
Kampus ITS, ITS News — Departemen Desain Interior Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menggelar pameran Tugas Akhir (TA). Acara yang terbuka untuk umum ini menjadi wadah wajib bagi hampir 70 mahasiswa tingkat akhir unjuk karya sebelum menghadapi sidang akhir kelulusan. Menampilkan beragam desain interior menakjubkan, karya studi mahasiswa ini dipamerkan selama dua hari sejak Senin (13/7).
Kepala Departemen Desain Interior ITS Dr Anggra Ayu Rucitra ST MMT menjelaskan bahwa ekshibisi ini merupakan salah satu tahapan yang harus ditempuh mahasiswa sebelum dinyatakan lulus. Tak hanya mengedepankan nilai estetika, ia menjelaskan bahwa setiap karya diawali dengan studi lapangan untuk menganalisis karakteristik dan kapasitas ruang menjadi sebuah konsep desain. “Kemudian konsep pemikiran desain itu dirumuskan agar dapat menyesuaikan kebutuhan pengguna,” tuturnya.

Tidak berhenti pada konsep desain dan laporan saja, Anggra menambahkan bahwa karya-karya desain interior ini juga perlu dikomunikasikan ke publik. Melalui pameran inilah, seluruh hasil pemikiran mahasiswa selama satu semester divisualisasikan agar dapat diapresiasi secara langsung. “Oleh sebab itu, pameran ini terbuka untuk umum agar mahasiswa tingkat akhir dapat menyampaikan idenya ke masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Pameran TA Caesario Ari Budianto ST MT menyebutkan, setiap tahun pameran TA akan mengusung tema yang berbeda. Kali ini, para peserta dikelompokkan secara spesifik berdasarkan jenis objek fasilitasnya. Ragamnya mulai dari perpustakaan, perkantoran, rumah sakit, sekolah, aula, transportasi, museum, pasar, hotel, hingga perumahan. “Mahasiswa kami bebaskan untuk memilih tema di setiap pamerannya,” ujar dosen Laboratorium Sains Interior ITS tersebut.

Adapun, salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung merupakan rancangan interior Kantor Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul karya Amalia Firda Az-Zahra. Mahasiswa yang akrab disapa Firda tersebut mengusung konsep desain tempat kerja adaptif yang dipadukan dengan identitas budaya lokal. “Dengan mengadaptasi motif Batik Walang khas Gunungkidul, kantor kebudayaan ini lebih memiliki identitas budaya yang kuat,” tambahnya.
Selain mengadaptasi motif batik, Firda juga menerapkan hierarki tata ruang rumah tradisional Jawa ke dalam zonasi kantor, seperti pendapa, pringgitan, ndalem, hingga sentong. Konsep tersebut dipadukan dengan prinsip smart office melalui penggunaan furnitur modular dan sekat ruang yang fleksibel sehingga mampu menciptakan ruang kerja yang adaptif dan efisien.

Tidak hanya karya milik Firda, masih banyak berbagai karya mahasiswa Departemen Desain Interior ITS yang menarik. Caesario sekaligus menegaskan, ekshibisi ini menjadi bukti komitmen ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) pada poin ke-4 terkait Edukasi Berkualitas. “Melalui pembuktian karya nyata ini, publik dapat melihat langsung kualitas desain interior yang aplikatif dan berdampak bagi masyarakat,” tandasnya.(*)
Reporter: Syahidan Nur Habibie Ash-shidieq
Redaktur: Mifda Khoirotul Azma