ITS News

Minggu, 02 Oktober 2022
03 Oktober 2021, 10:10

Talent Talks Bentuk Wawasan Siap Kerja di Era Digital

Oleh : itsojt | | Source : ITS Online

Direktur Pelaksana Simpul Talenta, Genie Anggita (atas) dan Co-Founder Natuno Lab, Dimas Ryan Harry wibowo (bawah) sebagai narasumber Talent Talks Surabaya

Kampus ITS, ITS News  Guna mempersiapkan generasi unggul yang siap menghadapi dunia kerja, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyelenggarakan Talent Talks Surabaya, Sabtu (11/9). Kegiatan yang merupakan pembuka dari program Peningkatan Kapasitas Mahasiswa Siap Kerja tersebut memberikan wawasan mengenai perkembangan profesi hari ini dan masa depan kepada para peserta.

Sebagai salah satu pembicara pada kegiatan yang dikemas menjadi seminar interaktif daring ini, Genie Anggita mendobrak peserta dengan fakta luasnya ketersediaan lowongan kerja di era digital. Direktur Pelaksana Simpul Talenta tersebut menjelaskan bahwa melamar kerja bukan hanya datang ke kantor untuk memberikan berkas lamaran. Tapi, melamar kerja juga bisa dilakukan dengan menjadikan diri sebagai pengusaha atau freelancer.

Ciri teratas pencari kerja yang dibutuhkan industri masa kini

Perempuan yang akrab disapa Gita ini tak menyangkal bahwa masih banyak lulusan perguruan tinggi yang karir yang mulus. Menurut hasil riset yang ia lakukan pada Divisi Sumber Daya Manusia dari sejumlah perusahaan, pencari kerja ideal memiliki beberapa ciri, di antaranya memahami budaya perusahaan, memiliki jiwa kepemimpinan, bermotivasi tinggi, dapat mengambil keputusan, dan memiliki kemampuan analitis yang baik.

“Yang apabila dilihat, semua ciri pencari kerja ideal itu merupakan soft skill,” tekannya.

Selain memiliki kemampuan yang mumpuni, Gita juga menambahkan bahwa ada karakter yang harus dibentuk oleh para pekerja agar mampu bertahan di dunia kerja saat ini, yakni lincah dan fleksibel sehingga memiliki mental yang bertumbuh. Sebagai contoh, Gita menyebutkan bahwa lulusan arsitektur tidak hanya pintar mendesain bangunan, tapi juga harus bisa mendesain film animasi, program permainan, dan produk digital lainnya.

“Yang terpenting, tetap harus relevan dalam memposisikan diri sesuai minat dan bakat yang dimiliki,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan praktisi desain produk digital, Dimas Ryan Harry Wibowo. Menurut Dimas, ketika terjun ke dunia industri, selain harus memiliki spesialisasi tertentu seseorang juga harus mempelajari bidang lain yang mampu mendukung spesialisasinya. Ia mencontohkan dirinya yang selain fokus pada desain User Interface/ User Experience (UI/UX), ia juga mengasah kemampuan pemrograman dan kemampuan riset.

“Dengan begitu, aku lebih paham cara membuat desain yang relevan untuk dijadikan aplikasi,” terang Dimas.

Karakter yang harus dimiliki untuk bekerja di era digital, khususnya perusahaan rintisan berbasis teknologi

Hidup di lingkup perusahaan rintisan berbasis digital dan teknologi, Dimas juga menekankan pentingnya bekerja secara kolaboratif, transparan, dan proaktif. Selain itu, Dimas juga menyadari mengasah kemampuan menulis ketika menuangkan ide juga merupakan sebuah hal yang penting. “Ketika cara penyampaian ide dapat dimengerti oleh orang lain, maka ide kita baru akan bisa direalisasikan,” tukasnya dengan yakin.

Di akhir penuturan, Gita dan Dimas menginfokan bahwa Talent Talks Surabaya adalah salah satu dari serangkaian acara Talent Talks yang diselenggarakan secara bersamaan di lima kota berbeda. Tujuannya supaya program Matching Fund Kedaireka ini mampu meluaskan informasi seluas-luasnya dengan berfokus pada penguatan potensi daerah masing-masing.

Tentu saja pihaknya berharap Program Peningkatan Kapasitas Mahasiswa Siap Kerja ini menjadi langkah baik dalam meningkatkan kuaitas sumber daya manusia yang unggul melalui kolaborasi antara Talenthub Kementerian Ketenagakerjaan RI, Simpul Talenta, Surabaya Creative Network, serta konsorsium 5 perguruan tinggi: Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Sebelas Maret Solo, Politeknik Banyuwangi, dan Universitas Muhammadiyah Kendari.(*)

Reporter: Difa Khoirunisa

Redaktur: Dzikrur Rohmani Zuhkrufur Rifqi Muwafiqul Hilmi

Berita Terkait