ITS News

Selasa, 16 Agustus 2022
09 Mei 2005, 09:05

Gong Penutup Civil Expo 2005 dengan Ajang Seni

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Jika diikuti sejak opening ceremony, Civil Expo 2005 telah mencoba menunjukkan kekhasan tersendiri. Lihat saja pada ceremonial pelepasan balon pembukaan pada 2 mei lalu, oleh PR III Dr Achmad Jazidie yang diiringi dengan atraksi apik dari tarian barongsay. Belum lagi disusul rangkaian kegiatan Lomba Beton Mutu Tepat, Seminar Nasional keselamatan kerja dan Pelatihan Tender yang sangat kental dengan wawasan keteknik sipilan.

Sedangkan di akhir rangkaian, panitia pun tak lupa memberi sentuhan seni dengan bertajuk Civil on Art yang dihelat di lapangan parkir mobil Teknik Sipil ITS, Minggu malam (8/5). Dikatakan Putri sebagai Penanggung Jawab Civil on Art, panitia Civil Expo 2005 sebenarnya punya keinginan untuk membuat acara musik dalam skala besar namun masih terganjal permasalahan dana. ”Sebenarnya ada keinginan untuk mengadakan acara musik besar-besaran seperti tahun lalu di taman alumni. Tapi di civil expo ini dana banyak diprioritaskan pada Lomba Beton Mutu Tepat yang berskala nasional,” jelas mahasiswi angkatan 2002 ini.

Meskipun bukan acara besar, Civil on Art ini masih memiliki daya tarik tersendiri. Menurut Putri, konsep acara dibuat menjadi sesederhana mungkin dengan mengadopsi Festival Seni Surabaya. Bahkan ada keinginan untuk membuat acara tanpa panggung. ”Karena tidak ada dana untuk panggung, awalnya ingin dibuat tanpa panggung seperti ngamen dijalan. Tapi syukurnya setelah seminar nasional dana pun mengucur, hingga bisa sewa panggung,” kenang Putri.

Dalam Civil on Art dipertunjukkan tontonan seni yang khas dengan Festival Seni Surabaya. Sebut saja Bledhek Sigar dengan musikalisasi puisinya dan Hitam Putih dengan musik jalanannya turut tampil memeriahkan malam. Selain itu juga ada penampilan band-band pendukung lainnya seperti Civil Band, Garden plot Band, goyang Ria Band, The Bastard Badn, Figa Band serta Army Band. Tak kalah seru juga penampilan Teater Mangkok mahasiswa Poltek Perkapalan ITS yang mengundang tawa ratusan penonton yang hadir.

Disisi lain kampus sipil juga tampak layar besar yang menampilkan film-film indie karya mahasiswa ITS. Meriah, dengan demikian Civil on Art dapat dikatakan sebuah gong penutup dari semua rangkaian Civil Expo 2005.

Bledhek Sigar Ajak ITS Kembali pada nilai-nilai kepedulian.

Salah satu suguhan khas yang disajikan di Civil on Art adalah Bledhek Sigar dengan musikalisasi puisinya. Tampil dengan 3 orang personilnya, grup yang khas dengan Festival Seni ini mengajak penonton Civil on Art berhenti sejenak untuk kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan. Dengar saja puisi-puisi yang dilantunkan Embun dikarat peluru, Jalan Mengelupas dan Kota dalam secangkir kopi yang kesemuanya sarat dengan makna sosial.

Saat ditemui ITS Online selepas penampilannya Nuri salah satu personil Bledhek Sigar mengatakan timnya merasa senang tampil dihadapan civitas akademika ITS. Hal itu menurutnya dikarenakan kalangan akademisi yang masih banyak peluang untuk disentuh nilai-nilai kepedulian dalam diri.

Dikatakan Nuri saat ini masyarakat di Indonesia sudah banyak yang teracuni dengan tampilan-tampilan program televisi yang sudah buntu, bombastis dan hanya mengarah pada market. Seperti fenomena AFI yang membuat kita sedih menangis saat salah satu peserta di eleminasi. Padahal jika ditinjau yang di eliminasi lebih beruntung dari kita. ”Tapi saat lihat kejadian Ambon dan Aceh di Televisi, kita hanya melihat sambil minum kopi,” papar Nuri. Untuk itu dikatakan Nuri, Bledhek Sigar berusaha menyentuh sesuatu yang hilang dalam diri seseorang dengan getaran puisi. Dan Ia optimis masyarakat Indonesia masih bisa sembuh.

Sementara itu setelah melihat penampilan Bledhek Sigar, Kajur Teknik Sipil Prof Indra Surya B Mochtar, menyatakan tertarik dan ingin mengundang Bledhek Sigar untuk tampil berinteraksi di kelas. ” Semua itu agar mahasiswa Sipil tidak hanya berpikir tentang ketekniksipilan saja tapi juga segi sosial di mayarakat,” kata Indra yang saat itu juga didampingi sang Istri Prof Noor Endah. (asa/sep)

Berita Terkait