
Baguio, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kian menguatkan komitmen risetnya melalui kerja sama strategis dengan lembaga riset Filipina, International Research and Development Organization for Sustainable Solutions (IRDOSS). Kolaborasi riset untuk menghadapi krisis iklim di kawasan Asia Tenggara ini diselenggarakan di Crown Legacy Hotel, Filipina, Rabu (8/4).
Wakil Kepala Pusat Studi Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik (PSPI-KP) ITS Mukhammad Muryono SSi MSi PhD mengungkapkan bahwa kawasan Asia Tenggara memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan iklim khususnya di wilayah pesisir dan kepulauan. Kondisi tersebut memerlukan upaya penanganan krisis iklim dengan keterlibatan aktif antarnegara di kawasan Asia Tenggara. “Diperlukan sinergi lintas negara berbasis riset yang terintegrasi dengan kebijakan publik,” ujarnya.
Lelaki yang akrab disapa Muryono ini membeberkan, sinergi lintas negara tersebut tertuang pada kerja sama IRDOSS dan lima negara di Asia Tenggara. Kelima negara tersebut antara lain Indonesia, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Thailand. ITS mewakili Indonesia akan terlibat aktif dalam pertukaran data dan berkontribusi secara teknis melalui kolaborasi ini.
Lebih dalam, dosen Departemen Biologi ITS ini menjelaskan bahwa ITS akan berfokus untuk memastikan efektivitas penerapan Blue-Green pada kebijakan publik lintas negara. Ia menuturkan, Blue-Green merupakan strategi yang mengintegrasikan aspek lingkungan dan pembangunan untuk keberlanjutan. “Pendekatan ini mampu menghasilkan solusi yang adaptif terhadap karakteristik geografis negara-negara di Asia Tenggara,” imbuh Muryono.
Alumnus Tohoku University tersebut memaparkan salah satu langkah strategis dalam kolaborasi ini yaitu persiapan soft launching ASEAN SDGs Academy sebagai pusat unggulan di kawasan. Akademi ini dirancang untuk mencetak talenta profesional yang mampu mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam praktik pembangunan berkelanjutan. Dampak akademi ini mampu memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam merespons isu lingkungan secara berkelanjutan.
Dalam pengembangan ASEAN SDGs Academy, Muryono menuturkan bahwa IRDOSS turut berperan dalam penyusunan kurikulum berbasis standar internasional. Integrasi kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG) serta Corporate Social Responsibility (CSR) dalam kurikulum diharapkan mendorong praktik konservasi yang lebih aplikatif.

Melalui kerja sama ini, ITS optimis dapat memperkuat jejaring riset regional sekaligus mendorong lahirnya inovasi berkelanjutan. Menurut Muryono, keterlibatan aktif IRDOSS Filipina memastikan visi keberlanjutan didukung oleh jaringan riset yang kuat di tingkat regional. “Keterkaitan antarpeneliti di kawasan Asia Tengga menjadi kunci dalam mempercepat implementasi solusi pada kebijakan publik,” tuturnya mengakhiri.
Ke depan, kerja sama ini diharapkan mampu memperkuat posisi ASEAN dalam menghadapi tantangan perubahan iklim secara kolektif. Upaya ini juga menjadi bagian dari kontribusi ITS dalam mendorong Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim serta poin ke-17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (*)
Reporter: Nadhifa Raghda Syaikha
Redaktur: Aghnia Tias Salsabila