Memaknai Kenaikan Kristus sebagai Estafet Mandat Kasih di Dunia

Published on
By
Ilustrasi siluet kenaikan Yesus Kristus (Sumber: Africa Images)
Ilustrasi siluet kenaikan Yesus Kristus (sumber: Africa Images)

Kampus ITS, Opini — Hari Kenaikan Yesus Kristus merupakan momentum iman yang diperingati umat Kristiani pada 40 hari pasca perayaan Paskah. Peristiwa kenaikan ini hadir bukan sebagai penutup akan tirai sejarah Kekristenan, melainkan estafet mandat kasih Sang Juruselamat bagi setiap insan di muka bumi.

Dalam keyakinan Kristiani, Yesus Kristus dipercaya sebagai perwujudan kasih ilahi yang diutus ke bumi untuk hadir secara nyata di tengah-tengah manusia. Meski menyandang status sebagai Anak Allah, Ia memilih untuk menyelami keterbatasan manusia dalam rupa yang kudus dan tak bercela. Kehadiran-Nya diyakini sebagai bagian dari misi agung untuk membawa pengharapan dan pemulihan bagi dunia. 

Dalam penggenapannya, kisah tersebut meliputi rangkaian peristiwa besar yang menjadi puncak sejarah Kekristenan. Narasi keselamatan ini mencakup kelahiran yang diperingati sebagai Natal, kematian sebagai Jumat Agung, kebangkitan sebagai Paskah, dan kenaikan ke surga. Rangkaian panjang ini menjadi bukti nyata atas anugerah Kristus dalam menebus manusia dari belenggu dosa.

Ilustrasi Yesus Kristus memikul salib (Sumber: Wwing)
Ilustrasi Yesus Kristus memikul salib (sumber: Wwing)

Namun demikian, peristiwa kenaikan sejatinya bukanlah akhir cerita. Dalam catatan Alkitab, momentum ini disertai dengan Amanat Agung yang disampaikan Yesus sebelum Ia terangkat ke surga. Mandat tersebut merupakan perintah untuk mewartakan injil atau kabar baik hingga ke seluruh penjuru dunia. Perintah ini menegaskan bahwa kenaikan meninggalkan sebuah misi berkelanjutan dalam hal pemuridan. 

Memandang misi tersebut, Amanat Agung meletakkan tanggung jawab moral yang besar bagi setiap umat Kristiani. Dalam implikasinya, pemuridan tidak lagi terbatas pada kegiatan berkhotbah di muka umum. Jauh melampaui hal tersebut, mandat ini mengajak setiap orang percaya untuk hidup menyerupai Kristus dan menjadi kawan sekerja Allah. Maka dari itu, orang beriman dipanggil untuk hidup berdampak bagi sesama, bukan menjadi pribadi yang hanya mementingkan diri sendiri.

Di samping itu, implementasi amanat mulia ini harus senantiasa diselaraskan dengan dinamika kehidupan masa kini. Di tengah arus teknologi dan informasi yang kian masif, nilai-nilai pemuridan harus tetap menemukan ruang untuk hadir di tengah publik melalui pendekatan yang relevan. Adaptasi terhadap perkembangan zaman menjadi kunci agar pesan keselamatan dapat menyentuh hati semua umat.

Ilustrasi tangan saling menolong sebagai implikasi akan hidup yang memberi dampak (Sumber: Kieferpix)
Ilustrasi tangan saling menolong sebagai implikasi akan hidup yang memberi dampak (sumber: Kieferpix)

Menyikapi hal tersebut, pewartaan yang kreatif dan inspiratif dapat menjadi salah satu cara untuk membagikan kabar baik tentang Kristus. Dengan memanfaatkan berbagai kanal digital, pengabaran keselamatan dapat menjangkau khalayak luas tanpa terhalang jarak dan waktu. Menghilangkan segala rasa malu atau khawatir akan cemooh, setiap umat Kristiani dipanggil untuk memberitakan kebenaran sebagai wujud nyata akan keteguhan iman. 

Pada akhirnya, Hari Kenaikan Yesus Kristus bukanlah sekadar seremonial Kekristenan yang menjadi penutup kisah sejarah. Peristiwa ini juga bukan untuk membebaskan manusia agar dapat menjalani kehidupan dengan semena-mena. Sebaliknya, kenaikan menjadi awal dari babak kehidupan baru untuk hidup bertanggung jawab dengan menjalankan Amanat Agung sembari menanti kedatangan-Nya yang kedua kali.

 

Ditulis oleh:
Jecklin Chintya Galle Djami
Mahasiswa Departemen Kimia
Angkatan 2025
Reporter ITS Online 

×