“Menjadi mahasiswa harus seimbang antara akademik maupun non akademik,†tutur Prof Dr Suasmoro yang didaulat menjadi pembicara dalam kesempatan tersebut. Menurut Pembantu Rektor III ITS ini setiap orang akan bisa survive jika mempunyai daya saing, yaitu softskill.
Pada beberapa kesempatan temu alumni ITS, Suasmoro mencontohkan, banyak alumni yang berpesan agar softskill dimasukkan dalam kurikulum ITS. Disamping itu, pada setiap bursa karir yang digelar oleh Student Advisory Centre (SAC), kebanyakan perusahaan tidak terlalu memperhatikan kemampuan akademik mahasiswa. “Perusahaan sudah tahu standar IPK-nya ITS, mereka mencari hal lain yang tak lain adalah softskill mahasiswa,†tegas Suasmoro.
Hal itulah yang melatarbelakangi diberlakukannya wajib SKEM di ITS. Untuk mahasiswa tahap Sarjana seribu poin, dan untuk mahasiswa Diploma 750 poin. Dengan adanya SKEM, menurut Suasmoro, mahasiswa dipaksa untuk tidak terpaku dengan akademik saja. “SKEM memaksa mahasiswa yang kakinya berat untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesamanya,†tandas Suasmoro kemudian.
Salah satu yang menjadi harapan output dari SKEM adalah kemampuan kognitif. Yang oleh Suasmoro terumuskan menjadi tujuh poin. Yaitu communication skill, integritas, team work, interpersonality, motivation intrative, quality worker, serta adaptability and analytical thingking.
Namun nyatanya, meski sudah hampir tiga tahun dilakukan, masih banyak mahasiswa yang belum paham tentang peraturan SKEM. Termasuk para dosen wali mahasiswa. Kebanyakan dosen wali menganggap validasi SKEM dilakukan bebarengan dengan proses pengisian Formulir Rencana Studi (FRS).
“Validasi SKEM tidak harus dilakukan di awal semester saja. Sewaktu-waktu pun bisa,†terang Ir Hasan Ikhwani MSc yang juga hadir dalam seminar bertema mahasiswa aktif berprestasi ini. Hasan menyarankan pada semua mahasiswa yang hadir, begitu mendapat sertifikat atau bukti mengikuti kegiatan agar segera divalidasi pada dosen wali masing-masing.
Pihak panitia yakni Kementerian Kesma BEM ITS menyayangkan karena beberapa undangan dosen wali tidak hadir. Padahal dosen wali juga menjadi sasaran seminar ini. “Sebenarnya kami berharap dosen wali bisa menyamakan persepsi melalui seminar ini,†ujar Sekretaris Kementerian Kesma, Annisa Novita Dewi. Karena, beberapa keluhan yang banyak dialami mahasiswa ITS adalah para dosen wali yang sering menunda pengisian SKEM.
Tak hanya mendengarkan penejlasan dari pemateri saja, dalam seminar ini para peserta diajak praktek langsung mengisi SKEM. Selain itu, kini juga telah diterbitkan buku peraturan SKEM yang dapat diunduh di kemahasiswaan.its.ac.id. (fz/nrf)