan kandidat pembangunan eduwisata energi terbarukan,” tuturnya.

Sebagai tindak lanjut dari data hasil pengukuran, tim menyusun rencana tapak untuk kawasan Pantai Bovo di Ransiki dan Pantai Dembek di Momiwaren. Rencana ini mencakup penempatan turbin angin hibrida dengan panel surya untuk menghasilkan daya yang optimal, hingga jalur tiang listrik dan lampu penerangan yang akan menyambungkan titik pembangkit ke jalan umum dan sentra pariwisata. Skema hibrida angin–surya ini dipilih agar pasokan listrik tetap stabil sepanjang hari, mengingat potensi angin pesisir cenderung menguat pada waktu-waktu tertentu, sementara radiasi matahari tersedia stabil di siang hari.

Langkah Tim 16 TEP ITS ini selaras dengan arah kebijakan energi nasional yang ditekankan pemerintah dalam pembekalan TEP 2026 melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan yang sangat besar, mencapai 3.687 gigawatt, didominasi tenaga surya, hidro, dan angin, sementara kapasitas pembangkit EBT yang baru terpasang hingga Juni 2026 baru sekitar 16.321 megawatt. Gap ini menyisakan ruang besar yang belum tergarap termasuk di kawasan terpencil seperti pesisir Ransiki dan Momiwaren yang memiliki potensi energi matahari dan angin yang cukup besar.

Apabila terbukti andal, skema tersebut diharapkan dapat direplikasi di titik-titik pesisir lain dengan karakteristik angin serupa. Pada saat yang sama, pengembangan energi bersih yang terintegrasi dengan pariwisata diharapkan mampu membuka peluang investasi dan mendorong tumbuhnya eduwisata di Papua.

Bagi Tim 16 TEP ITS, angin pesisir Momiwaren bukan lagi sekadar fenomena alam. Ia adalah potensi yang menunggu untuk diolah menjadi harapan. Seperti pesan sederhana dari lagu Negoro Angin yang dibawakan Denny Caknan, angin tidak hanya membawa kenangan, tetapi juga dapat membawa harapan baru. Di pesisir Papua Barat, harapan itu kini tengah dirintis menjadi energi yang diharapkan mampu menyalakan fasilitas umum, menggerakkan ekonomi, dan pada akhirnya menghadirkan kesejahteraan  bagi masyarakat. (*)

×