Doktor ITS Gagas Instrumen Penilaian Pengelolaan Identitas Visual

Published on
Dr Putri Dwitasari ST MDs saat mejelaskan pengembangan kerangka kerja identitas visual strategis yang menjadi hasil dari penelitiannya untuk disertasi doktornya di ITS
By
Dr Putri Dwitasari ST MDs saat mejelaskan pengembangan kerangka kerja identitas visual strategis yang menjadi hasil dari penelitiannya untuk disertasi doktornya di ITS

Kampus ITS, ITS News – Identitas visual berperan penting dalam mendukung reputasi perguruan tinggi dalam mempertahankan citranya di ruang publik. Menyadari hal tersebut, salah satu lulusan Program Studi Doktor Manajemen Teknologi, Sekolah Interdisipliner Manajemen dan Teknologi (SIMT) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan instrumen penilaian tingkat kematangan pengelolaan identitas visual strategis bagi perguruan tinggi.

Melalui disertasinya, Dr Putri Dwitasari ST MDs merancang sebuah instrumen penilaian guna mengukur sejauh mana perguruan tinggi mampu mengelola identitas visualnya secara strategis dan konsisten. Putri mengaku, gagasan tersebut muncul ketika ia menjabat sebagai Kepala Subunit Citra dan Promosi di Unit Komunikasi Publik (UKP) ITS tahun 2020 – 2021. Kala itu, ia melihat bahwa identitas visual hanya dipandang sebagai estetika dan desain visual. “Sehingga inkonsistensi dalam implementasinya semakin sering terjadi terutama di perguruan tinggi,” tuturnya.

Dosen Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) ITS tersebut menjelaskan, identitas visual merupakan simbol beserta elemen grafis yang dapat mengekspresikan esensi dari sebuah organisasi. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa identitas visual kampus dikelola secara optimal dan tidak semata-mata berpatokan pada Graphic Standard Manual (GSM) lama yang ada. “Sebaiknya ada pembaruan dan evaluasi secara berkala,” ujar Putri.

Dr Putri Dwitasari ST MDs (kanan) ketika melakukan wawancara dengan Kepala Unit Komunikasi Publik (UKP) ITS tahun 2022-2024 Dr Rahmatsyam Lakoro SSn MT

Dalam penelitiannya, Putri mengadopsi pendekatan model Expressiveness Quotient (EQ), yaitu lima dimensi reputasi sebagai dasar evaluasi pengelolaan identitas visual perguruan tinggi. Kelimanya ialah visibility (keterlihatan), distinctiveness (keunikan), transparency (keterbukaan), authenticity (keaslian), dan consistency (konsistensi). Lima dimensi tersebut diintegrasikan dengan model penilaian kematangan (maturity assesment model), yang selanjutnya diformulasikan menjadi alat ukur penilaian kematangan atau maturity assessment identitas visual strategis.

Guna menghasilkan instrumen penilaian yang relevan, alumnus S1 DKV ITS dan S2 Magister Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut melakukan observasi di lima Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) terbaik di Indonesia. Yakni Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), ITB, Universitas Airlangga (Unair), dan ITS yang memiliki peringkat tinggi pada Quacquarelli Symonds World University Rankings (QS WUR), Times Higher Education (THE) dan Webometrics. “Asumsinya, kelima kampus ini memiliki eksistensi yang kuat dalam pengelolaan reputasi dan identitas visual institusi,” ungkapnya.

Dr Putri Dwitasari ST MDs (tengah) usai sidang tertutup ujian disertasi di Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SIMT) ITS

Putri menyampaikan bahwa penelitiannya dilakukan melalui empat tahapan. Mulai dari tahap pertama yaitu visual audit untuk mengidentifikasi identitas visual setiap kampus. Selanjutnya, dilakukan tahap kedua yakni wawancara mendalam kepada pihak pengelola identitas visual dan internal perguruan tinggi. Hasil tahap kesatu dan kedua akan menjadi landasan untuk tahap ketiga, yakni penyusunan instrumen penilaian tingkat kematangan perguruan tinggi dalam mengelola identitas visualnya.

Setelah tahap penyusunan selesai, tahap keempat dilakukan dengan mengaplikasikan instrumen penilaian tersebut kepada perguruan tinggi sebagai dasar evaluasi. Dalam hal ini, sebuah kerangka kerja pengelolaan identitas visual strategis akan dihasilkan melalui empat tahapan tadi. Putri mengungkapkan bahwa proses ini membutuhkan waktu kurang lebih tiga tahun. “Hal ini karena kita harus melaksanakan tahap kesatu dan kedua secara repetitif di setiap perguruan tinggi,” terangnya.

Dr Putri Dwitasari ST MDs (kanan) saat melakukan proses audit dengan pihak internal Universitas Airlangga

Perempuan kelahiran 20 September 1986 ini menambahkan bahwa kerangka kerja pengelolaan identitas visual strategis yang dihasilkan dapat diterapkan pada institusi dengan status apapun untuk meningkatkan pengelolaan identitas visualnya. Instrumen penilaian tersebut dirancang agar fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing institusi, baik negeri maupun swasta. “Saya harap instrumen ini bisa diimplementasikan sebagai bahan evaluasi secara berkala,” harap Putri.

Penelitian yang dituangkan dalam disertasi di bawah bimbingan Ellya Zulaikha ST MSn PhD dan Dr oec HSG Syarifa Hanoum ST MT ini turut mendukung poin ke-9 Sustainable Development Goals (SDGs) tentang industri, inovasi dan infrastruktur. Ke depannya, Putri berencana untuk menyederhanakan instrumen penilaian agar lebih praktis dan fleksibel, sehingga dapat diadopsi oleh lebih banyak institusi. (HUMAS ITS)

 

Reporter: Putu Calista Arthanti Dewi

×