ITS News

Selasa, 22 Oktober 2019
10 Oktober 2019, 18:10

ITS Berbagi Informasi Peluang Riset di Jerman melalui DAAD

Oleh : itsmis | | Source : www.its.ac.id

Salah satu peserta antusias mengajukan pertanyaan seputar peluang riset di Jerman melalui DAAD

Kampus ITS, ITS News – Besarnya peluang melakukan riset di Jerman sudah selayaknya bisa dimanfaatkan oleh para mahasiswa dan tenaga pendidik (dosen) sebaik mungkin. Untuk itu, ITS melalui Direktorat Hubungan Internasional merasa perlu membagikan informasi mengenai peluang tersebut melalui seminar bertajuk Research Opportunity in Germany yang dilaksanakan di Ruang Sidang Utama, Gedung Rektorat ITS, Kamis (10/10).

Peserta mulai dari mahasiswa tingkat sarjana, master, maupun doktoral mengikuti seminar yang mengupas tuntas peluang riset di Jerman tersebut. Kegiatan yang juga merupakan kolaborasi dengan DAAD ini menghadirkan narasumber Dr rer nat Edwin Setiawan Ssi MSc selaku DAAD Research Ambassador di Surabaya.

Sebagai informasi, DAAD yang merupakan Dinas Pertukaran Akademis Jerman ini adalah organisasi bersama dari institusi pendidikan tinggi dan asosiasi mahasiswa Jerman. Tujuan dari organisasi ini adalah meningkatkan kerjasama akademis di seluruh dunia, terutama melalui pertukaran mahasiswa, akademisi dan ilmuwan.

Dalam paparan materinya, Edwin mengungkapkan bahwa ada lebih dari 1.000 lembaga riset yang ada di Jerman. Ditambah lagi, 65 persen anggaran di negara ini dikucurkan untuk pembiayaan bidang riset. “Jerman dikenal dengan julukan Land of Idea, tanah ide, di mana orang-orang di sana sangat peduli dengan riset ilmu pengetahuan,” ungkap alumnus penerima beasiswa DAAD ini.

Hal ini, menurut Edwin, menunjukkan bahwa Jerman merupakan salah satu negara yang berfokus pada pengembangan riset. Di Jerman sendiri terdapat empat lembaga riset ternama, di antaranya Max Planck Society, Leibniz Association, Helmholtz Association dan Fraunhofer-Gesellschaft.

Keempat lembaga ini memiliki fokus riset yang berbeda. Max Planck Society berfokus pada riset di bidang ilmu alam, ilmu kemasyarakatan serta sastra dan telah didukung oleh 84 lembaga. Institusi ini juga telah memiliki sebanyak 14.036 peneliti dan 4,7 persennya merupakan peneliti dari negara luar.

Sedangkan Leibniz Association berfokus pada pengembangan riset di bidang ilmu alam, teknik lingkungan, ekonomi, ilmu spasial dan sosial humaniora. Leibniz memiliki 91 institusi pendukung dan 9.872 peneliti yang 20 persen di antaranya merupakan peneliti dari negara luar Jerman.

Berbeda dengan kedua lembaga yang tersebut, Helmholtz Association berfokus pada riset di bidang energi, bumi dan lingkungan, kesehatan, serta transportasi. Helmholtz memiliki 18 pusat riset dan 39.193 peneliti yang 7.500 di antaranya adalah peneliti internasional. Yang terakhir adalah Fraunhofer-Gesellschaft yang telah bekerja sama dengan 72 institusi dan memiliki 25.327 peneliti.

Dr rer nat Edwin Setiawan SSi MSc menjelaskan peluang untuk melakukan riset di Jerman

Dikatakan Edwin, mahasiswa jenjang S2 dan S3 memegang peluang terbesar untuk dapat mengikuti program ini. Namun, tak menutup kemungkinan bagi mahasiswa S1 maupun tenaga pendidik untuk dapat ikut serta. ”Peluang terbesar riset yang paling besar di Jerman ada di bidang industri, tapi tak menutup kemungkinan bagi institusi universitas untuk mendapat porsi yang besar juga,” ungkapnya memotivasi.

Secara umum, lanjut Edwin, mahasiswa yang ingin mengikuti program riset ini harus memiliki kontak korespondensi dengan profesor di Jerman dan membuat proposal pengajuan risetnya. Informasi lebih lanjut mengenai program riset ini dapat diakses secara daring di laman resmi DAAD, dan bagi mahasiswa ITS dapat memperoleh informasi melalui ambassador DAAD di kantor Direktorat Hubungan Internasional atau ITS International Office (IO).

Program riset ini dibagi menjadi dua tipe. Pertama, program yang melakukan riset penuh di Jerman. Kedua, mengikuti program sandwich, yaitu menempuh pendidikan di Indonesia dan melakukan praktikum di Jerman.

Di sinilah, kata Edwin, kerap dihadapi tantangan dalam pelaksanaan program riset ini. Yakni negosiasi topik riset antara mahasiswa yang melaksanakan riset dengan profesor yang menjadi kolega dalam pelaksanaannya. “Bagi mahasiswa yang mengikuti program sandwich, maka negosiasi dilakukan antara profesor di institusi universitas asal dan profesor yang ada di Jerman,” papar Edwin lagi.

Terakhir, dengan melihat besarnya peluang melakukan riset ke Jerman melalui program yang dilaksanakan DAAD ini, Edwin berharap akan semakin banyak mahasiswa yang melakukan studi lanjut, internship, dan melaksanakan riset di Jerman. Selain itu, ia juga berharap para dosen dapat mengikuti program riset dan bekerja sama dengan profesor-profesor di Jerman. (ion27/HUMAS ITS)

Para peserta berfoto bersama pemateri seusai seminar berlangsung

Berita Terkait