ITS Media Center

Jumat, 19 Oktober 2018
12 Oktober 2018, 02:10:08

Wujudkan ITS Smart Eco Campus Lewat Pengurangan Emisi Karbon

Oleh : itsmis | | Source : -

Ir Decky Edwin Hindarto selaku pembicara (tengah) berfoto bersama panelis dari Departemen Manajemen Bisnis Fakultas Bisnis dan Manajemen Teknologi (FBMT) ITS serta ITS Smart Eco Campus

Kampus ITS, ITS News – Departemen Manajemen Bisnis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Selasa (9/10) menggelar seminar bertajuk Implementasi Kegiatan Rendah Karbon dan Peluangnya di Indonesia. Bertempat di Auditorium Pascasarjana ITS, seminar tersebut diselenggarakan sebagai wujud keseriusan ITS untuk mengurangi emisi karbon dalam peranannya sebagai institusi pendidikan yang mengusung program Smart Eco Campus.

Dalam penilaian UI Green Metric, tahun ini ITS menempati peringkat ketiga dalam skala nasional. Peringkat tersebut justru turun dari tahun sebelumnya yang berada pada posisi kedua. Untuk memperbaiki peringkat tersebut, ITS mencoba menelisik salah satu indikator dalam penilaian UI Green Metric yang terkait karbon adalah efisiensi energi.

Beberapa sumber yang menghasilkan emisi karbon berasal dari transportasi, sampah, dan penggunaan listrik. Penggunaan energi yang menghasilkan emisi karbon di ITS saat ini masih terbilang cukup besar. Dari perhitungan lalu lintas, pada satu hari kerja, kendaraan baik motor dan mobil yang keluar masuk ITS hampir mencapai angka 34.000. Banyaknya kendaraan ini berbanding lurus dengan jumlah emisi karbon yang ada di ITS. Selain kendaraan, biaya listrik pun tak kalah besar. Setiap tahunnya ITS mengeluarkan dana sebesar tujuh milyar rupiah untuk pembayaran listrik.

Ketua ITS Smart Eco Campus, Dra Dian Saptarini M Sc dalam seminar tersebut menyampaikan bahwa apabila efisiensi energi di ITS terus ditingkatkan, maka perbandingan antara emisi karbon yang dikeluarkan dengan ruang terbuka hijau yang tersedia bisa seimbang. Keberadaan ruang terbuka hijau sangat membantu dalam pengurangan emisi karbon.

Dian menyebutkan ada banyak hal yang bisa dikerjakan secara bersama-sama dalam lingkungan kampus terkait peningkatan efisiensi energi. “Bisa diimbangi dengan penggunaan transportasimasal, pengelolaan sampah, maupun pengelolaan ruang terbuka hijau,” ujar dosen Departemen Biologi tersebut.

Sementara itu, penasihat untuk Joint Crediting Mechanism Implementation Indonesia, Ir Decky Edwin Hindarto yang didapuk sebagai pembicara pada seminar menjelaskan tentang implementasi kegiatan efisiensi energi dan contohnya yang telah diterapkan pada berbagai perusahaan. Menurutnya, mekanisme berbasis pasar dapat menjadi opsi yang baik dalam implementasi kegiatan efisiensi energi dan pengurangan emisi.

Mekanisme pasar tersebut meliputi crediting atau pengurangan emisi dalam bentuk kredit karbon, cap and trade yakni pembatasan emisi dengan memberikan insentif bagi pelaku penurunan emisi dan disentif bagi pelaku peningkatan emisi, serta carbon tax yang merupakan penetapan pajak bagi penghasil gas rumah kaca.

Alumnus Departemen Teknik Fisika tersebut menyampaikan tentang langkah strategis untuk mewujudkan kegiatan rendah karbon. Caranya ialah dengan menetapkan target penurunan emisi, melakukan studi kelayakan termasuk untuk pendanaan, menentukkan prioritas implementasi, mempertimbangkan penggunaan mekanisme pasar, dan melakukan implementasi sesuai dengan rencana. “Implementasi kegiatan rendah karbon di Indonesia dapat tercapai dengan perencanaan yang matang, serta mengakomodasi potensi dan mekanisme yang ada,” pungkas pria kelahiran Malang itu. (jun/jel)

Dra Dian Saptarini MSa selaku Ketua ITS Smart Eco Campus (kanan) saat memaparkan mengenai ITS Smart Eco Campus

Berita Terkait