
Kampus ITS, ITS News — Ketimpangan rasio pengasuh di panti asuhan kerap berdampak pada lambatnya perkembangan kognitif balita. Merespons permasalahan tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang interior panti asuhan berbasis open-ended play environment untuk menstimulasi kreativitas anak usia dini.
Rancangan tersebut diprakarsai oleh mahasiswa Departemen Desain Interior ITS Hartaji Ramzani. Ia mengungkapkan bahwa gagasan ini dilatarbelakangi oleh kondisi Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Balita Tunas Bangsa di Jakarta. Ia mendapati rasio pengasuh dan anak mencapai 1 banding 6, tidak sesuai dengan kondisi ideal yakni 1 banding 4. “Kondisi ini berpotensi memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif anak,” terang pemuda asal Jakarta tersebut.
Guna mengatasi kurangnya tenaga pengasuh tersebut, mahasiswa yang akrab disapa Aji itu menghadirkan lingkungan bermain tanpa aturan kaku atau open-ended play environment . Konsep ini diimplementasikan melalui fasilitas interaktif seperti pegboard toy pada dinding serta furnitur fleksibel yang dapat ditumpuk. “Ruang ini mengajak anak belajar mandiri melalui pengalaman bermain,” jelas mahasiswa angkatan 2022 ini.

Lewat pengalaman bermain tersebut, rancangan ini difokuskan untuk melatih tiga indikator utama kreativitas balita, yakni openness, creative abilities, dan independence. Pemenuhan aspek psikologis ini diwujudkan lewat penyediaan area bebas bereksplorasi, sarana imajinatif multifungsi, hingga ketiadaan intervensi dari aturan letak perabot. “Ketiga indikator tersebut dapat dilatih secara alamiah melalui pendekatan desain interior,” tambahnya.
Secara visual, Aji menuturkan, desain interior ini menerapkan pola segitiga dan belah ketupat yang merepresentasikan wujud atap rumah. Setiap sudut perabot didesain tumpul dengan ketinggian maksimal 1 meter demi menjaga keamanan fisik balita. Pemilihan warna-warna lembut seperti hijau dan merah muda disesuaikan dengan tingkat aktivitas motorik di masing-masing ruang.

Riset inovatif ini tak lepas dari arahan dosen pembimbing Ajeng Kusumadewi Putri Jatmiko SDs MArch dan Yaritsa Husni Sabiela SDs MDs. Mereka memastikan rancangan ruang tersebut lebih inklusif dan memprioritaskan keselamatan. Fokus utamanya adalah menghadirkan desain yang mampu menyelesaikan permasalahan sosial dan dapat dimanfaatkan dengan nyaman.
Menurut Aji, rancangan inovatifnya ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, ke-4, dan ke-10. Yakni adanya tujuan Kehidupan yang Sehat dan Pendidikan Berkualitas diwujudkan lewat ruang aman yang menstimulasi psikologis serta proses belajar anak.
Di samping itu, lanjut Aji, tujuan Berkurangnya Kesenjangan turut dicapai dengan memberikan kesempatan tumbuh kembang setara bagi balita panti. “Semoga perancangan ini dapat menjadi referensi solutif bagi pengelola panti asuhan,” harapnya. (HUMAS ITS)
Reporter: Dicka Elkana Putra