Technopreneurship ITS, Antara Kualitas dan Kuantitas

Published on
By

Keberadaan mata kuliah technoprenership di ITS ternyata menuai banyak dukungan dari mahasiswa. Seperti yang diungkapkan oleh Achmad Ferdiansyah, Mahasiswa S2 Teknik Kimia,” Technoprenership sangat cocok diterapkan di ITS. Mahasiswa ITS akan menjadi lebih hebat jika mampu berwirausaha dengan menggabungkan bekal akademik yang telah diperoleh.”

Sebagai mahasiswa teknik tidak berarti harus selalu menjadi engineer. Hal yang senada juga diungkapkan oleh Dega, Mahasiswa Teknik Lingkungan, “Banyak mahasiswa ITS yang mempunyai kemampuan untuk berwirausaha. Kemampuan itu akan semakin hebat jika didukung dengan bekal yang memadai.”

Technoprenership sendiri memberikan dampak positif bagi mahasiswa. Seperti yang diungkapkan oleh Ola, Mahasiswa Teknik Fisika,” Tidak dapat dipungkiri bahwa technoprenership membawa dampak positif. Kreatifitas dan iklim kompetisi mahasiswa dalam menciptakan bisnis entrepreneur berbasis teknologi mulai banyak tumbuh.”

Sayangnya program ini juga masih memiliki banyak kekurangan. Terlihat dalam manajemennya yang belum terorganisir dengan baik. Selain itu, adalah masalah pembimbing yang masih terbatas. Termasuk juga masalah waktu penempuhan mata kuliah.

Dega menyesalkan technoprenership yang diberi jatah di semester akhir. Padahal baiknya technoprenership diletakkan di semester pertengahan. “Technoprenership adalah ajang pelatihan. Jika ditempatkan di akhir maka keinginan untuk menerapkan akan berkurang karena umumnya mahasiswa sudah konsentrasi pada skrisipnya,” terang Dega lebih lanjut.

“Harapan saya ITS akan ada mata kuliah Technoprener I, Technoprener II, yang merupakan lanjutan dari mata kuliah Technoprenership sebelumnya. Bahkan saya harap ITS akan mampu membangun sekolah bisnis manajemen seperti ITB,” ungkap Ferdy.

Harapan yang sama muncul dari Ola, “Bila sekarang ITS sudah dilatahkan dengan PKM maka saya berharap ke depan ITS juga akan dilatahkan dengan kemunculan technoprener-technoprener hebat.”

Technoprenership dari kacamata dosen pun tetap dipandang perlu. Ditemui di Jurusan Matematika ITS, Drs Soeharjoepri Msi mencoba menjelaskan. “Jika kita melihat dari segi kuantitas, peningkatan jumlah mahasiswa yang mencoba untuk berwirausaha sangatlah tinggi ,” ujarnya.  Dia menambahkan bahwa peningkatan tersebut terlihat jelas dari banyaknya jumlah proposal PKMK dan juga business plan yang diajukan mahasiswa saat ini.

“Sayangnya peningkatan tersebut tidak diimbangi dengan kualitas yang baik,” lanjut dosen yang tengah menempuh study S3 ini. Dia melanjutkan bahwa banyak sekali permasalahan yang perlu dibenahi untuk lebih meningkatkan kualitas kewirausahaan itu sendiri.

Menurutnya ada beberapa kondisi yang melatarbelakangi kurang baiknya kualitas kewirausahaan dari mahasiswa ITS. Yang pertama adalah kurangnya daya juang dan kepercayaan diri mahasiswa dalam menghadapi segala permasalahan yang muncul ketika berwirausaha. “Penyakit lima L masih tetap menjangkiti mahasiswa kita, yaitu Letih, Lemas, Lesu dan Lolak-Lolok,” sambungnya. Ia menambahkan bahwa mahasiswa perlu memunculkan daya juangnya untuk membabat penyakit-penyakit tersebut.

Yang kedua adalah kurangnya manajemen keuangan ketika berwirausaha. “Cara menyusun keuangan atau cash flownya masih kacau,” lanjutnya. Dia melanjutkan bahwa apabila perputaran keuangan diatur dengan baik, maka akan baik pula dalam perkembangan bisnisnya.

Soeharjoepri melanjutkan bahwa dari puluhan proposal business plan dan PKMK yang telah mendapat dana, masih sedikit yang benar-benar memperjuangkan bisnisnya.  “Saya paham mungkin banyak kesibukan lain di luar kewirausahaan, namun sebenarnya apabila mereka mau untuk menambah added value dalam dirinya untuk berusaha, maka kesuksesan itu bukanlah mustahil,” ujarnya. Lalu, dia mencontohkan tentang bisnis-bisnis mahasiswa yang mulai sukses seperti Sego Njamoer, HeTric Lamp, dan lainnya. (m5/m11/nrf)

×