ITS News

Rabu, 20 November 2019
09 Agustus 2019, 22:08

Saad: Menjadi Penghafal Al-Qur’an Bagaikan Main Game Pakai Cheat

Oleh : itsmia | | Source : -

Ahmad Saad Muayyad (kiri), Mahasiswa Teknik Elektro Angkatan 2017, Juara 3 Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) 30 Juz pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) XIV 2019 di Aceh bersama Muhammad Saihul Basyir (kanan) pelatih cabang hifzil Universitas Indonesia, juara MHQ 30 ASEAN dan Pasifik tahun 2014.

Kampus ITS, ITS News – Tak melulu soal teknologi, kali ini Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil membuktikan kebolehan mahasiswanya dalam bidang keagamaan. Melalui partisipasinya dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) XIV di Aceh, mahasiswa ITS, Ahmad Saad Muayyad secara resmi mengamankan trofi juara ketiga pada cabang Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) 30 Juz Putra, pada Sabtu (3/8).

Tahun ini Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh terpilih menjadi tuan rumah MTQMN ke-16 dengan mengusung tema ‘MTQMN sebagai penguat ukhuwah islamiyah dalam membentuk generasi muda qurani menuju indonesia baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur’. Helatan yang melibatkan lebih dari 2000 peserta dari 197 perguruan tinggi ini diharapkan mampu menciptakan ukhuwah islamiyah yang lebih kuat, serta dapat menjadi sarana dalam membentuk karakter mahasiswa sebagai generasi muda yang selalu berpedoman kepada tuntunan Al-Qur’an.

Dari sekian banyak delegasi yang dikirimkan oleh ITS, Saad adalah satu-satunya delegasi yang berhasil mengamankan posisi juara. Uniknya, segera setelah menyelesaikan penampilannya di final MTQMN XIV, mahasiswa Teknik Elektro ini langsung terbang ke Medan untuk mengikuti seleksi MHQ 30 Juz regional Aceh-Medan dalam rangka perlombaan MHQ se-Asia Tenggara. Sebagai seorang hafiz,  jam terbang Saad memang terbilang tinggi.

Sejak SD, mahasiswa angkatan 2017 ini telah memiliki pegangan hafalan Al Qur’an sebanyak 5 Juz. “Selesai setoran 30 juznya adalah pada saat kelas 3 SMP, dan baru benar-benar mutqin (kuat hafalan) saat kelas 3 SMA,” terangnya.

Ia menuturkan, perjuangannya dalam menghafal Al-Qur’an tak lepas dari dukungan yang diberikan oleh keluarga. Saad mengaku keluarganya memang sangat mencintai Al-Qur’an. Sebagaimana dirinya, kakak dan adik Saad juga telah menyandang gelar hafiz berkat didikan yang baik dari kedua orang tuanya.

Menurut pria kelahiran 1998 ini terdapat dua hal penting dalam menghafal Al-Qur’an, yakni tekad yang kuat, dan istiqamah. “Walaupun sedikit tidak apa-apa, asalkan dilakukan secara kontinu. Jangan pernah berhenti sampai mati,” tegasnya.

Keuntungan Hafiz: Main Game Pakai Cheat

Ahmad Saad Muayyad pada Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Nasional di Tarakan, Kaltara, tahun 2017.

Fans Harry Potter dan Sherlock Holmes ini menjelaskan bahwa ada banyak keuntungan menjadi penghafal Al-Qur’an. “Menjadi hafiz itu bagaikan main game pakai cheat, tinggal jaga dan pertahankan hafalan, maka secara otomatis hidup akan terjaga,” ungkapnya.

Pernyataan ini Ia sampaikan tak lain dan tak bukan berasal dari pengalamannya sendiri. “Saat aku sedang mengulang hafalan dengan banyak, maka kuliahku, organisasiku, dan praktikumku lancar semuanya. Bahkan di tengah kesibukan pun aku masih sempat tidur siang setiap harinya. Belum lagi ditambah aku yang dengan puasnya menonton anime dengan bebas. Waktu luangku sangat berlimpah,” kenangnya.

Hal berbeda justru Saad alami ketika rutinitas menghafalnya tengah kendur. “Namun, apabila sedang tidak mengaji atau mengulang hafalan, jangankan tidur siang, tidur malam saja sering tidak sempat. Ini nyata, pengalamanku,” pungkasnya.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya berhasil meraih peringkat pertama di kelasnya selama 11 tahun berturut-turut. Selain itu, dalam bidang ekstrakulikuler, Saad sering menjuarai olimpiade agama maupun umum. “Alhamdulillah dari kelas dua SD sampai kelas tiga SMA aku selalu meraih ranking satu, dan hampir selalu juara umum. Semuanya tak lain adalah berkat berkah dari hafalan Al-Qur’an,” imbuhnya.

Ahmad Saad Muayyad berhasil membuktikan bahwa pada dasarnya menghafal Al-Qur’an tidak akan mengganggu pembelajaran akademik. Menurutnya, alih-alih mengganggu, menghafal Al-Qur’an justru terbukti meningkatkan kompetensi akademik seseorang. Melalui ceritanya ini, Saad berharap dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk berprestasi tidak hanya pada persoalan dunia namun juga akhirat. (mia/qi)

Kontingen Insitut Teknologi Sepuluh Nopember yang berpartisipasi pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) XIV di Aceh.

Berita Terkait