ITS News

Minggu, 02 Oktober 2022
14 Desember 2021, 23:12

Manfaatkan Adsorben Superabsropsi, ITS Atasi Pencemaran Limbah Pewarna

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Penerapan Adsorben Superadsorpsi pada pengolahan limbah pewarna batik oleh tim Abmas ITS bersama pengrajin batik di Desa Klampar, Kabupaten Pamekasan

Pamekasan, ITS News – Limbah pewarna merupakan zat yang sering dijumpai pada industri batik, dimana berpotensi mencemari lingkungan. Meninjau hal tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ciptakan Adsorben Superadsorpsi untuk mengatasi pencemaran limbah pewarna batik di Desa Klampar, Kabupaten Pamekasan.

Ketua tim Abmas, Adi Setyo Purnomo SSi MSc PhD menjelaskan, limbah pewarna tersebut merupakan limbah hasil pencucian batik yang langsung dibuang sehingga dapat mencemari muara sungai pemukiman warga. Selain itu, limbah ini mengandung zat warna sintetik remazol dan naftol yang memiliki sifat racun dan dapat mengancam kesehatan warga maupun hewan ternak. “Dikhawatirkan pula limbah tersebut dapat meresap ke dalam sumur air bersih warga,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Adi menuturkan bahwa bahan adsorben yang dibuat merupakan kombinasi dari silika, zeolite, dan arang aktif. Adsorben ini bekerja melalui ikatan muatan ion pada masing-masing unsur kimia sehingga mempercepat proses dekolorisasi limbah pewarna. “Apabila pewarna bermuatan positif, maka akan terserap pada adsorben bermuatan negatif dan sebaliknya,” ungkapnya. 

Alasan pemilihan bahan-bahan tersebut karena memiliki luas permukaan dan ukuran pori yang besar sehingga mempercepat penyerapan zat pewarna ke dalam adsorben. Adapun keunggulan masing-masing bahan tersebut adalah silika digunakan untuk menyaring lumpur dan bahan pengotor lain, zeolit untuk menyaring dan mengikat komponen logam berat pada zat pewarna sintetik, dan arang aktif untuk menyaring molekul zat pewarna dan mempercepat proses penjernihan air. 

Adapun prinsip adsorpsi limbah pewarna ini diterapkan pada reaktor dekolorisasi. Dalam reaktor ini limbah pewarna akan ditampung dalam tandon berkapasitas 250 liter, kemudian dipompa agar mengalir melalui kolom berisi adsorben secara terus menerus. Nantinya limbah pewarna akan menjadi jernih dalam kurun waktu tiga hari beserta konsentrasi pewarna dalam limbah tersebut menjadi lebih rendah.   

Alat reaktor dekolorisasi dilengkapi dengan adsroben superadsorpsi untuk mengolah limbah pewarna batik

Keberhasilan Abmas yang dilaksanakan sejak September ini tidak terlepas dari peran tiga dosen yaitu Prof Dr Didik Prasetyoko SSi MSc, Hendro Nurhadi Dipl Ing PhD, Muhammad Lukman Hakim ST MT. Serta lima mahasiswa yakni Asranudin, Taufik Rinda Alkas, Alya Awinatul Rohma, Eka Pratiwi Yuniarti, dan Badzlin Nabilah 

Dosen Departemen Kimia ini juga menyampaikan, warga merasa senang dengan adanya solusi dan sosialisasi penanganan limbah tersebut. Sebelumnya, para pengrajin merasa khawatir dengan limbah pewarna batik yang dihasilkan apabila dibuang secara langsung akan berdampak negatif pada perairan dan lahan pertanian

Di akhir wawancara dengan ITS Online, Adi berharap melalui Abmas ini masyarakat desa Klampar semakin teredukasi terkait bahaya limbah zat pewarna sintetik. Selain itu, reaktor dekolorisasi juga digunakan dalam penanganan limbah hasil pencucian batik sehingga dapat menurunkan kontaminasi lingkungan sekitar. “Melalui Abmas ini, dapat mengatasi pencemaran perairan sekitar dan lahan pertanian,” tutupnya. (*)

Reporter : Regy Zaid Zakaria
Redaktur: Fatih Nurul Izzah

Berita Terkait