
Kampus ITS, Opini – Gunung Kelud di Jawa Timur, salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, meletus dahsyat pada 13 Februari 2014 pukul 22.50 WIB. Pos Pantau Gunung Kelud sebelumnya menaikkan status menjadi Waspada (Level II) pada Minggu, 2 Februari 2014. Sehari kemudian, status meningkat menjadi Siaga (Level III). Pada Kamis, 13 Februari 2014 pukul 20.00 WIB, status kembali dinaikkan menjadi Awas (Level IV), yang berarti seluruh masyarakat di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III dan II harus segera mengungsi.
Umumnya, letusan terjadi beberapa hari setelah penetapan status Awas. Namun, pada peristiwa ini, hanya berselang dua jam sejak pengumuman Level IV, letusan besar terjadi. Puluhan ribu warga harus mengungsi dengan waktu persiapan yang sangat terbatas. Ribuan orang turun secara bersamaan, banyak di antaranya dengan tubuh penuh pasir dan abu vulkanik.
Sekitar pukul 22.00 WIB, letusan dahsyat terjadi. Secara visual, letusan awal terpantau melalui CCTV berupa percikan api dan lontaran material pijar dari dinding Kubah Lava 2007. Lima menit kemudian, dalam gelapnya malam, tampak abu hitam pekat mengepul kuat dari kawah puncak hingga membumbung tinggi, disertai kilatan petir. Suara dentuman tidak terdengar jelas dari Pos Kelud. Seluruh anggota Tim Tanggap Darurat Gunung Api Kelud saat itu segera mengevakuasi diri ke Kota Kediri.
Tipe letusan bersifat eksplosif dengan kolom erupsi mencapai puluhan kilometer dan menyemburkan material vulkanik, diikuti hujan batu, kerikil, dan abu. Ketika magma menerobos ke permukaan dengan cepat dan bertemu udara terbuka, terjadi ledakan akibat perbedaan suhu yang signifikan. Magma membeku dan terfragmentasi menjadi berbagai ukuran material, mulai dari bongkah (>6,4 cm) hingga abu halus (<2 mm).
Butiran batuan berukuran lebih dari 0,4 cm umumnya jatuh di sekitar puncak gunung api. Pada kolom letusan setinggi 20 km, batu berukuran >6,4 cm jatuh sekitar 3 km dari puncak, sedangkan batu berukuran 0,4 cm dapat mencapai jarak 10 km. Jika tinggi kolom letusan melebihi 20 km, batu berukuran 6,4 cm dapat mencapai radius 10 km. Arah jatuhan material juga sangat dipengaruhi oleh kecepatan dan arah angin.

Sejumlah kesaksian warga Dusun Kebonrejo, Kecamatan Kepung, yang berjarak sekitar 5 km dan berada di KRB II, menggambarkan dahsyatnya erupsi tersebut. Mereka telah mengalami tiga kali erupsi, yakni pada 1990, 2007, dan 2014, namun letusan 2014 dinilai paling parah. Petir menggelegar, langit menghitam pekat, dan hujan kerikil turun deras dalam waktu cukup lama.
Penyelamatan warga saat letusan Kelud menjadi kisah sukses. Sekitar 180.000 jiwa di Kediri, Malang, dan Blitar berhasil dievakuasi dalam waktu kurang dari dua jam, yakni pukul 21.15 hingga 22.50 WIB. Tidak ada korban jiwa, dan proses evakuasi berlangsung tertib serta lancar. Masa tanggap darurat dan pemulihan pascabencana pun berlangsung kurang dari satu tahun hingga kondisi kembali normal.
Respons terhadap bencana Kelud menunjukkan kekuatan kultural masyarakat setempat. Masyarakat Kelud yang mayoritas berbudaya Jawa menjunjung tinggi nilai hormat dan harmoni. Hormat dimaknai sebagai penghargaan terhadap peran setiap individu serta kesetiaan dalam menjalankan tanggung jawab. Harmoni dipahami sebagai upaya menjaga keselarasan antara manusia dan alam. Abu Kelud bahkan diyakini sebagai warisan kesuburan bagi generasi mendatang.
Dunia mengapresiasi ketangguhan masyarakat di sekitar Gunung Kelud karena puluhan ribu orang berhasil selamat. Peristiwa ini menunjukkan peran penting masyarakat dalam penanggulangan bencana. Warga, bersama pemerintah daerah dan berbagai unsur lainnya, telah lama belajar dari siklus erupsi Kelud. Inisiatif edukasi, kesiapsiagaan, hingga pengelolaan evakuasi dan pengungsian dilakukan secara mandiri dan terorganisasi. (*)
Dr Ir Amien Widodo MSi
Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya