
Kampus ITS, ITS News — Membangun Indonesia yang tangguh tidak cukup hanya dengan memperkuat Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dibutuhkan transformasi yang menyentuh sektor paling mendasar, mulai dari pangan, energi, sumber daya manusia (SDM), hingga kolaborasi erat dengan perguruan tinggi. Gagasan tersebut menjadi benang merah paparan Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria dalam Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026.
Di hadapan para rektor, guru besar, peneliti, dan sivitas akademika, Dony menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama kedaulatan bangsa. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam dan kapasitas produksi yang besar sehingga ketergantungan terhadap impor komoditas pangan harus terus dikurangi. Swasembada pangan, ungkapnya, bukan sekadar target sektoral, melainkan bagian dari strategi besar untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Dalam mendukung agenda tersebut, Dony memperkenalkan peran Koperasi Desa (Kopdes) sebagai motor baru ekonomi desa. Kopdes diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai lembaga administratif, tetapi menjadi pusat distribusi hasil pertanian, akses pembiayaan, penyedia pupuk dan bibit, hingga penghubung antara petani dengan pasar. Dengan rantai distribusi yang lebih singkat, petani diharapkan memperoleh nilai jual yang lebih baik sekaligus akses modal yang lebih mudah.
Persoalan pembiayaan juga menjadi perhatian. Menurut Dony, petani tidak boleh terus bergantung pada pembiayaan informal yang membebani mereka dengan bunga tinggi. Oleh karena itu, sinergi antara Kopdes, Kredit Usaha Rakyat (KUR), Permodalan Nasional Madani (PNM), dan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menjadi langkah penting untuk memperluas akses permodalan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.
Tak hanya sektor pangan, transformasi juga diarahkan pada penguatan kemandirian energi nasional. Dony menilai Indonesia harus bergerak lebih jauh dari sekadar memanfaatkan sumber daya alam menjadi mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Berbagai program hilirisasi, seperti pengembangan dimethyl ether (DME), bioetanol, biofuel, hingga bioavtur diposisikan sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi sekaligus memperkuat industri nasional.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat cadangan energi nasional. Pembangunan kilang, fasilitas penyimpanan, dan cadangan minyak dinilai menjadi langkah strategis agar Indonesia lebih siap menghadapi dinamika geopolitik maupun fluktuasi harga energi global. Namun, menurut Dony, seluruh transformasi tersebut tidak akan berjalan optimal tanpa kualitas SDM yang unggul.
Ia menyoroti pentingnya investasi jangka panjang melalui peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan. Program Makan Bergizi Gratis, pemerataan akses pendidikan, pemanfaatan teknologi pembelajaran, hingga pengembangan sekolah unggulan dinilai menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang siap menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045.
Pada sektor BUMN sendiri, Dony menjelaskan bahwa transformasi yang dilakukan berfokus pada pembenahan tata kelola, penyederhanaan struktur perusahaan, hingga penguatan bisnis inti. Melalui proses konsolidasi, jumlah perusahaan BUMN terus dirampingkan agar lebih efisien, sehat, dan mampu memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian nasional.
Dalam proses tersebut, Danantara mengambil peran sebagai penggerak transformasi. Berbagai evaluasi bisnis dilakukan untuk menentukan strategi terbaik bagi setiap perusahaan, mulai dari restrukturisasi, merger, divestasi, hingga penguatan sektor-sektor yang dinilai memiliki dampak strategis bagi bangsa.
Tak kalah menarik, Dony membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi perguruan tinggi. Kampus dinilai tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga harus menjadi mitra strategis dalam menghadirkan riset, inovasi, talenta, serta solusi bagi berbagai tantangan pembangunan nasional. Program magang, riset bersama, konsultansi, hingga keterlibatan akademisi dalam transformasi BUMN menjadi ruang kolaborasi yang terus didorong.
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memandang ajakan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi sebagai kampus teknologi yang mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan industri dan pembangunan nasional. Delegasi ITS, Dr Ir Machsus ST MT meyakini bahwa pemaparan Dony menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan, energi, SDM, dan transformasi BUMN harus turun menjadi kerja nyata yang berdampak bagi rakyat.
Oleh karenanya, Machsus menegaskan bahwa ITS siap hadir melalui riset, talenta, inovasi, dan kepakaran yang tangguh, berdampak, dan mendunia untuk memperkuat kemandirian industri, kedaulatan ekonomi, dan masa depan Indonesia.
Melalui Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026, semakin ditegaskan bahwa transformasi BUMN bukan semata tentang membenahi perusahaan negara, melainkan membangun ekosistem yang menghubungkan pangan, energi, industri, pendidikan, dan inovasi dalam satu visi besar. Bagi ITS, kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadi peluang untuk menghadirkan riset dan teknologi yang tidak hanya unggul di laboratorium, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat dan kemajuan Indonesia. (*)
Penulis: Dr Ir Machsus ST MT
Redaktur: Andra Eka Wijayanti