ITS News

Jumat, 09 Desember 2022
02 November 2022, 14:11

Fast Fashion Waste, Limbah yang Terlupakan

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Tumpukan limbah fast fashion (Sumber: https://phys.org/)

Kampus ITS, Opini — Munculnya tren mode yang silih berganti tidak lepas dari gaya hidup konsumtif yang berkembang di kalangan masyarakat. Tren tersebut didukung oleh produsen lini mode ternama, berlomba-lomba memproduksi pakaian musiman terbaiknya. Namun, masyarakat masih belum menyadari terkait berbagai jenis limbah yang dihasilkan dari fenomena fast fashion ini telah secara signifikan mencemari bumi kita.

Fenomena fast fashion dapat didefinisikan sebagai produk industri garmen yang ditujukan untuk jangka waktu pemakaian yang singkat. Bukan hanya itu, produk garmen ini diproduksi dalam jumlah yang melimpah dengan waktu relatif cepat. Untuk menekan biaya produksi digunakan bahan berkualitas rendah yang justru berpotensi mencemari lingkungan. 

Sayangnya tidak banyak pihak yang menaruh perhatian pada limbah fast fashion ini. Hal tersebut dibuktikan dengan masih maraknya produk fast fashion yang terbuang dan menjadi limbah. Co-Founder dari Our Reworked World, Annika Rachmat menyampaikan data temuannya, yaitu sebanyak 33 juta ton tekstil yang diproduksi di Indonesia, satu juta ton di antaranya menjadi limbah tekstil.

Dampak yang dihasilkan limbah fast fashion tidak main-main. Dibuktikan dengan data yang diperoleh Direktur Asosiasi Daur Ulang Tekstil Inggris, Alan Wheeler. Ia menyampaikan bahwa industri pakaian telah berkontribusi sebagai penyumbang polusi terbesar kedua di dunia. Ia juga menambahkan bahwa sebanyak 1,2 miliar ton emisi gas rumah kaca dihasilkan oleh industri tekstil di dunia. 

Perbandingan emisi gas rumah kaca poliester dengan Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara (Sumber: World Resources Institute)

Lebih lanjut terkait dampak lingkungan yang dihasilkan oleh limbah tren mode ini telah tampak di depan mata. Salah satu contohnya adalah pencemaran air. Studi yang dilakukan Pusat Riset Oseanografi Institut Pertanian Bogor (IPB) pada bulan Februari lalu, menemukan sebanyak 70 persen bagian tengah Sungai Citarum tercemar mikro plastik, berupa serat benang polyester. Hal tersebut diperkuat dengan keberadaan industri tekstil  di kawasan tersebut. 

Kandungan mikroplastik mengancam kehidupan biota di Daerah Aliran Sungai Citarum. Kerusakan yang terjadi berupa kecacatan hingga kematian ikan dan kerang di Sungai Citarum. Selain itu, penggunaan air Sungai Citarum untuk mandi dan mencuci baju oleh warga sekitar juga berpotensi memunculkan berbagai penyakit.

Ikan mati di Sungai Citarum diakibatkan oleh limbah berbahaya (Sumber: https://news.detik.com/)

Tidak berhenti disitu, kurangnya edukasi masyarakat terkait pemisahan jenis sampah juga turut memperburuk keadaan. Contohnya, perilaku masyarakat yang tidak membuang limbah pakaian pada tempatnya sehingga menyulitkan proses pemilahan sampah yang berujung pada pencemaran lingkungan. 

Berbagai industri garmen ternama yang turut berkontribusi dalam tren fast fashion ini telah melakukan upaya dalam menurunkan jumlah limbah pakaian. Contohnya adalah H&M yang menyediakan tempat daur ulang pakaian bagi pelanggan yang ingin membuang pakaian yang tidak lagi digunakan. 

Selain itu United Nations menyarankan penggunaan bahan eco-friendly untuk menjadi terobosan industri mode ternama sebagai upaya mengurangi limbah tekstil. Selanjutnya, konsumen sebagai subjek utama tren fast fashion dapat berkontribusi dengan mengurangi jumlah pembelian pakaian baru. 

Terakhir, diperlukan sinergi antara produsen garmen dan masyarakat untuk bekerja sama mengurangi jumlah limbah fast fashion. Dapat dimulai dari diri sendiri dengan mengubah gaya hidup konsumtif dan hanya membeli seperlunya. Sedangkan produsen garmen dapat berkontribusi dengan mempertimbangkan jumlah dan bahan dari pakaian yang diproduksi agar tidak berakhir menjadi limbah. (*)

 

Ditulis oleh:
Prasasti Nur Rahmania Ramadani
Mahasiswa Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota
Angkatan 2022
Reporter OJT ITS Online

 

Berita Terkait