ITS Media Center

Rabu, 22 Mei 2019
17 April 2019, 17:04

Yosi, Mawapres ITS Peneliti Beton Geopolimer

Oleh : itsyus | | Source : -

Yosi Noviari Wibowo, mahasiswa Departemen Teknik Infrastruktur Sipil angkatan 2016 yang berhasil menjadi juara pertama Mawapres ITS 2019 jenjang Diploma

Kampus ITS, ITS News – Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah berakhir. Adalah Yosi Noviari Wibowo yang berhasil merebut juara pertama Mawapres ITS jenjang Diploma. Mahasiswa yang aktif dalam bidang keilmiahan ini terlibat dalam pengembangan teknologi beton geopolimer bersama kawan-kawannya di Departemen Teknik Infrastruktur Sipil.

Penelitian mengenai beton yang dilakukan oleh Yosi, sapaan akrabnya, telah ia geluti sejak semester keduanya berkuliah di ITS. Ia memulai dengan pengembangan produk beton geopolimer. Kemudian pada semester keempatnya, pada awal tahun 2018, terbentuklah tim penelitian beton geopolimer yang resmi dan dibimbing oleh beberapa dosen Departemen Teknik Infrastruktur Sipil. Hingga saat ini, penelitian tersebut masih berlangsung dan berfokus pada kepraktisan produk penelitian untuk diaplikasikan dalam industri konstruksi.

Penelitian yang dilakukan Yosi membuahkan hasil manis. Tak tanggung-tanggung, namanya sudah tercatat dalam dua jurnal saintifik internasional. Hasil penelitian pertamanya yang terbit dalam jurnal internasional berjudul The Influence Sugarcane Bagasse Ash and Metakaolin on Mechanical Properties Fly Ash Geopolymer Paste, dalam Asian Journal of Applied Sciences Volume 05, Issue 04, Periode Agustus 2017.

Sedangkan penelitian yang berjudul Characterization Alkali-Activated Mortar Made from Fly Ash and Sandblasting terbit dalam International Journal of GEOMATE Volume 17, Issue 60, Periode Agustus 2019. Dalam jurnal internasional yang berbasis di Jepang ini, Ia melibatkan peneliti dari negeri sakura tersebut, yakni Mitsuhiro Shigeishi dari Faculty of Advanced Science and Technology, Kumamoto University.

Selain penelitian, mahasiswa angkatan 2016 ini juga sering mengikuti lomba di bidang ilmiah dan keprofesian di bidang teknik sipil. Ia mengaku tidak pernah berhasil menjadi juara dan hanya berakhir sebagai finalis pada masa awal menjajal dunia perlombaan. “Soalnya saya lebih gampang menuangkan ide dalam bentuk tulisan, tapi agak susah menyampaikannya dalam bentuk lisan,” ungkapnya.

Perlombaan pertama yang berhasil ia juarai adalah Kontes Jembatan Indonesia (KJI) ke-14 yang berlangsung di Makassar. “Alhamdulillah, timku dapat banyak penghargaan, memang sebelumnya sudah banyak sekali persiapannya,” ujarnya.

Bersama timnya, ia berhasil meraih Juara pertama Jembatan Baja, dan memenangkan tiga kategori dalam kontes tersebut. Juara Kategori Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) KJI Baja, Juara Kategori Implementasi Jembatan KJI Baja, serta Juara Kategori Jembatan Terkokoh KJI Baja.

Ditemui ITS Online, mahasiswa yang sehari-hari berkegiatan di Kampus ITS Manyar ini menuturkan bahwa Ia tak memiliki cukup banyak persiapan dalam ajang Mawapres ITS 2019 ini. Pasalnya, Ia salah menduga mengenai persyaratan Mawapres jenjang Diploma yang mengharuskan pesertanya duduk di semester keempat perkuliahan, padahal sebenarnya semester enam. “Awalnya saya membantu mempersiapkan adik-adik tingkat untuk maju sebagai delegasi departemen, tetapi karena aturan terbaru mengharuskan peserta yang maju adalah mahasiswa semester enam, akhirnya justru saya sendiri yang didelegasikan,” ujarnya.

Mahasiswa yang aktif sebagai Ketua Divisi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dalam himpunan mahasiswa departemennya ini menuturkan bahwa dengan diberinya kesempatan untuk maju dalam ajang Mawapres, sama dengan menuntaskan mimpinya saat duduk pada semester awal bangku perkuliahan. “Salah satu tujuanku ikut seleksi mawapres ini adalah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, sekaligus menyeimbangkan antara hard skill dan soft skill,” jelasnya.

Ia juga mengatakan bahwa proses seleksi internal Mawapres oleh Direktorat Kemahasiswaan ITS cukup memakan waktu dan menyita perhatiannya. “Saya harus menghadapi beberapa tugas besar, jadi harus pinter-pinter bagi waktu,” tuturnya.

Mengingat seleksi Mawapres ini meninjau banyak aspek dari kandidatnya, maka Yosi menuturkan bahwa banyak ilmu yang dapat diambil. Ilmu tersebut yang akan menuntunnya mendapat kepercayaan lebih untuk menyalurkan ilmu ke lingkungan sekitar. Berbekal riset dan inovasi yang Ia kembangkan, Ia berharap dapat melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui beton, Ia ingin menjadi bermanfaat bagi orang di sekitarnya. “Prinsip hidup buatku itu khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Karenanya aku berharap kedepannya bisa lebih dipercaya untuk memberi manfaat berupa ilmu, materi, tenaga, maupun keahlian lainnya kepada masyarakat sekitar,” tuturnya. (yus/qi)

Berita Terkait