ITS News

Senin, 20 Mei 2024
01 Mei 2024, 22:05

Kota Dubai Banjir Parah, Beginilah Perspektif Guru Besar ITS

Oleh : itscal | | Source : ITS Online
Mobil terendam banjir di Dubai

Mobil-mobil yang terendam banjir pada salah satu jalanan utama di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) 16 April lalu (Sumber: liputan6.com)

Kampus ITS, ITS News — Curah hujan ekstrem memicu banjir parah yang melanda Kota Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Bencana yang disebut sebagai peristiwa luar biasa oleh pemerintah UEA ini menuai tanda tanya masyarakat awam. Di negara super maju dengan iklim gurun nan gersang, bagaimana peristiwa ini bisa terjadi?

Selain cuaca ekstrem, banyak dugaan terkait faktor lain yakni lemahnya infrastruktur drainase. Profesor Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Ir Eddy Setiadi Soedjono DiplSE MSc PhD, menilai fenomena tersebut sangat jarang terjadi. Mengingat Dubai merupakan kota besar di negara yang maju. “Masih perlu diperiksa apakah ini permasalahan engineering, tata kelola, atau campuran ulah perubahan iklim,” jelas pria yang akrab disapa Eddy ini.

Melanjutkan pernyataan tersebut, Eddy mengungkapkan bahwa faktor yang paling mungkin menjadi penyebab banjir besar ini memanglah isu perubahan iklim. Ia menerangkan, dalam pengelolaan drainase permukiman ada yang disebut dengan banjir dua tahunan, sepuluh tahunan, bahkan seratus tahunan. “Data hujan yang selama ini sampai hujan 50 tahunan bisa datang dua kali lebih cepat dari biasanya karena perubahan iklim,” ulasnya.

Hal itu tercermin di data dari Badan Pusat Meteorologi UEA, di mana curah hujan mencapai 254,8 milimeter ketika banjir terjadi dan merupakan curah hujan tertinggi sejak pencatatan 75 tahun lalu. Bahkan, stasiun lain di Bandara Internasional Dubai menyebutkan curah hujan sebanyak 100 milimeter membasahi Dubai selama 12 jam. Catatan tersebut menyamai curah hujan tahunan Dubai yang berkisar 140-200 milimeter per tahun.

Prof Eddy Setiadi Soedjono

Prof Ir Eddy Setiadi Soedjono DiplSE MSc PhD, Kepala Laboratorium Teknologi Pengolahan Air, Departemen Teknik Lingkungan ITS

Melihat data-data tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa kota modern yang telah mengadopsi berbagai teknologi canggih pun dapat tunduk pada krisis iklim. Eddy mengatakan, isu perubahan iklim dan peristiwa alam yang terjadi di belakangnya sudah menjadi sebuah keniscayaan. “Sama seperti kondisi gelombang panas yang melanda Thailand, intinya perubahan iklim ini memang nyata adanya,” bebernya.

Di samping itu, dugaan lain menyebutkan bahwa aktivitas penyemaian awan adalah faktor lain penyebab banjir. Penyemaian awan merupakan teknologi yang memanipulasi awan sehingga membantu menghasilkan lebih banyak hujan. Aktivitas rekayasa yang telah sejak lama dilakukan ini tidak lain adalah karena krisis air dan kekeringan yang melanda UEA. Namun, pernyataan ini ditangkis sebab tidak ada operasionalisasi penyemaian awan sebelum banjir besar terjadi.

Beranjak dari beragam dugaan penyebab banjir di Dubai, Eddy menyimpulkan bahwa hujan ekstrem akibat perubahan iklim adalah satu alasan yang paling bisa diterima. Kepala Laboratorium Teknologi Pengolahan Air Teknik Lingkungan ITS itu berujar, isu perubahan iklim ini adalah isu global yang tidak akan pernah habis. “Temperatur yang naik dan prediksi beberapa badan pulau akan menghilang dari peta bumi ini sudah ada di depan mata,” lanjutnya.

Dosen kelahiran Bandung tersebut berharap Indonesia bahkan dunia semakin meningkatkan kesadarannya akan isu perubahan iklim ini. Salah satunya, mengefisienkan aset yang dimiliki untuk mengurangi angka nyawa yang hilang karena ketidaksiapan dalam menghadapi bencana. “Selain itu juga dibutuhkan insan-insan yang kaya akan aksi nyata dalam menghadapi perubahan iklim beberapa tahun ke depan,” tutupnya penuh harap. (*)

 

Reporter: Putu Calista Arthanti Dewi
Redaktur: Bima Surya Samudra

Berita Terkait