
Kampus ITS, ITS News – Indonesia diberkahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun, kekayaan itu belum cukup jika hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Pesan inilah yang menjadi sorotan utama dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains dan Teknologi Indonesia (KSTI) 2026, Sabtu (27/6) yang menghadirkan para rektor, guru besar, peneliti, dan civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menilai agenda tersebut semakin mempertegas pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, Danantara, dan perguruan tinggi dalam membangun masa depan Indonesia. Menurutnya, hilirisasi dan investasi harus mampu menghadirkan nilai tambah yang nyata bagi bangsa. “Kolaborasi harus melahirkan teknologi mandiri, SDM tangguh, dan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Bambang.
Dalam paparannya, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan P Roeslani menegaskan bahwa hilirisasi merupakan strategi besar untuk membawa Indonesia naik kelas. Menurutnya, investasi tidak boleh berhenti sebagai angka target atau penandatanganan kerja sama semata. Investasi harus benar-benar menghadirkan industri baru, membuka lapangan kerja, dan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
Target investasi nasional periode 2025–2029 yang mencapai Rp 13.032 triliun menjadi bukti optimisme Indonesia dalam memperkuat fondasi ekonomi. Bahkan, realisasi investasi tahun 2025 telah melampaui target dengan capaian lebih dari 101 persen. Namun, Rosan menekankan bahwa keberhasilan tersebut harus dijaga melalui stabilitas nasional, kepastian hukum, serta kebijakan yang konsisten agar kepercayaan investor terus tumbuh.
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah semakin meratanya investasi ke luar Pulau Jawa. Kawasan seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara kini berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru melalui industri pengolahan mineral. Menurut Rosan, keberhasilan hilirisasi nikel menjadi contoh nyata transformasi tersebut, dari pengekspor bijih mentah menjadi pengembang rantai industri baterai dan kendaraan listrik.

Meski demikian, hilirisasi tidak boleh berhenti pada sektor mineral. Rosan menilai berbagai komoditas strategis seperti bauksit, timah, kelapa, sawit, rumput laut, hasil perikanan, hingga sektor pertanian juga memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Dengan begitu, kekayaan alam Indonesia tidak lagi sekadar menjadi komoditas ekspor, tetapi menjadi fondasi lahirnya industri yang lebih maju dan berkelanjutan.
Rosan juga memberikan perhatian khusus kepada dunia perguruan tinggi. Menurutnya, masih banyak hasil riset kampus yang berhenti sebagai publikasi ilmiah, padahal pemerintah telah membuka berbagai insentif untuk mendorong kolaborasi research and development antara perguruan tinggi dan industri. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci agar inovasi kampus dapat berkembang menjadi produk dan solusi yang meningkatkan daya saing industri nasional.
Melanjutkan pembahasan tersebut, Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Dr Sigit Puji Santoso menegaskan bahwa Indonesia harus bergerak dari negara penghasil komoditas menjadi bangsa yang mampu merancang, mengembangkan, memproduksi, hingga menguasai teknologi strategis. Menurutnya, hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan bahan mentah, tetapi harus berlanjut hingga penguasaan desain, rekayasa, manufaktur, data, dan pasar.
Dalam strategi tersebut, Danantara hadir bukan sekadar sebagai lembaga investasi, tetapi sebagai penghubung antara pendanaan, teknologi, industri, dan kepentingan nasional. Tujuan akhirnya adalah mempercepat lahirnya industri berteknologi tinggi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi menuju visi Indonesia Emas 2045.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Danantara memperkenalkan konsep triangle offense, yaitu kolaborasi erat antara perguruan tinggi sebagai penghasil riset dan talenta, lembaga pembiayaan sebagai penyedia investasi, serta industri sebagai ruang implementasi teknologi. Ketiga elemen tersebut dinilai harus berjalan beriringan agar inovasi nasional tidak berhenti di laboratorium, melainkan berkembang menjadi kekuatan ekonomi.
Dalam paparannya, Danantara menetapkan lima sektor prioritas, yakni energi, pangan dan kesehatan, mineral dan semikonduktor, transportasi dan infrastruktur digital, serta pertahanan. Berbagai proyek strategis tengah dipersiapkan, mulai dari pengembangan kendaraan nasional, energi terbarukan, semikonduktor, hingga kecerdasan buatan nasional. Di antara sektor tersebut, semikonduktor menjadi perhatian khusus dengan penguatan riset dan penyiapan talenta perguruan tinggi untuk mendukung penguasaan teknologi nasional.
Melalui Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026, semakin ditegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki. Keberhasilan bangsa juga bergantung pada kemampuan mengubah riset menjadi inovasi, inovasi menjadi industri, dan teknologi menjadi fondasi kemandirian bangsa. Bagi ITS, momentum ini semakin memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah dan industri dalam menghadirkan solusi teknologi yang berdampak bagi pembangunan nasional. (*)
Penulis: Dr Ir Machsus ST MT
Redaktur: Putu Calista Arthanti Dewi