ITS News

Sabtu, 01 Oktober 2022
15 Oktober 2021, 08:10

Menjadi Pebisnis Adalah Menjadi Orang Sensitif

Oleh : itsram | | Source : ITS Online

Ilustrasi bisnis (Sumber: https://www.freepik.com/vectors/business).

Kampus ITS, ITS News Banyak orang bermimpi menjadi bos bagi dirinya sendiri atau menjadi pebisnis. Namun, menjadi pebisnis yang sukses bukan satu perkara mudah. Orang-orang yang berambisi menjadi pebisnis dituntut menjadi pribadi yang sensitif. Apa yang dimaksud dengan pribadi yang sensitif dan bagaimana caranya? Simak kiat-kiat dari Hendro Fujiono ST MS PhD yang ia bagikan dalam gelar wicara Hult Prize.

Sensitif pada Masalah di Sekitar
Sebelum memulai perjuangan menjadi pebisnis, seorang calon pebisnis perlu mencari ide bisnisnya. Ide bisnis biasa dimulai dari permasalahan eksisting yang butuh diselesaikan dalam rangka mempermudah hidup manusia. Pada tahap ini, calon pebisnis memerlukan sensitivitas atau kepekaan manusia dalam konteks menemukan permasalahan yang ada di lapangan. Singkatnya, kita harus memiliki kemampuan hypersensing atau kepo.

Hendro Fujiono, Co Founder Fuji Shepherd & Associates membagikan empat hal yang perlu diperhatikan dalam hypersensing masalah di sekitar. Hal pertama adalah mencari sesuatu yang sering dikeluhkan. Sebagai contoh, orang-orang di sekitar sering mengeluhkan tugas sekolah yang terlalu banyak, susahnya mempunyai pacar, atau mungkin penumpukan sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan. Kondisi-kondisi tadi bisa menjadi masukan bagi ide inovasi.

Selain hal yang dikeluhkan, hal kedua yang perlu diperhatikan adalah mencari sesuatu yang sering diakali. Contoh nyata pada kasus ini adalah kebiasaan mengakali antrian karena enggan untuk menunggu. Dari kondisi tersebut, dengan memanfaatkan kemajuan zaman, berkembanglah inovasi belanja daring. “Jika dilihat sekarang belanja daring ini sangat digandrungi dan mendorong banyak sektor untuk beralih ke pemasaran daring,” ungkap pria yang akrab disapa Fuji ini.

Kemudian hal ketiga menurut Fuji adalah mencari sesuatu yang sering dihindari, semisal menghindari macet atau menghindari panas matahari. Kedua masalah tersebut menghasilkan inovasi sistem informasi transportasi real time melalui Google Maps dan produk-produk penutup atau pelindung bagian tubuh dari paparan sinar matahari.

Dan yang terakhir adalah mencari permasalahan yang justru dianggap biasa oleh masyarakat. Melalui empat hal tadi kita bisa menjadi pribadi yang sensitif pada masalah sekitar dan dapat menghasilkan inovasi bagi permasalahan. Setelah berhasil mengidentifikasi permasalahan di sekitar, langkah selanjutnya adalah menguji urgensitas bisnis tersebut melalui beberapa pertanyaan dasar.

Hendro Fujiono menyampaikan kiat-kiat mencari permasalahan untuk ide bisnis pada Webinar Hult Prize.

Sensitif pada Urgensitas Ide Bisnis
Board Member Pondok Inspirasi dan Pemimpin.id ini menjelaskan bahwa tahap pengujian pertama diawali dengan pertanyaan “Who cares?” atau menanyakan pihak mana yang peduli pada permasalahan ini. Pertanyaan ini dapat membantu mengidentifikasi siapa pihak yang terdampak dan seberapa besar dampaknya pada masyarakat.

Pertanyaan kedua adalah “What is the cost or risk of doing nothing?” untuk mendapatkan gambaran dampak permasalahan tersebut apabila tidak diselesaikan. Dan dua pertanyaan terakhir adalah “How do we deal it now” dan “Why now?” untuk mendapatkan gambaran cara penyelesaian masalah dan urgensitasnya jika dilihat dari waktu penyelesaian. 

Fuji menekankan pada calon pebisnis bahwa simplicity is sexy, sehingga penting untuk memulai bisnis dari ide yang spesifik dengan tingkat realisasi yang tinggi. Tak perlu muluk-muluk karena yang paling penting dari bisnis adalah bagaimana inovasi yang ditawarkan dapat menyelesaikan masalah. “Untuk memulainya kita harus menjadi orang yang sensitif,” pesan Puji mengakhiri . (*)

Reporter: Gita Rama Mahardhika
Redaktur: Muhammad Faris Mahardika

Berita Terkait