Lewat KKN, Mahasiswa ITS Tanamkan Budaya Pilah Sampah Sejak Dini

Published on
By
Pemberian materi pemilahan dan komposting sampah oleh Tim KKN Mandiri Departemen Teknik Lingkungan ITS kepada para siswa SDN Klampis Ngasem 1 Surabaya

Kampus ITS, ITS News – Kepedulian terhadap lingkungan perlu ditanamkan sejak usia dini sebagai langkah membangun kebiasaan hidup berkelanjutan. Berangkat dari semangat tersebut, sembilan mahasiswa Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri bertajuk Anak Hebat, Sekolah Sehat: Gerakan Pilah Sampah dan Komposting di SDN Klampis Ngasem 1 Surabaya.

Program yang berlangsung pada periode September hingga Desember 2025 lalu tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai pengelolaan sampah melalui edukasi pemilahan sampah dan praktik pembuatan kompos. Inisiatif ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pendidikan lingkungan, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Persiapan bahan untuk demonstrasi proses pemilahan sampah yang dilakukan tim KKN Mandiri dari Departemen Teknik Lingkungan ITS

Sebelum pelaksanaan kegiatan, tim KKN terlebih dahulu melakukan observasi dan koordinasi dengan pihak sekolah. Berdasarkan hasil identifikasi, sebagian besar siswa belum memahami perbedaan sampah organik dan anorganik. Selain itu, sampah organik yang dihasilkan di lingkungan sekolah juga belum dimanfaatkan sebagai kompos. Temuan tersebut menjadi dasar penyusunan program yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga praktik secara langsung.

Pada hari pertama, mahasiswa memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah dan penerapan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Materi disampaikan melalui presentasi interaktif, permainan edukatif, serta kegiatan membuat kolase menggunakan cacahan sampah anorganik. Melalui pendekatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa sampah masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan baik.

Kegiatan pemilahan dan komposting sampah yang diajarkan oleh Tim KKN Mandiri Departemen Teknik Lingkungan ITS bersama para siswa SDN Klampis Ngasem 1 Surabaya

Selanjutnya, siswa kelas 6 mengikuti praktik pembuatan kompos menggunakan sampah organik dan bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar sekolah. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk yang bermanfaat bagi penghijauan lingkungan sekolah sekaligus mengurangi timbulan sampah.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Mandiri Departemen Teknik Lingkungan ITS, Deqi Rizkivia Radita ST MS, menuturkan bahwa pendidikan lingkungan sejak usia dini menjadi salah satu langkah penting dalam membangun kebiasaan positif yang berkelanjutan. “Melalui pembelajaran yang interaktif dan praktik secara langsung, siswa tidak hanya memahami konsep pemilahan sampah dan komposting, tetapi juga diharapkan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah,” ujarnya.

Tim KKN Mandiri Departemen Teknik Lingkungan ITS saat memberikan materi pemilahan dan komposting sampah pada siswa SDN Klampsi Ngasem 1 Surabaya

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa setelah mengikuti rangkaian kegiatan. Siswa kelas 1 mampu membedakan sampah basah, sampah kering, dan sampah berbahaya, sedangkan siswa kelas 6 telah memahami konsep dasar komposting serta mampu mempraktikkan proses pembuatannya.

Antusiasme peserta juga terlihat dari keaktifan mereka selama sesi diskusi, permainan edukatif, maupun praktik bersama mahasiswa. Apresiasi turut disampaikan oleh guru-guru SDN Klampis Ngasem 1 karena materi yang diberikan dinilai selaras dengan upaya membangun budaya sekolah yang peduli terhadap lingkungan.

Penyerahan komposter dari Tim KKN Mandiri Departemen Teknik Lingkungan ITS kepada pihak SDN Klampis Ngasem 1 Surabaya

Di tengah pelaksanaan program, tim KKN juga menghadapi tantangan berupa perbedaan tingkat pemahaman dan rentang konsentrasi siswa. Untuk mengatasinya, mahasiswa menerapkan metode pembelajaran yang lebih variatif melalui permainan edukatif, praktik langsung, serta pendampingan intensif sehingga seluruh peserta tetap dapat mengikuti kegiatan secara aktif.

Melalui program ini, mahasiswa Teknik Lingkungan ITS berharap budaya memilah sampah dan mengolah sampah organik menjadi kompos dapat terus diterapkan di lingkungan sekolah. Dengan terbentuknya kebiasaan tersebut, SDN Klampis Ngasem 1 Surabaya diharapkan mampu menjadi contoh sekolah yang menerapkan pengelolaan sampah berkelanjutan serta menginspirasi masyarakat sekitar untuk semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan. (*)

×