Published on
By

Bukan anak despro namanya kalau tidak dituntut untuk kreatif. Salah satu contohnya adalah komunitas unik bertajuk Toys Community. Komunitas yang didirikan oleh anak-anak jurusan desain produk industri ini terhitung masih baru. Di awali oleh keisengan Hidayatul Akbar dan Danny Dwi Rahmanto mengikuti even Djarum Black Urban Art sekitar akhir 2006. Dalam kompetisi character design sahabat kental ini memutuskan untuk mengikutkan papertoys kreasi mereka.

“Tapi ternyata character design yang dimaksudkan berbentuk dua dimensi bukan tiga dimensi,”jelas Yayak, sapaan akrab Hidayatul Akbar.

Namun dari situlah kedua anak muda ini menjadi semakin tertarik pada papertoys atau mainan kertas. Gong pertama mereka dimulai saat tryout ujian masuk despro bulan Januari lalu. Melihat apresiasi yang cukup besar dari warga despro yang lain, mereka mulai berani untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai penggemar papertoys. Di mulai dengan mengajak serta teman maupun adik kelas, akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan rekruitmen terbuka. Saat itulah resmi berdirinya Toys Community, sekitar awal September 2007.

Ketika ditanya mengapa memilih toys, Yayak menjawab lugas. “Sebenarnya kita udah nyoba berbagai macam mulai mural, grafiti, tapi rasanya kok udah banyak banget yang seperti itu. Kalau toys mungkin masih jarang.”

Di usianya yang masih hijau ini Toys Community ternyata sudah mulai melanglang buana. Dimulai dengan pameran 1001 IDE yang diselenggarakan di SCC, berlanjut ke pameran di UK Petra bulan November lalu  dan selanjutnya Taman Budaya menjadi next destination dalam agenda mereka.

Menurut Yayak sendiri tidak ada kriteria khusus dalam pembuatan papertoys di Toys Community. Masing-masing individu diberikan kebebasan untuk berkreasi . “Yang penting orisinil, jangan asal jiplak aja dari internet,” tambah Blacky, sapaan akrab Danny Dwi Rahmanto. Namun untuk ke depannya mereka berencara membuat rule-rule tersendiri agar pengembangan  papertoys di Toys Community ini lebih terarah.

”Sebenarnya Toys Community nggak hanya mewadahi penggemar papertoys. Namanya juga Toys Community, jadi kita juga concern dengan jenis toys yang lain, seperti boneka dari flanel atau dari clay. Cuma entah mengapa dalam pengembangannya memang papertoys inilah yang paling diminati,” jelas Yayak lagi.

Bicara soal kendala, Yayak dan Blacky mengakui bahwa masalah koordinasi menjadi yang utama. “Kadang kalo nggak disuruh berkarya kebanyakan anggota nggak gerak,” kata Yayak. Mereka juga mengakui bahwa waktu juga menjadi kendala “Karena kita masih ngutamain kuliah, lah. Apalagi tugas despro banyak,” tambah Blacky. Namun sejauh ini mereka dan anggota lainnya masih bisa mengatasi kendala-kendala tersebut. “Biaya juga menjadi masalah, tapi yang penting semuanya ditanggung bareng-bareng,”timpal Blacky lagi sambil tertawa.

Harapan ke depannya Toys Community akan lebih berkembang dan dapat diteruskan oleh adik-adik kelas mereka, mengingat sebagai mahasiswa angkatan 2003 Yayak dan Blacky sudah mendekati tahap tugas akhir. “Semoga jadi lebih maju dan nggak berhenti sampai di sini saja,” pungkas Yayak menutup pembicaraan.

×