ITS News

Kamis, 30 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Tim Robot ITS Pamitan dengan Walikota Surabaya

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Lima anggota tim dan dua dosen pembimbing serta rektor dan direktur PENS-ITS diterima di ruang kerja walikota. "Saya bangga Surabaya dapat mengirim timnya untuk ikut kontes robot internasional di Korsel. Semoga keikutsertaan Anda di forum internasional itu akan dapat mengharumkan nama Surabaya dan bangsa," kata Bambang D.H.

Ir Gigih Prabowo, salah seorang dosen yang akan mendampingi tim robot ke Korsel melaporkan kepada walikota tentang kesiapan timnya. "Persiapan tim sudah optimal. Kami juga sudah membaca beberapa kelemahan tim lawan dari rekaman yang kami terima. Kini tinggal berlaga dan berdoa semoga tim ini bisa membawa kemenangan," katanya.

Menanggapi laporan itu Walikota Bambang D.H. berpesan untuk tetap menjaga sportivitas di dalam berkompetisi. "Kami berharap tim akan membawa pulang prestasi tertinggi dari kontes robot itu. Pemkot sangat mendukung terhadap prestasi-prestasi semacam ini, karena itu izinkan kami juga ikut berpartisipasi didalamnya. Ini hanya sekedar bagian dari komitmen Pemkot untuk Anda," kata walikota sambil menyodorkan uang saku sebesar Rp 10 juta kepada anggota tim. Dikatakannya, ke depan Pemkot Surabaya akan terus meningkatkan dan memperhatikan bidang dan anggaran pendidikan walau masih belum mewujudkannya di dalam anggaran belanja daerah dalam prosentase 20 persen dari total nilai anggaran. "Kita akan lakukan secara bertahap, dan ini adalah komitmen dari kami," katanya.

Sementara itu Rektor ITS, Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA, mengatakan, setelah diterima dan berpamitan dengan walikota Surabaya, Selasa sore dijadwalkan bakal diterima Mendiknas di Jakarta, dan malam harinya berangkat ke Korsel. "Rangkaian kegiatan menemui atau diterima para pejabat dari tingkat Surabaya hingga Jakarta itu tidak lain untuk meminta doa restu agar di dalam mengikuti kontes robot dapat berhasil," katanya.

Doa restu dari para pejabat dan masyarakat Surabaya maupun Indonesia, kata Nuh amat penting sebagai bekal dan motivasi tim di dalam berlaga pada kontes robot itu. "Karena itu kami juga mohon doa kepada masyarakat untuk keberhasilan tim robot ITS di Korsel nanti. Mereka tidak hanya membawa nama baik ITS, Surabaya, atau Jawa Timur. Tapi membawa nama baik bangsa Indonesia. Melalui ajang ini, jika memang tim ITS dapat keluar sebagai pemenang atau membawa penghargaan yang diperebutkan di sana, akan dapat menunjukkan kepada dunia terhadap komitmen kita di bidang pendidikan," katanya.

Keberhasilan tim robot ITS ke Korsel ditentukan dalam kontes robot Indonesia di Kampus Universitas Indonesia, 10-11 Juli lalu. Saat itu Robot Siffa difinal berhasil menaklukan Robot Wimatek dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dengan skor 19-9. Sebelumnya, tahun 2001, ITS dengan Robot B-Cak-nya berhasil keluar sebagai pemenang dalam kontes robot yang diadakan di Koriyama, Jepang. Tahun ini dengan tema Reunion of Separated Lovers Gyeonwoo and Jiknyeo,yang diusung Robocon Korea, ITS diharapkann akan kembali merebut gelar juara itu.

Optimis Menang
Dr Ir Titon Dutono M.Eng, Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)-ITS merasa yakin mahasiswanya akan pulang dengan menyabet gelar juara. "Ini berdasar hitung-hitungan yang kami lakukan setelah melihat beberapa rekaman dari negara peserta dalam penyisihan. Kami melihat lawan terberat datang dari Tokyo University, Jepang, sementara tuan rumah tidak terlalu tangguh," kata Titon Dutono.

Meski begitu, katanya menambahkan, optimisme itu baru hitung-hitungan di atas kertas, karena ia belum bisa memastikan apakah para lawan yang akan dihadapi itu kemudian telah memperbaiki robotnya dan mengubah strategi bertandingnya. "Ini yang kami tidak bisa pastikan, karena tim robot ITS sendiri juga telah mengubah dan memperbaiki robotnya setelah berhasil menang dalam penyisihan di Jakarta Juli lalu. Karena itu meski optimis bakal menang, kami tetap berdoa dan memohon doa dari masyarakat Indonesia," katanya.

Di Korsel sedikitnya ada 12 negara yang bakal terlibat dalam kontes robot internasional itu. Lawan terberat memang selalu datang dari Jepang. Ini mengingat kontes itu awalnya diselenggarakan di Jepang. Menurut Titon, dari video rekaman yang kami terima memang Jepang lawan yang paling berat, sedang negara lainnya relatif punya kekuatan sama. Malaysia misalnya, juga tidak terlalu istimewa, selain pembimbingnya yang memang berasal dari dosen PENS yang telah mengambil program doktor di sana, keikut sertaannya di dalam kontes robot internasional jauh lebih dahulu ITS.

"Tapi kondisi riil itu bukan berarti kami mengabaikan kemampuan lawan-lawan yang bakal tampil. Kami tetap waspada, karena dalam kontes robot itu yang dinilai adalah capaian yang dihasilkan dalam sebuah permainan. Jadi kalau kami tidak waspada bisa kalah meski persiapannya juga sudah matang," kata Titon.
Optimisme tim robot ITS itu didasarkan pada tim yang mereka bawa. "Kami membawa dua orang dosen pembimbing sebagai pendamping, dimana salah satu dari dua dosen itu, yakni Hasan Henfri, adalah mantan mahasiswa yang pernah meraih medali dengan Robot B-Cak-nya di Jepang tahun 2001. Ini yang mendasari optimisme kalau ITS bakal meraih juara lagi. Tapi sebaiknya kita lihat saja hasilnya nanti. Mudah-mudahan yang kami prediksikan tidak meleset," katanya. (humas/bch)

Berita Terkait