
Kampus ITS, ITS News — Kolaborasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan PT Pertamina Foundation terus mendorong transformasi energi bersih yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Upaya tersebut diwujudkan melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) Sobat Bumi ITS di Desa Kalanganyar, Sidoarjo, yang dikunjungi Presiden Direktur Pertamina Foundation Agus Mashud S Asngari bersama Dewan Pengawas Pertamina Foundation Ernie D Ginting, Sabtu (8/8) lalu.
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk meninjau pengembangan DEB Kalanganyar yang mengintegrasikan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Program ini digerakkan oleh pemuda Sobat Bumi yang terpilih melalui seleksi nasional. Dari 23.313 orang pendaftar, sebanyak 540 pemuda terpilih dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia untuk menghadirkan solusi berkelanjutan bagi masyarakat.
Di Desa Kalanganyar, pengembangan DEB mengusung konsep circular economy melalui empat aspek utama atau 4E, yakni energi, ekonomi, lingkungan, dan efektivitas. Pendekatan tersebut mendorong pemanfaatan energi bersih agar tidak berhenti pada penerapan teknologi, tetapi juga mampu mendukung produktivitas dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Salah satu anggota Sobat Bumi ITS Aldiez Rizkia Centrinova menjelaskan bahwa energi bersih dalam program tersebut diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat. Bagi Sobat Bumi ITS, DEB Kalanganyar bukan hanya tentang menghadirkan teknologi energi bersih. “Energi tersebut harus mampu mendukung produktivitas masyarakat, menjawab persoalan lingkungan, sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi yang dapat terus berjalan secara mandiri,” ujar mahasiswa Prodi Inovasi Digital ITS ini.
Konsep tersebut diterapkan melalui pemanfaatan teknologi photovoltaic (PV) untuk menunjang produktivitas UMKM olahan ikan bandeng Olikan serta pengelolaan sampah organik di TPS 3R melalui budidaya maggot. Selanjutnya, maggot yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan sehingga menciptakan keterhubungan antara energi bersih, pengelolaan lingkungan, perikanan, dan UMKM dalam satu siklus ekonomi.

Potensi energi surya di Desa Kalanganyar turut mendukung pengembangan sistem tersebut. Berdasarkan data yang digunakan dalam program, nilai iradiasi matahari di wilayah tersebut mencapai 2.036,9 kWh/m², lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 1.864,3 kWh/m². Sistem energi surya yang dikembangkan tersebut diproyeksikan untuk menghasilkan pemanfaatan energi sebesar 3.713,88 kWh per tahun, sehingga mampu menghemat biaya listrik sekitar Rp 5,36 juta per tahun serta menekan emisi hingga 1.856,94 kilogram CO₂ per tahun.
Upaya menjaga lingkungan juga dilakukan melalui pengelolaan sampah di TPS 3R. Salah satunya dengan penerapan sistem berbasis air pada proses pembakaran untuk membantu menangkap residu dan partikulat sebelum gas buang dilepaskan. Sementara itu, budidaya maggot diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 4.500 kilogram CO₂ per tahun sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dampak tersebut turut menjadikan DEB Kalanganyar sebagai salah satu lokasi yang dipilih untuk dikunjungi jajaran pimpinan Pertamina Foundation dari 262 DEB yang tersebar di Indonesia. Program ini dinilai menunjukkan bahwa pengembangan energi bersih dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat dan pengelolaan lingkungan.
Presiden Direktur PT Pertamina Foundation Agus Mashud S Asngari menilai pengembangan DEB perlu memberikan manfaat yang lebih luas dari sekadar penyediaan energi bersih. Pengembangan DEB tidak hanya berbicara mengenai penyediaan energi bersih, tetapi bagaimana energi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. “Kami berharap DEB Kalanganyar dapat terus berkembang, mandiri, serta menciptakan manfaat ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Dewan Pengawas Pertamina Foundation Ernie D Ginting menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan program. Menurutnya, teknologi akan memberikan dampak lebih besar ketika masyarakat mampu mengelola dan mengembangkannya secara mandiri.“Kolaborasi seperti di Kalanganyar diharapkan tidak hanya menghadirkan energi yang lebih bersih, tetapi juga menumbuhkan aktivitas ekonomi dan kepedulian lingkungan secara berkelanjutan,” tuturnya.
Melalui sinergi ITS dan Pertamina Foundation, DEB Kalanganyar menjadi contoh penerapan transformasi energi bersih yang terintegrasi dengan pertumbuhan ekonomi, ekonomi sirkular, dan kemandirian masyarakat. Inisiatif tersebut sekaligus memperkuat kontribusi ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, poin ke-8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, poin ke-13 terkait Penanganan Perubahan Iklim, serta poin ke-17 soal Kerja Sama untuk Mencapai Tujuan. (*)