
Kampus ITS, Editorial — Integritas riset menjadi sorotan usai penilaian publikasi menggunakan Research Integrity Risk Index (RI2) menempatkan sejumlah kampus top dalam kategori berisiko. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pun berada di zona kuning yang menimbulkan pertanyaan besar. Sejauh mana integritas riset ITS diprioritaskan dan bagaimana Kampus Pahlawan menjaga komitmennya tetap kuat?
Masuknya ITS dalam kategori watch list pada RI2 menempatkan kualitas dan etika publikasi ilmiah sebagai isu krusial di lingkungan akademik. Indeks penilaian ini mencakup beberapa hal, termasuk Delisted Journal Risk (D-Rate), Retraction Risk (R-Rate), dan Self-Citation Risk (S-Rate). Indikator penilaian yang dikembangkan oleh American University of Beirut ini menegaskan bahwa kini penelitian tidak hanya berfokus pada kuantitas, tetapi juga kualitas penelitian.
Dosen Departemen Kimia ITS Prof Adi Setyo Purnomo MSc PhD menyebut bahwa ITS telah menjalankan berbagai mekanisme untuk menjamin kualitas penelitian melalui Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) ITS. Salah satunya, ITS telah menerapkan ekosistem proposal penelitian yang harus melalui mekanisme monitor evaluasi sebelum dikembangkan.
Meskipun ITS telah memiliki beragam upaya dalam menjaga kualitas dan integritas risetnya, hal tersebut nyatanya belum berjalan optimal. Berdasarkan evaluasi RI2, sistem yang sudah berjalan ini masih menyisakan celah kecil, tetapi cukup untuk menempatkan ITS dalam posisi watch list pada RI2.
Salah satu penyebab munculnya celah tersebut adalah masih adanya ketimpangan pemerataan kualitas riset di kalangan dosen. Menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, penelitian menjadi salah satu kewajiban perguruan tinggi. Namun sayangnya, kebijakan tersebut sering kali tidak sejalan dengan kapasitas masing-masing dosen, sehingga beberapa penelitian terkesan hanya untuk memenuhi kewajiban administratif belaka.

Pun ketika riset akhirnya terselesaikan, oknum yang terlibat cenderung berakhir mempublikasikan hasil risetnya di jurnal yang tidak bereputasi. Berdasarkan hasil observasi, dari 17 ribu riset publikasi ITS, memang hanya kurang dari sepuluh yang terindikasi masuk jurnal predator. Walau angka ini terlihat sangat kecil secara proporsi, tetapi jumlah tersebut tetap memengaruhi penilaian ITS dalam RI2 yang sensitif terhadap integritas publikasi.
Hal ini menunjukkan bahwa budaya riset yang sehat seharusnya tidak hanya ditopang dari kemampuan menulis saja, tetapi juga awareness dalam memilih kanal publikasi yang tepat. Publisher bereputasi menerapkan proses review yang ketat dan transparan. Sementara itu, jurnal predator menawarkan jalan pintas dengan mengenakan tarif tertentu. Akan tetapi, budaya riset sehat ini bukan lahir melalui prosedur instan melainkan melalui proses panjang yang menjaga kualitas dan integritas keilmiahan.
Apabila ditelusuri lebih jauh, terdapat tiga tantangan yang berpotensi menjadi penghambat dinamika integritas riset di ITS. Pertama, pendanaan riset yang cenderung terlambat membuat banyak penelitian terasa berjalan tergesa-gesa. Kedua, kewajiban publikasi bagi seluruh dosen yang menyebabkan sebagian riset berjalan tanpa pondasi metodologi yang kuat. Ketiga, adanya kemungkinan falsifikasi atau ketidaksesuaian data saat dilakukan percobaan ulang terhadap eksperimen.
Berbagai langkah strategis telah dan sedang ditempuh oleh ITS untuk mengatasi tantangan yang ada. Mulai dari program pelatihan rutin yang mencakup penulisan ilmiah, penyelenggaraan mata kuliah metodologi penelitian, hingga pengadaan bimbingan teknis internal bagi peneliti. Selain itu, ITS juga menerapkan quality control berlapis dari tingkat departemen, komite fakultas, hingga unit penjaminan mutu untuk memastikan setiap proses penelitian memenuhi standar integritas institusi.
Tak hanya itu, ITS juga secara tegas memperbarui daftar jurnal predator setiap tahun dan memberikan insentif bagi publikasi yang berhasil menembus Q1 dan Q2. Pilihan untuk mendorong peneliti bekerja dengan publisher bereputasi adalah langkah strategis untuk jangka panjang. Langkah ini bukan hanya strategi jangka pendek untuk memperbaiki reputasi, melainkan juga investasi jangka panjang untuk memperkuat budaya riset yang berkualitas dan berintegritas.
Masuknya ITS ke daftar watch list RI2 bukanlah sebuah aib, melainkan peringatan dan momentum untuk berbenah. Sebuah pengingat bahwa perjalanan untuk menuju kampus riset kelas dunia membutuhkan integritas dan dedikasi yang tinggi. Tantangan yang dihadapi ITS saat ini bukanlah persoalan besar, tetapi menutup celah-celah kecil dalam budaya riset yang harus diperbaiki.
ITS sudah sepatutnya memiliki fondasi yang kuat dan struktur yang jelas dalam memperbaiki kualitas risetnya. Keberhasilan keluar dari watch list RI2 hanya akan terjadi apabila seluruh peneliti, dari mahasiswa hingga dosen, bersama-sama memegang teguh prinsip riset yang berintegritas. Sejatinya, riset yang berintegritas adalah riset yang jujur, terukur, dan berkontribusi nyata pada ilmu pengetahuan.
Ditulis oleh:
Tim Redaksi ITS Online