
Kampus ITS, Opini – Ramadan menjadi momen yang paling ditunggu oleh umat muslim. Tidak hanya sebagai penanda datangnya waktu berpuasa, tetapi juga menjadi ruang bagi seluruh manusia untuk memperkuat spiritualitas. Namun, semangat tersebut justru sering luput tatkala sore hari. Berburu takjil hingga membeli makanan berlebihan perlahan menjadi sebuah kebiasaan. Alhasil, perilaku menahan diri di bulan puasa pun bergeser menjadi perilaku konsumtif tak terkendali.
Perilaku yang kerap dijuluki lapar mata ini membuat makna pengendalian diri saat bulan puasa berubah. Dengan dalih sebagai bentuk penghargaan setelah menahan lapar dan haus seharian, banyak orang justru kehilangan kendali untuk membeli makan dan minum dalam jumlah berlebihan. Akibatnya, tidak sedikit dari hidangan yang dikonsumsi tersebut berujung mubazir dan berubah menjadi sampah.
Ironisnya, tren membuang makanan tersebut justru selalu melonjak tajam di bulan puasa tiap tahunnya. Laporan dari UNEP Food Waste Index mencatat bahwa Indonesia membuang 523 kilogram sampah makanan per kapita dan menghasilkan jutaan ton sampah setiap tahun. Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan sederhana, melainkan berpotensi menjadi salah satu penyumbang terbesar timbunan sampah di tingkat nasional.

Sejalan dengan hal tersebut, dilansir dari radarsurabaya.id, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya mengungkapkan jika volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo mengalami kenaikan dibandingkan hari biasa. Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Pemanfaatan Limbah DLH Surabaya, Ali Mustofa, menjelaskan rata-rata timbunan sampah harian meningkat dari sekitar 1.700 ton menjadi 1.730 ton per hari selama Ramadan.
Fenomena ini pun tentu bertolak belakang dengan esensi puasa itu sendiri. Dalam siniar Putar Balik (Putbal) episode Kenapa Puasa di kanal youtube Panji Pragiwaksono, Ustaz Felix Siauw menjelaskan bahwa puasa adalah sarana untuk mengalihkan fokus dari kebutuhan fisik agar manusia bisa lebih menekuni hubungan spiritual dengan Al-Quran. “Allah mengatur agar manusia tidak sibuk memikirkan urusan perut, sehingga punya kelonggaran waktu untuk spiritualitas,” ujarnya.

Pandangan tersebut seolah menampar realita kebiasaan masyarakat kita saat ini. Menjadi ironi ketika bulan yang seharusnya mengajarkan kesederhanaan dan mengurangi urusan perut justru bertransformasi menjadi ajang balas dendam kalori. Kini, sudah saatnya masyarakat kembali mengkalibrasi niat puasanya. Mari kita usahakan agar pahala puasa yang dibangun sejak terbit fajar tidak hilang sia-sia ikut terbuang ke tempat sampah bersama sisa makanan saat waktu magrib. (*)
Ditulis oleh:
Harri Raditya Ardianto
Departemen Teknik Instrumentasi
Angkatan 2024