ITS News

Senin, 03 Oktober 2022
12 Agustus 2021, 22:08

Strategi Membangun Desa Wisata Tihingan di Masa Pandemi

Oleh : itsmeg | | Source : ITS Online

Talkshow Eduwisata Merdeka Belajar Desa Tihingan Seri Kedua, kolaborasi antara Desa Tihingan dan Tim KKN Abmas ITS.

Kampus ITS, ITS News – Perlu adanya strategi dan pendekatan tertentu untuk mengembangkan konsep desa wisata di kala pandemi Covid-19. Hal itu juga yang akan diterapkan melalui pengembangan Eduwisata Merdeka Belajar (EMB) Desa Tihingan binaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Melalui Talkshow EMB Desa Tihingan Seri Kedua bertajuk Pengelolaan BUMDes Eduwisata Merdeka Belajar dan Peran Pemuda di Dalamnya, disampaikan bahwa setiap desa perlu mengembangkan potensi yang ada seperti di bidang pertanian, pariwisata, industri, maupun potensi ekonomi lainnya. “Pengembangan potensi lokal ini sesuai dengan komitmen Presiden Joko Widodo terkait peningkatan potensi ekonomi desa,” jelas Fadjar Hutomo ST MMT CFP, pembicara dalam acara ini.

Fadjar, sapaan akrabnya, menerangkan bahwa pengembangan desa wisata ini berada di bawah payung program Sustainable Tourism atau pariwisata berkelanjutan. Hal itu menjadi kunci utama agar kegiatan pariwisata tidak hanya dinikmati ekslusif oleh kalangan pemodal saja. “Pariwisata berkelanjutan harus bisa memajukan masyarakat sekitar, memerhatikan kelestarian alam, serta pelestarian kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Empat aspek ekonomi wisata terbaru, hasil adaptasi di masa pandemi Covid-19.

Pria yang menjabat sebagai Deputi Bidang Industri dan Investasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia ini menjelaskan bahwa terdapat empat aspek ekonomi pariwisata baru yang harus dikembangkan sejak pandemi saat ini. Aspek pertama ialah hygiene atau kebersihan. Hal itu harus menjadi prioritas dan preferensi utama konsumen di saat pandemi. Aspek yang kedua adalah low-touch, yakni mengurangi kontak langsung dengan tujuan untuk menghindari sumber penularan virus Covid-19.

Selanjutnya ialah aspek less-crowd, yaitu mengurangi atau menjauh dari keramaian. Terakhir adalah low-mobility, yang mana di era pandemi masyarakat cenderung mengurangi mobilitas untuk menghindari penularan virus Covid-19. “Hal tersebut merupakan bentuk adaptasi, sehingga kedepannya pariwisata akan lebih personal dan tidak secara massal lagi,” tambahnya.

Belum lama ini, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Tihingan juga sedang berproses untuk mengembangkan konsep desa wisata bersama tim Kuliah Kerja Nyata Pengabdian Masyarakat (KKN Abmas) ITS. Kerja sama ini merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan melahirkan konsep yang dijuluki EMB Desa Tihingan ini. “Ini merupakan ide yang brilian untuk membangun ekosistem pariwisata di Desa Tihingan,” tutur Fadjar menanggapi program ini.

Ia menambahkan bahwa Desa Tihingan sendiri saat ini  memiliki potensi besar dalam hal kemampuan memproduksi gamelan kelas dunia. Desa Tihingan dapat menawarkan keistimewaan melalui pengalaman membuat gamelan kepada wisatawan yang dapat dikemas menjadi suatu produk wisata unggulan desa.

Ia pun berharap dengan adanya program ini bisa menjadi peluang bagi mahasiswa KKN Abmas ITS untuk belajar, meningkatkan kemampuan bernalar, dan mengaplikasikan ilmunya untuk membangun desa wisata yang baik. “Dengan adanya program EMB Desa Tihingan ini, saya harap dapat memajukan masyarakat di Desa Tihingan dan menjawab masalah pengembangan potensi wisata desa-desa lain kedepannya,” pungkasnya.

 

Reporter : Megivareza Putri Hanansyah

Redaktur : Septian Chandra Susanto

Berita Terkait