
Kampus ITS, Opini — Bagi umat Muslim, Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan yang identik dengan penyembelihan hewan kurban. Di balik hari raya tersebut, tersirat nilai spiritual dan pelajaran hidup melalui kisah teladan yang menyertainya. Salah satunya ialah menegur cara manusia mencintai dunia dan memandang makna di balik kepemilikan.
Di era modern ini, manusia sering mendefinisikan diri melalui berbagai capaian duniawi yang diraih. Gelar akademik, jabatan, kekayaan, hingga validasi sosial secara tidak sadar telah menjadi tolok ukur kebahagiaan dan nilai diri. Hal ini membuat manusia mencintai hal yang seakan adalah miliknya sehingga terjebak oleh rasa takut kehilangan dan ambisi yang tiada habisnya.
Fenomena tersebut seyogyanya menjadi titik evaluasi dengan berkaca pada sejarah Idul Adha, yakni kisah Nabi Ibrahim. Berdasarkan QS As-Saffat ayat 101-111, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Perintah tersebut menjadi ujian yang berat karena Nabi Ismail merupakan anugerah terbesar setelah penantian panjang Nabi Ibrahim untuk memperoleh keturunan.
Meskipun demikian, Nabi Ibrahim merelakan putra tercintanya demi menunaikan perintah Sang Khalik. Keteguhan hati beliau mencerminkan sebuah kesadaran agung, bahwa apa pun yang ada di dunia ini sejatinya bukanlah milik manusia melainkan mutlak milik Sang Pencipta. Menyaksikan ketulusan iman Nabi Ibrahim dalam ujian yang berat tersebut, Allah kemudian menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba dari surga untuk disembelih.

Nabi Ismail yang merupakan simbol akan cinta dan pencapaian telak membuat kisah tersebut menjadi pengingat akan hubungan manusia dengan kepemilikan duniawi. Merujuk dari jurnal oleh Harmaini dkk di tahun 2022, perintah tersebut tak hanya tentang pengorbanan fisik, melainkan proses penghancuran keterikatan terhadap dunia. Kecintaan terhadap dunia dan segala isinya tidak seharusnya melampaui kecintaan kepada Yang Maha Kuasa.
Nilai dari sejarah Idul Adha ini sangat relevan di masa kini karena manusia memiliki bentuk “Ismail” nya masing-masing. Ketika sesuatu terasa terlalu penting untuk dilepaskan, manusia perlahan kehilangan kebebasan batinnya. Nilai keikhlasan, kesabaran, serta kemampuan melepaskan keterikatan yang tercermin dalam kisah Nabi Ibrahim dapat menjadi fondasi bagi kesehatan psikologis manusia modern.
Oleh karena itu, perayaan Idul Adha hadir sebagai pengingat untuk mengikhlaskan segala hal yang dianggap berharga. Seorang mistikus Sufi, Jalaluddin Rumi pernah menuliskan bahwa kemerdekaan sejati seorang manusia bukanlah ketika berhasil menggenggam seluruh dunia, melainkan ketika manusia menyadari bahwa tak ada satu pun dari dunia ini yang benar-benar dimiliki.
Ditulis oleh:
Aulia Okta Wijaya
Departemen Teknik Infrastruktur Sipil
Angkatan 2024
Reporter ITS Online