Rektor ITS Prof Bambang Pramujati memetik buah melon hasil dari budidaya tanaman di kawasan REIDI ITS
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan konsep agri-aquavoltaik yang mengintegrasikan energi bersih terbarukan dengan sektor produktif pertanian dan perikanan. Memaksimalkan produktivitas kawasan Renewable Energy Integration Demonstrator of Indonesia (REIDI), ITS menggelar panen raya budidaya tanaman dan ikan, Jumat (28/8).
Melalui REIDI, ITS memasang panel surya sekaligus memanfaatkan area bawahnya untuk budidaya tanaman dan ikan yang dipersiapkan sebagai laboratorium hidup. Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menjelaskan listrik yang dihasilkan dari panel surya mendukung kebutuhan smart farming dan budidaya perikanan secara terpadu. “Jadi setiap kebutuhan listrik disuplai oleh solar panel yang berada di atasnya,” jelas Bambang.
Lebih lanjut, ITS menargetkan komoditas unggulan yang memiliki karakter yang unik dan unggul dari produk pertanian konvensional di pasaran. Hal tersebut menjadi upaya ITS menunjukkan penerapan teknologi dalam menghasilkan produk pertanian dan perikanan bernilai tambah.
Selain mendukung budidaya, kawasan REIDI difokuskan sebagai sarana pembelajaran pemanfaatan dan pengelolaan energi surya. Bambang menyebut bahwa saat ini ITS telah memperoleh sertifikasi uji kompetensi terkait panel surya dari kementerian terkait. Langkah tersebut menguatkan fungsi REIDI sebagai laboratorium hidup untuk menyokong produktivitas riset, pembelajaran, serta pengembangan teknologi energi bersih terbarukan.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany ST PhD menyampaikan bagaimana panen raya kali ini membuktikan keberhasilan penerapan konsep agri-aquavoltaik. “Ke depan, DRPM akan terus mendukung pengembangan berikutnya dengan memperluas komoditas yang sudah ada melalui sistem yang terintegrasi tersebut,” papar Taufany.
Dosen ahli Keanekaragaman Hayati Departemen Biologi ITS Mukhammad Muryono SSi MSi PhD
Sementara itu, dosen ahli Keanekaragaman Hayati Departemen Biologi ITS Mukhammad Muryono SSi MSi PhD menilai REIDI memiliki orientasi pada penerapan teknologi yang bernilai ekonomi. Menurutnya, seluruh aktivitas di kawasan tersebut diarahkan menjadi model usaha yang menghasilkan keuntungan dari produk budidaya. “Kegiatan ini menjadi langkah awal pengembangan model agri-aquavoltaik yang produktif, berkelanjutan, dan berbasis energi bersih,” terang Muryono selaku peneliti.
Dengan demikian, REIDI turut mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pemanfaatan REIDI sebagai laboratorium hidup yang sejalan dengan SDGs poin ke-3 demi menciptakan pendidikan berkualitas. Selain itu juga sejalan dengan SDGs poin ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau melalui pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi budidaya. Pendekatan rendah emisi dalam kawasan REIDI memperkuat kontribusi ITS terhadap SDGs poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. (*)