Gempa Yogyakarta dan Alarm Mitigasi bagi Jawa Timur

Published on
By
Kondisi Yogyakarta pasca gempa Mei 2006 (Sumber: AP)
Kondisi Yogyakarta pasca gempa Mei 2006 (Sumber: AP)

Kampus ITS, Opini — Gempa bumi yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 27 Mei 2006 menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Gempa berkekuatan magnitudo momen (Mw) 6,3 tersebut hanya berlangsung beberapa detik, tetapi menewaskan lebih dari 5.700 jiwa dan menghancurkan lebih dari 150 ribu rumah.

Besarnya dampak gempa itu memunculkan pertanyaan penting mengenai faktor yang menyebabkan gempa berkekuatan menengah dapat berubah menjadi bencana besar. Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bahwa kekuatan gempa bukan satu-satunya faktor penentu besarnya kerusakan dan korban jiwa. Kondisi inilah yang dapat menjadikan Gempa DIY 2006 sebagai pelajaran penting bagi daerah lain yang memiliki karakteristik serupa, termasuk Jawa Timur.

Secara umum, gempa dengan magnitudo 6,3 tergolong gempa menengah dan tidak selalu menimbulkan kerusakan besar. Namun, kondisi geologi dan kerentanan wilayah DIY saat itu memperparah dampak bencana. Salah satu temuan penting pascagempa ialah keberadaan blind fault atau sesar tersembunyi yang tidak teridentifikasi di permukaan. Penelitian Walter dkk. (2008) menunjukkan, sumber gempa berada di timur Sesar Opak yang sebelumnya dianggap sebagai penyebab utama.

Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa analisis bahaya gempa tidak cukup hanya mengandalkan pemetaan geologi permukaan. Masih terdapat kemungkinan keberadaan sesar aktif lain yang belum sepenuhnya teridentifikasi. Kondisi ini relevan bagi Jawa Timur yang memiliki banyak struktur sesar aktif, baik di darat maupun di wilayah lepas pantai.

Selain faktor sumber gempa, tingkat kerusakan di DIY juga dipengaruhi kondisi tanah dan kualitas bangunan. Sebagian besar wilayah terdampak berdiri di atas endapan vulkanik yang mampu memperkuat getaran gempa. Di sisi lain, banyak rumah warga dibangun tanpa struktur tahan gempa sehingga mudah runtuh ketika menerima guncangan kuat.

Karakteristik serupa juga dimiliki sejumlah wilayah di Jawa Timur. Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik berada di atas sedimen aluvial tebal yang berpotensi memperkuat guncangan. Sementara itu, wilayah Malang memiliki endapan vulkanik hasil aktivitas gunung api di sekitarnya. Tidak hanya itu, sebagian rumah di daerah perkotaan maupun pedesaan masih menggunakan konstruksi non-rekayasa yang rentan mengalami kerusakan saat gempa terjadi.

Sesar aktif di Pulau Jawa (Pusgen, 2024)
Sesar aktif di Pulau Jawa (Pusgen, 2024)

Keberadaan Sesar Kendeng dan Zona Sesar Rembang–Madura–Kangean–Sakala juga menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki potensi aktivitas seismik yang perlu diperhatikan serius. Data Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) menunjukkan, sejumlah segmen sesar di Jawa Timur masih aktif hingga saat ini. Beberapa kejadian gempa dalam beberapa tahun terakhir, seperti gempa Situbondo 2018 dan gempa Bawean 2024, menjadi bukti bahwa aktivitas tektonik di wilayah ini masih berlangsung.

Meski demikian, keberadaan sesar aktif tidak serta merta membuat gempa besar akan segera terjadi. Hingga kini, gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti. Oleh karena itu, upaya pengurangan risiko menjadi langkah paling realistis untuk dilakukan. Pemerintah, akademisi, dan masyarakat perlu memperkuat mitigasi berbasis data dan kesiapsiagaan.

Pengembangan riset geodesi, pemantauan seismik, hingga mikrozonasi wilayah perlu terus ditingkatkan agar karakteristik tanah dan potensi guncangan dapat dipetakan lebih rinci. Selain itu, penambahan instrumen pengukur getaran tanah juga penting untuk mendukung sistem peringatan dini yang lebih baik.

Di sisi lain, kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi faktor utama dalam mengurangi korban jiwa. Edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi rutin, serta penerapan standar bangunan tahan gempa harus menjadi perhatian bersama. Pengalaman DIY menunjukkan bahwa dampak bencana besar seperti gempa juga ditentukan oleh tingkat kesiapan wilayah dalam menghadapinya. (*)

 

Ditulis oleh:
Kadek Hendrawan Palgunadi ST MSc PhD
Dosen Departemen Teknik Geofisika ITS

 

×