ITS News

Senin, 26 September 2022
15 Oktober 2021, 09:10

Mengulik Kisah Wisudawan Asing ITS yang Raih Cumlaude

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

(atas) Andres Javier Duarte Ariza, (bawah) Abu Bakarr Momodu Bangura wisudawan asing yang lulus dengan predikat cumlaude

Kampus ITS, ITS News – Ketika dunia mengalami krisis pandemi, untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri bukanlah hal mudah. Mampu melewati tantangan yang ada, pada wisuda Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang ke-124 ini terdapat dua mahasiswa asing yang berhasil menyelesaikan pendidikan program magister dengan meraih predikat cumlaude.

Keduanya adalah Andres Javier Duarte Ariza (S2 Teknik Elektro) asal Kolombia dan Abu Bakarr Momodu Bangura (S2 Teknik Fisika) dari Sierra Leone. Mereka mendapatkan kesempatan emas untuk menempuh perkuliahan di ITS berkat beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). 

Dua mahasiswa asing ini menjelaskan, setelah mengetahui program beasiswa tersebut, mereka pun tertarik sehingga langsung mendaftarkan diri dan mengikuti proses seleksi. Keduanya mengakui memilih ITS dari 16 pilihan universitas, dengan alasan karena kampus pahlawan ini memiliki basis penelitian yang kuat dan cocok untuk pilihan ilmu yang mereka inginkan. Akhirnya mereka berhasil diterima di ITS melalui beasiswa KNB tersebut.

Andres dan Abu Bakarr datang ke Indonesia pada tahun 2018 untuk berkuliah memperdalam ilmu mereka di program magister. Dua pria yang sebelumnya menempuh pendidikan sarjana di negara asal masing-masing ini menceritakan, motivasi mereka untuk bertahan sampai akhir adalah karena ingin mengenal hal baru dan fokus menyelesaikan studi. Akhirnya mereka berdua lulus dengan menyandang predikat pujian. Adapun rinciannya adalah Andres memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,87 sementara Abu Bakarr lulus dengan IPK 3,82.

Andres Javier Duarte Ariza dan Abu Bakarr Momodu Bangura berfoto bersama mahasiswa KNB lainnya

Dalam menjalani kehidupan kampus, Andres dan Abu Bakarr juga sempat mengalami kendala. Keduanya tidak menjalani studi langsung, tetapi butuh waktu satu tahun belajar bahasa Indonesia terlebih dahulu. Bagi Abu Bakarr, terdapat banyak tantangan untuk hidup di Indonesia dari aspek komunikasi dan budaya sampai keadaan iklim Indonesia. “Namun tetap senang dan bersyukur bisa menginjakan kaki di Indonesia,” ungkap Abu Bakarr.

Andres bercerita, bahwa hal yang paling berkesan baginya adalah masyarakat Indonesia. Karena selain mengerjakan tesisnya, ia menyempatkan berkeliling dan mengenal budaya sekitar. Sementara itu, iklim internasionalisasi ITS itu cukup menantang tetapi dapat memberikan banyak dukungan yang mempermudah perkuliahan. “Bimbingan dosen ITS, fasilitas lab-lab yang ada, dan bantuan kawan ITS lainnya memberikan dukungan yang sangat membantu,” jelasnya.

Kepada ITS Online, Andres menyampaikan pesan kepada mahasiswa ITS terutama bagi mereka yang berasal dari luar negeri. Bahwasanya, selama berkuliah harus menikmati dan memanfaatkan hal yang ada sebaik mungkin, karena tidak semua orang bisa kuliah di luar negeri orang. “Dengan begitu mahasiswa dapat memperluas pikiran dan memecahkan tantangan dengan berbagai cara,” ujarnya.

Abu Bakarr juga berpesan bahwa seseorang harus memiliki fokus penuh pada studinya. Apabila mahasiswa mengambil studi dengan tidak serius maka terdapat satu per sepuluh kemungkinan studinya akan gagal. “Jadi sebaiknya berusaha sekuat tenaga dalam studi hingga pada akhirnya akan melihat hasil setiap usaha sendiri yang luar biasa,” pungkasnya. (*)

Reporter : ion 15

Redaktur : Najla Lailin Nikmah

Berita Terkait