ITS News

Minggu, 02 Oktober 2022
28 Oktober 2021, 22:10

Mengenal Eloknya Motif Tenun Pua Kumbu

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Wan Juliana Emeih Wahid ketika memaparkan sejarah dari Pua Kumbu saat Guest Lecture Series on Sustainable Development Goals (GLS on SDGs), Selasa (5/10).

Kampus ITS, ITS News – Suku Iban terkenal dengan kain tenunnya, yaitu Pua Kumbu. Kain tenun ini memiliki beragam motif yang indah dan memiliki keterkaitan erat dengan sejarah, adat, dan kepercayaan Suku Iban. Perkenalan lebih lanjut dengan kain yang dianggap suci dan sarat akan makna ini diangkat dalam Guest Lecture Series on Sustainable Development Goals (GLS on SDGs) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Selasa (5/10).

Dosen senior Fakultas Seni dan Desain Universitas Teknologi MARA, Wan Juliana Emeih Wahid menjelaskan, Pua Kumbu merupakan salah satu artefak budaya dari suku asli Iban. Kain ini merupakan warisan budaya berwujud yang dilindungi secara sakral oleh masyarakat Iban, khususnya oleh generasi tua. 

Dijelaskan pula oleh Wan, Pua Kumbu hanya dibuat oleh wanita Suku Iban, suku yang telah lama mendiami wilayah Sarawak, Malaysia, dengan desain motif yang menggambarkan alam sekitar mereka. Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa desain motif Pua Kumbu dikategorikan menjadi lima jenis, yakni flora, fauna, humanoid, abstrak, dan contemporary. “Yang mana setiap kategori memiliki karakteristik khusus masing-masing,” tambahnya.

 

Wan Juliana Emeih Wahid ketika menjelaskan cara membedakan motif buah gelung 6 dan buah gelung 8 pada motif flora dengan menghitung jumlah sudut yang dibuat oleh penenun.

Untuk motif flora, Wan mencontohkan diimplementaskan tanaman paku-pakis pada motif buah gelung, yaitu buah gelung 6 dan buah gelung 8.  Selain paku pakis, motif flora juga dapat dijumpai dalam bentuk bambu maupun daun. Wan juga memberi contoh untuk motif fauna yang umumnya menggambarkan binatang sekitar, seperti ular, buaya, burung, laba-laba, dan lain sebagainya.

Wan menunjukkan, motif yang paling disorot karena memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding motif lainnya adalah motif humanoid. Ia menambahkan keterangan bahwa motif ini hanya bisa dibuat apabila seorang penenun mendapatkan mimpi dari dewa kepercayaan mereka.  Motif ini biasa dipakai ketika diadakan ritual miring. “Ritual ini merupakan ritual yang dipercaya suku Iban dapat menolak malapetaka,” imbuhnya.

Wan Juliana ketika menjelaskan filosofi dan makna dari Pua Kumbu motif abstrak

Sementara pada motif abstrak, Wan menjelaskan pada dasarnya motif ini lebih memuat desain dan warna yang kontemporer. Contohnya pada motif terabai yang terinspirasi dari perisai milik suku Iban yang dulunya dipakai untuk berperang. Motif terakhir yang ditunjukan adalah motif contemporary yang umumnya lebih menonjolkan unsur integrasi dan asimilasi budaya dibanding dengan nilai Pua Kumbu pada aslinya. 

Wan mengungkapkan bahwa setiap motif pada Pua Kumbu terhubung sebagai cerita satu yang tidak semua orang bisa memahaminya.  Ia pun menyampaikan dengan adanya komunitas-komunitas, diharapkan dapat membawa Pua Kumbu lebih dikenal dunia dan terjaga keasliannya dalam jangka waktu yang panjang. “Semoga kalian dapat melihat dan mempelajari Pua Kumbu di masa depan sehingga dapat membaca motif desain,” pesannya pada peserta sekaligus menutup sesi kuliah tamu kali ini. (*)

Reporter : ion30
Redaktur: Fatih Izzah

 

Berita Terkait