ITS News

Kamis, 26 November 2020
22 September 2018, 11:09

Dosen ITS Jawab Kontroversi Penggunaan GMO

Oleh : itsmis | | Source : -

Dr Nurul Jadid SSi MSc saat menerangkan tentang GMO

Kampus ITS, ITS News – Genetically Modified Organism (GMO) telah menjadi isu hangat di tengah upaya mengatasi krisis pangan dunia. Pro-kontra terkait dampak penggunaannya masih menjadi perdebatan. Masalah ini pula yang coba diangkat Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melalui diskusi terbuka bersama Dr Nurul Jadid SSi MSc di ruang H-308 Departemen Biologi pada Jumat (21/9).

GMO atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Produk Rekayasa Genetika (PRG) adalah makanan yang dihasilkan dari organisme yang telah diubah DNA-nya melalui rekayasa genetika. Umumnya GMO dilakukan terhadap tanaman yang bisa dikonsumsi sehingga telah menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan pangan.

Salah satu produk dari hasil GMO adalah benih padi yang dapat ditanam saat musim kemarau. Terobosan ini telah menjadi salah satu solusi untuk masalah pangan dalam skala besar. Petani pun bisa menanam padi kapan saja tanpa perlu menunggu musim penghujan. “17 juta petani di 67 negara telah menerapkan GMO sejak 1996. 24 negara diantaranya sebagai produsen sedangkan negara lainnya sebagai pengimpor, termasuk Indonesia,” papar Jadid.

Namun bagaimana pun secara global pemanfaatan GMO masih menimbulkan pro dan kontra. Banyak pihak yang menilai GMO bisa mengganggu keanekaragaman hayati karena akan banyak makhuk hidup baru yang tidak terdata. Selain itu secara kesehatan juga dikhawatirkan bisa menimbulkan alergi bagi konsumen.

Namun Jadid membantah kabar miring tersebut. Pasalnya, produk GMO yang akan dilepas ke masyarakat harus melewati serangkaian tes terlebih dahulu. Indonesia sendiri telah melakukan pengawasan GMO di bawah Kementerian Pertanian serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga produk GMO tetap berada dalam batas aman. “Kita tidak perlu khawatir. Tidak ada efek buruk khusus terhadap makhluk hidup hasil GMO, asalkan melalui prosedur yang tepat dan masih dalam pengawasan instansi terkait,” tutup dosen pakar Biosains dan Rekayasa Tumbuhan tersebut. (ion8/mik)

Berita Terkait