
MANOKWARI SELATAN, ITS News – Perjalanan menyelesaikan persoalan air bersih di Distrik Momi Waren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat membawa Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 2026 menelusuri berbagai sumber air dan infrastruktur di enam kampung. Bukan sekadar mencari sumber air, tim berupaya memahami persoalan dari hulu hingga hilir, mulai dari kondisi sumber air, bangunan penangkap air, jaringan perpipaan, hingga kualitas air yang digunakan masyarakat.
Selama satu minggu sejak Selasa (18/8), tim menyambangi Kampung Demini, Siwi, Nij, Dembek, Gaya Baru, dan Waren. Dari penelusuran tersebut, muncul sejumlah temuan yang menggambarkan kompleksitas persoalan air bersih di wilayah tersebut. Beberapa sumber air ditemukan dalam kondisi cukup keruh, debit air tanah dilaporkan menurun saat musim kemarau, sementara pada jaringan perpipaan menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA) Momi Waren ditemukan indikasi adanya sumbatan pasir.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan air bersih tidak selalu berhenti pada ada atau tidaknya sumber air. Di balik aliran air yang sampai ke rumah-rumah warga, terdapat rangkaian sistem kompleks yang akan menentukan keberlanjutan pemanfaatannya.
Ketua Tim 04 Ekspedisi Patriot ITS 2026, Candida Aulia De Silva Nusantara ST MT, menegaskan bahwa survei dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi eksisting secara utuh. Menurutnya, setiap temuan di lapangan perlu dibaca sebagai suatu sistem yang utuh agar rekomendasi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Gambaran yang utuh ini penting agar rekomendasi yang kami susun benar-benar berangkat dari kondisi nyata di Momi Waren,” ujarnya.
Langkah tim dimulai pada Selasa (18/8) di Kampung Demini. Di lokasi tersebut, tim meninjau infrastruktur air bersih yang telah tersedia sekaligus mengamati bagaimana fasilitas tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat. Perjalanan kemudian berlanjut ke Kampung Siwi untuk menelusuri salah satu sumber air yang berpotensi menunjang kebutuhan masyarakat. Tidak hanya mengamati sumbernya, tim juga menggali informasi mengenai ketersediaan air serta kondisi sarana yang digunakan untuk memanfaatkannya.
Sehari berselang, Rabu (19/8), penelusuran berlanjut ke Kampung Nij. Kali ini, cakupan pengamatan diperluas hingga bangunan penangkap air dan jaringan perpipaan. Tim menelusuri kondisi aliran dan jalur penyaluran air sembari berdiskusi dengan masyarakat mengenai pemanfaatan sumber air dalam kehidupan sehari-hari. Rangkaian kunjungan tersebut memperlihatkan satu hal penting. Potensi sumber air tidak dapat dipisahkan dari kesiapan infrastruktur yang menopangnya. Sumber yang melimpah belum tentu dapat memberikan manfaat optimal apabila sistem penangkapan dan penyalurannya menghadapi kendala.

Penelusuran semakin mendalam ketika tim mengunjungi intake sumber air IPA Momi Waren di Kampung Siwi pada Jumat (21/8). Titik tersebut menjadi bagian penting dalam sistem penyediaan air karena menghubungkan sumber air dengan proses penyaluran menuju instalasi pengolahan. Tim didampingi Bapak Sam yang memberikan penjelasan mengenai kondisi intake, jalur penyaluran, hingga perjalanan air menuju IPA Momi Waren. Informasi tersebut membantu tim memahami sistem yang telah berjalan sekaligus mengidentifikasi bagian yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Dari pengamatan awal, tim menemukan indikasi kemungkinan sumbatan pasir pada jaringan perpipaan. Temuan ini belum menjadi kesimpulan teknis akhir, tetapi menjadi catatan penting yang perlu ditindaklanjuti karena berpotensi menghambat kelancaran aliran air. Bagi tim, temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan air bersih dapat muncul di sepanjang perjalanan air, bukan hanya pada sumbernya. Karena itu, kondisi jaringan perpipaan menjadi bagian penting dalam evaluasi sistem secara keseluruhan.

Pada Senin (24/8), tim melanjutkan survei ke Kampung Dembek, Gaya Baru, dan Waren. Kali ini, perhatian diarahkan pada kondisi fisik sumber air, sistem pengambilan, serta kualitas air yang dimanfaatkan masyarakat. Tim mengambil sejumlah sampel air untuk menjadi bahan pemeriksaan lebih lanjut. Dari pengamatan awal, beberapa sumber menunjukkan kondisi yang cukup keruh. Meski demikian, kekeruhan secara visual tidak serta-merta menjadi dasar untuk menyimpulkan kelayakan air. Temuan tersebut menjadi indikator awal yang perlu diperiksa lebih lanjut untuk menentukan karakteristik kualitas air dan kebutuhan pengolahannya.
Salah satu anggota Tim 04 Ekspedisi Patriot ITS 2026, Muh Raihan Uwaiz STr menjelaskan bahwa kondisi setiap sumber memiliki karakter yang berbeda sehingga penanganannya tidak dapat disamaratakan. “Kondisi visual air belum dapat langsung menjadi kesimpulan mengenai kelayakan air dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apa yang perlu diuji dan penanganan yang sesuai untuk masing-masing sumber,” jelasnya.
Selain kualitas fisik air, tim juga mendapatkan informasi mengenai perubahan debit sumber air tanah. Masyarakat menyampaikan bahwa debit cenderung berkurang ketika memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sumur masih menjadi salah satu sumber air yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini menambah kompleksitas persoalan air bersih di Momi Waren. Sistem penyediaan air tidak hanya perlu menjawab kebutuhan masyarakat saat kondisi normal, tetapi juga harus mempertimbangkan perubahan ketersediaan air ketika musim berganti.
Beragam temuan dari enam kampung tersebut perlu dibaca dalam satu kesatuan. Setiap lokasi memiliki karakter dan tantangan yang berbeda. Ada lokasi yang membutuhkan perhatian pada sumber dan fasilitas, ada yang menghadapi persoalan pada jaringan penyaluran, sementara lokasi lainnya menunjukkan tantangan pada kualitas air maupun ketersediaan debit saat musim kemarau. Bagi tim, tidak ada satu solusi yang dapat diterapkan secara seragam pada seluruh kampung. Setiap lokasi memiliki persoalan dan karakteristik yang berbeda. Karena itu, rekomendasi yang disusun harus mampu menjawab kebutuhan masing-masing wilayah sekaligus mempertimbangkan keberlanjutan sistem dalam jangka panjang
Salah satu anggota tim, Nabila Augesita Putri ST mengatakan bahwa konteks lokasi menjadi bagian penting dalam menyusun rekomendasi. Perlu adanya pencatatan spasial terhadap sumber air, fasilitas, jaringan perpipaan, dan kawasan permukiman. “Dengan begitu, rekomendasi yang disusun dapat mengikuti kondisi ruang dan kondisi lapangan yang benar-benar kami temukan,” tuturnya.
Pendekatan tersebut membuat perjalanan tim tidak sekadar menjadi aktivitas survei. Setiap langkah di lapangan merupakan upaya untuk menyusun gambaran yang lebih lengkap mengenai bagaimana air tersedia, bergerak, dan akhirnya dimanfaatkan oleh masyarakat.
Candida menegaskan kembali bahwa keberadaan tim di Momi Waren bukan sekadar untuk mengumpulkan data, melainkan untuk memperkecil jarak antara perencanaan dan realitas yang dihadapi masyarakat. “Setiap catatan mengenai sumber, pipa, kualitas air, maupun perubahan debit saat kemarau akan menjadi bagian dari dasar analisis sebelum kami menentukan arah sistem penyediaan air bersih yang paling sesuai,” tegasnya.
Perjalanan Tim Ekspedisi Patriot ITS 2026 di Momi Waren masih berlanjut. Di balik setiap sumber yang ditelusuri, setiap pipa yang diperiksa, dan setiap sampel air yang dikumpulkan, tersimpan satu tujuan besar, yaitu menghadirkan sistem air bersih yang tidak hanya dapat mengalir, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.
Dari sumber air hingga rumah warga, tim berupaya membaca persoalan secara utuh. Sebab bagi masyarakat Momi Waren, air bersih bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan bagian penting dari kehidupan yang layak dan masa depan yang lebih baik. (*)