ITS News

Minggu, 14 Agustus 2022
28 Mei 2022, 21:05

Mengenal FPSO Belanak, “Pabrik” LPG Terapung Pertama di Dunia

Oleh : itsfer | | Source : ITS Online

FPSO Belanak yang beroperasi di Laut Natuna Selatan

Kampus ITS, ITS News — Floating Production Storage and Offloading (FPSO) adalah fasilitas berupa kapal yang digunakan untuk memproduksi, menyimpan, dan menyalurkan minyak mentah dan gas alam dalam industri offshore mining. Sebagai negara penghasil minyak dan gas alam, Indonesia juga memiliki fasilitas ini, salah satunya adalah FPSO Belanak.

FPSO Belanak adalah fasilitas yang dioperasikan oleh perusahaan energi swasta yakni Medco E&P Indonesia. Mohamad Khadafi, Lead Engineering & Facility Integrity Medco E&P Indonesia mengungkapkan, FPSO Belanak beroperasi di Laut Natuna Selatan Blok B, dekat pesisir Semenanjung Malaysia dan Singapura. “Oleh karena itu, FPSO ini adalah pengekspor utama gas alam ke Malaysia dan Singapura,” jelasnya.

Alumnus Departemen Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini menjelaskan, FPSO Belanak merupakan kapal yang dirancang dan dibuat di galangan kapal dalam negeri,  tepatnya di Batam. Pertama kali beroperasi tahun 2004, FPSO Belanak merupakan pertama di dunia yang memiliki kemampuan untuk mengolah Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Selanjutnya Khadafi menjelaskan, FPSO Belanak dapat memproduksi empat jenis hasil offshore mining, yakni crude oil (minyak mentah), LPG, gas alam, dan Naphta (kondensat). Lanjutnya, ekspor gas FPSO Belanak berkontribusi sekitar 30 persen dari impor gas alam Malaysia dan seluruh impor gas Singapura. “Oleh karena itu, jaringan pipa FPSO Belanak tersambung dari Indonesia ke Malaysia dan Singapura,” terangnya.

Sambungan pipa distribusi FPSO Belanak ke wilayah Indonesia, Malaysia, dan SIngapuraUntuk kebutuhan dalam negeri, semenjak tahun 2004 FPSO Belanak juga berkontribusi sebesar 30 persen untuk kebutuhan LPG Indonesia. Namun, Khadafi mengatakan bahwa pada tahun 2016 produksi LPG FPSO Belanak dicabut sehingga saat ini statusnya tidak menyuplai LPG untuk kebutuhan dalam negeri. “Fasilitas pengolahan LPG tersebut sudah dicabut dan disimpan untuk digunakan di fasilitas produksi lain,” tandas Khadafi.

Imbuhnya, ia kerap menemui pelamar kerja di perusahaannya yang merupakan alumnus ITS, khususnya pada divisi FPSO. Oleh sebab banyaknya pelamar, maka ia pun ditunjuk sebagai penanggung jawab proses seleksi pelamar yang merupakan alumnus ITS. 

Mengakhiri pemaparannya dalam kuliah tamu Himpunan Mahasiswa Teknik Kelautan (Himatekla) bertajuk FPSO Offloading and Facilities Maintenance, Khadafi mengatakan bahwa banyak alumnus ITS yang saat ini terjun dalam industri lepas pantai. Khadafi pun menekankan pentingnya memiliki koneksi dalam dunia kerja. “Saya sendiri selama terjun dalam industri ini mendapatkan pekerjaan dari rekrutmen kolega proyek,” pungkasnya.

 

Reporter: Ferdian Wibowo
Redaktur: Muhammad Miftah Fakhrizal

Berita Terkait