Guru Besar ITS Ciptakan Inovasi Model Estimasi Perangkat Lunak

Published on
By
Prof Dr Sholiq ST MKom MSA saat memaparkan inovasi model estimasi biaya perangkat lunak berbasis bahasa natural dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Profesor ke-239 ITS

Kampus ITS, ITS News — Seiring berkembangnya teknologi, transformasi menggunakan sistem digital kian terus digencarkan. Untuk mendampingi perkembangan ini, Guru Besar ke-239 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Sholiq ST MKom MSA menghadirkan sebuah inovasi model guna estimasi biaya pengembangan perangkat lunak berbasis bahasa natural.

Transformasi digital mendorong perangkat lunak menjadi fondasi utama berbagai layanan dan proses bisnis modern. Oleh karena itu, proses pengembangan perangkat lunak perlu dirancang secara matang guna meminimalkan risiko kegagalan proyek. Menjawab tantangan tersebut, dosen Departemen Sistem Informasi (SI) ITS tersebut menghadirkan inovasi bernama NL-COCOMO (Natural Language Constructive Cost Model), sebuah model estimasi biaya dan usaha proyek perangkat lunak yang memanfaatkan analisis bahasa alami.

Sholiq menegaskan bahwa inovasi NL-COCOMO berpotensi diterapkan di berbagai sektor karena pengembangan perangkat lunak kini menjadi bagian penting dalam transformasi digital di berbagai bidang. Menurutnya, model ini dapat membantu proses estimasi biaya proyek perangkat lunak agar lebih terstandar, sehingga mendukung pengembangan sistem digital yang lebih efektif dan akuntabel.

Prof Dr Sholiq ST MKom MSA menjelaskan alur proses pengembangan model estimasi perangkat lunak NL-COCOMO

NL-COCOMO dirancang untuk memperkirakan ukuran, kompleksitas, dan sumber daya yang dibutuhkan dalam pengembangan perangkat lunak. Sholiq mengungkapkan bahwa harga suatu perangkat lunak masih belum memiliki standardisasi dibandingkan produk fisik umumnya. “Tujuannya adalah menciptakan acuan dalam proyek perangkat lunak,” lanjut lelaki asal Gresik tersebut.

Sebelumnya, NL-COCOMO merupakan model yang bekerja sebatas untuk mengestimasi keperluan pengembangan perangkat lunak saja. Lelaki kelahiran 1971 tersebut pun merekonstruksi model ini dengan bantuan teknik pemrosesan bahasa alami atau Natural Language Processing (NLP). Sebab, NLP memungkinkan komputer untuk memproses bahasa manusia dalam bentuk teks atau data suara untuk memahami makna sepenuhnya, lengkap dengan maksud dan sentimen. “NLP dapat membuat penyampaian kebutuhan pengguna dikomunikasikan dengan lebih mudah,” jelas Sholiq.

Salah seorang mahasiswa ITS mencoba mengakses perangkat lunak NL-COCOMO

Ia mengelaborasikan bahwa dalam proses pengembangan perangkat lunak, tahapan memahami kebutuhan pengguna biasanya dilakukan melalui proses storytelling sebelum estimasi biaya dapat dilakukan. Melalui inovasi pemrosesan bahasa alami yang dikembangkan dalam model ini, proses tersebut dapat dilakukan lebih cepat dan efisien karena kebutuhan pengguna dapat diidentifikasi melalui sistem. “Sehingga perhitungan biaya dapat dilaksanakan lebih cepat,” imbuh alumnus Teknik Informatika ITS tersebut.

Melanjutkan penelitiannya, Sholiq berencana untuk mengembangkan arsitektur model NL-COCOMO yang sebelumnya menggunakan sistem monolithic menuju microservices dan cloud-native systems. Pengembangan ini memungkinkan penggunaan model secara independen, terhubung, dan terotomatisasi dibandingkan sistem sebelumnya yang hanya menggunakan sistem tunggal dalam satu basis kode saja.

Penelitian Kepala Laboratorium Manajemen Sistem Informasi ITS tersebut menjadi bukti nyata dukungan sivitas akademika ITS untuk mengupayakan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada poin ke-9 yakni Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Sholiq mengharapkan inovasi ini dapat dimanfaatkan sebagai standar dan mempermudah perancangan perangkat lunak. “Saya harap inovasi ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam perkembangan teknologi digital di Indonesia,” tutupnya. (HUMAS ITS)

 

Reporter: Nailah Rifdah Zakiyah

×