Bisakah Teknologi Memahami Tangisan Bayi?

Published on
By
Bayi menangis dikelilingi ikon teknologi seperti gelombang audio dan grafik digital, judul artikel: Memahami Tangisan Bayi Melalui Inovasi Teknologi.
Ilustrasi seorang bayi menangis yang dikelilingi oleh elemen teknologi seperti gelombang suara, sensor digital, dan tampilan data, menggambarkan bagaimana inovasi teknologi dapat membantu memahami makna di balik tangisan bayi.

Kampus ITS, Insight – Setiap orang tua barangkali pernah berada di situasi yang sama. Bayi menangis, tetapi tidak ada yang benar-benar tahu apa penyebabnya.  Apakah ia lapar, mengantuk, atau sekadar merasa tidak nyaman? Di usia ketika kata-kata belum bisa diucapkan, tangisan menjadi satu-satunya cara bayi berkomunikasi dengan dunia di sekitarnya.

Masalahnya, bahasa pertama manusia ini justru sering menjadi bahasa yang paling sulit dipahami.

Pertanyaan sederhana itulah yang kemudian mendorong peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk mencari jawabannya melalui teknologi. Lewat penelitian di bidang rekayasa perangkat lunak dan pengolahan suara, mereka mencoba melihat kemungkinan baru: mungkinkah komputer membantu mengenali arti di balik tangisan bayi?

Jawabannya ternyata cukup menjanjikan.

Tiga peneliti ITS, yakni Welly Setiawan Limantoro, Chastine Fatichah, dan Umi Laili Yuhana, mengembangkan sebuah aplikasi yang dirancang untuk mengenali jenis tangisan bayi secara otomatis. Sistem ini bekerja dengan menganalisis pola suara tangisan, lalu mengelompokkannya berdasarkan karakteristik tertentu.

Di balik proses itu, ada teknologi yang digunakan untuk “mendengarkan” suara bayi secara lebih teliti daripada telinga manusia biasa. Peneliti memanfaatkan metode Mel-Frequency Cepstral Coefficient atau MFCC, sebuah teknik yang umum digunakan dalam pengolahan suara untuk menangkap ciri-ciri penting dari sinyal audio. Setelah karakteristik suara diperoleh, sistem kemudian menggunakan algoritma K-Nearest Neighbor atau KNN untuk mengklasifikasikan jenis tangisan tersebut.

Dengan cara itu, komputer tidak hanya merekam suara, tetapi juga belajar mengenali pola. Tangisan yang terdengar mirip bagi orang dewasa ternyata dapat memiliki perbedaan karakteristik yang cukup jelas ketika dianalisis secara komputasional.

Hasilnya pun tidak main-main. Dalam pengujian tertentu, sistem yang dikembangkan tim ITS ini mampu mengenali berbagai jenis tangisan bayi dengan tingkat akurasi lebih dari 96 persen. Angka ini menunjukkan bahwa tangisan bayi bukan sekadar suara spontan tanpa pola, melainkan sinyal yang bisa dipelajari, dipetakan, dan diinterpretasikan dengan bantuan teknologi.

Di sinilah menariknya penelitian ini. Teknologi yang dikembangkan bukan hanya soal kecanggihan sistem, tetapi juga soal kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari. Bagi orang tua baru, aplikasi semacam ini bisa menjadi pendamping awal untuk membantu memahami kebutuhan bayi dengan lebih cepat. Di lingkungan rumah sakit, terutama ruang perawatan neonatal, sistem ini juga berpotensi menjadi alat bantu tambahan bagi tenaga kesehatan dalam memantau kondisi bayi.

Lebih jauh lagi, riset ini membuka peluang bagi pengembangan sistem monitoring bayi berbasis kecerdasan buatan. Bukan tidak mungkin, di masa depan akan hadir perangkat pintar yang dapat memberi notifikasi kepada orang tua saat pola tangisan tertentu terdeteksi, sehingga respons terhadap kebutuhan bayi bisa dilakukan dengan lebih tepat.

Namun yang membuat penelitian ini terasa dekat adalah gagasan besarnya: teknologi ternyata bisa dipakai untuk memahami sesuatu yang sangat manusiawi. Selama ini, inovasi sering dibayangkan hadir dalam bentuk robot, mesin industri, atau sistem digital yang rumit. Padahal, teknologi juga bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana dan akrab—membantu orang tua memahami tangisan anaknya.

Penelitian dari ITS ini seolah mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu harus menjauh dari sisi emosional manusia. Sebaliknya, teknologi justru bisa menjadi jembatan untuk memperkuat kepedulian, mempercepat respons, dan membantu kita memahami kebutuhan orang lain, bahkan sejak awal kehidupan.

Karena pada akhirnya, sebelum manusia mengenal kata-kata, ada tangisan yang lebih dulu menjadi bahasa. Dan kini, berkat sentuhan riset dan inovasi, bahasa itu perlahan mulai bisa diterjemahkan.

Penelitian yang berjudul Application Development for Recognizing Type of Infant’s Cry Sound ini dipublikasikan pada Proceedings of 2016 International Conference on Information and Communication Technology and Systems (ICTS 2016). Artikel ilmiah tersebut dapat diakses melalui DOI: 10.1109/ICTS.2016.7910291.

×